Ganjar Pranowo (kiri), berbincang dengan sederet musisi kenamaan Indonesia, seperti Trie Utami dan Dewa Budjana. Foto: dok/ist

MAGELANG (SUARABARU.ID)– Alunan musik terdengar di Omah Mbudur, yang ada di kompleks Candi Borobudur, Rabu (7/4/2021). Peralatan musik yang digunakan juga cukup beragam dan jarang orang mainkan.

Meski begitu, iramanya tetap merdu serta membuat tubuh tak sadar bergoyang. Semua yang hadir, termasuk Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dibuat takjub dengan pertunjukan yang dibawakan musisi-musisi hebat sekelas Purwatjaraka, Trie Utami, Dewa Budjana dan lainnya itu.

Bertajuk Sound of Borobudur, para musisi Nasional dan lokal berkumpul untuk menghadirkan kembali alat-alat musik tempo dulu, yang terukir di dinding Candi Borobudur. Setelah melalui riset panjang, alat musik yang ada itu berhasil dibuat, berbunyi dan bisa disatukan dalam sebuah orkestrasi.

BACA JUGA: Ganjar Beri Hadiah Laptop Siswa SMPN 1 Mungkid, Apa Alasannya?

”Ini kelanjutan dari proyek kami lima tahun lalu, ketika saya diajak ke sini dan mendapat pengetahuan bahwa relief di Candi Borobudur ternyata menyimpan banyak sekali pengetahuan. Candi Borobudur seperti perpustakaan, yang semuanya ada di sini termasuk seni,” kata Dewa Budjana.

Dari situlah dia bersama Trie Utami tergerak untuk mencoba mereplika alat musik yang ada di relief itu. Setelah terbentuk, dia berusaha untuk membunyikannya, tentu dengan cara dan metode zaman sekarang.

”Itu cukup lama prosesnya, akhirnya dapat komposisi dan kita garap serius. Meskipun kami sadar, terkait bunyi itu intepretasi saat ini, karena peradaban itu tidak mungkin diulang lagi,” jelasnya.

BACA JUGA: Gubernur Jateng Gas Pol Benahi Candi Borobudur, Apa yang Dilakukan?

Kolaborasi Trie Utami dan Dewa Budjana menghasilkan alunan musik yang merdu, dengan menggunakan beberapa alat musik baru. Foto: dok/ist

Dewa menerangkan, ada ratusan alat musik yang tergambar di relief Candi Borobudur. Di antara alat musik itu, juga ada yang bukan dari Jateng, melainkan dari Kalimantan bahkan ada yang dari Thailand atau India.

”Dari situ kami menduga, Borobudur merupakan pusat seni dunia. Atau kalau tidak, di sini merupakan pusat berkumpulnya seniman-seniman dari seluruh dunia, dengan alat-alat musik yang berbeda. Mungkin zaman dulu di sini pernah ada konser besar seluruh dunia,” ungkap dia.

Dengan temuan itu, maka Dewa mendukung pengembangan kawasan Borobudur tidak fokus pada pembangunan fisik. Namun pembangunan juga harus diikuti dengan menggali nilai-nilai historis yang ada di candi itu.

BACA JUGA: Kembangkan Candi Borobudur, Ganjar Konsultasi ke Tanto Mendut, Apa yang Dibahas?

”Apa yang ada di Borobudur itu sangat kaya. Kalau saya masih melihat dari sisi seni saja, tentu orang lain melihat dari dimensi yang berbeda,” terangnya.

Sementara itu Ganjar menyampaikan, Sound of Borobudur merupakan karya seni yang dihasilkan musisi-musisi andal yang tergolong nekat. Purwatjaraka, Trie Utami, Dewa Budjana dan sejumlah seniman sekaligus ilmuan yang meneliti ini, menghasilkan karya yang luar biasa.

”Ini karya luar biasa. Ada beberapa orang nekat, Kang Purwa, Mbak Iik, Mas Dewa mengeksplore Candi Borobudur, dan menemukan alat-alat musik di relief-relief itu. Mereka kemudian berusaha membuat replikanya, menemukan bunyinya dan sekarang jadi komposisi yang luar biasa. Mungkin hipotesisnya benar, bahwa Borobudur adalah pusat musik dunia. Kita ingin mewujudkan itu,” tutur Ganjar.

BACA JUGA: Dianggarkan Rp 5,5 M, Perluasan TPA Tanjungrejo Malah Batal

Ditegaskan pula, pihaknya akan mendukung upaya menjadikan Candi Borobudur sebagai pusat kesenian dunia. Dengan temuan para musisi-musisi itu, dia yakin Sound of Borobudur akan memperkaya dan menambah daya tarik wisatawan manca dan lokal di kawasan ini.

”Ini baru dari sisi seninya, belum arsitektur, lingkungan, habitat, relasi sosial dan lainnya. Menurut saya, ini kesuksesan penemuan kembali peralatan musik di Candi Borobudur dan menunjukkan, candi ini merupakan pusat peradaban yang sebenarnya,” tegasnya.

Untuk itu dirinya sepakat, pengembangan kawasan Candi Borobudur tidak hanya fokus pada pembangunan fisik semata. Orang mungkin akan bosan berkunjung ke Borobudur, kalau yang dijual hanya candi dan bangunan-bangunan lain.

”Ini yang perlu kita angkat, mungkin ke depan tidak perlu membuat hal baru di sini, cukup mewujudkan apa yang ada di relief candi itu, untuk dijadikan sebuah pertunjukan menarik. Tidak menutup kemungkinan, nanti tarian-tarian yang terpahat di relief itu bisa digerakkan di kehidupan nyata. Maka orang yang wisata nanti akan betah, karena akan mendapatkan soul-nya,” papar Ganjar.

Riyan-Sol