Para pemegang peran film Sang Ratu.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Hari Jadi  Jepara ke- 472 yang akan berlangsung 10 April 2021 mendatang akan memiliki warna lain. Sebab di tengah pandemi  yang tidak memungkinkan terjadinya kerumunan, ada kado indah seniman Jepara   untuk masyarakat Jepara. Karya kreatif itu dikemas dalam sebuah film dengan judul Sang Ratu. Film ini berisi kisah perjuangan Ratu Kalinyamat.

Para pendukung film Sang Ratu yang akan diputar pada tanggal 9 April 2021.

Film yang digarap oleh Didin Ardiyansah ini   lebih memilih untuk menonjolkan sisi keberanian dan patriotisme Ratu Kalinyamat. Terutama saat perjuangan melawan Portugis di Malaka, baik atas undangan Sultan Johor maupun Aceh. Naskah film ditulis oleh budayawan kenamaan Iskak Wijaya.

Sutradara film, Didin Ardiyansyah saat memberikan arahan pada pemain.

Menurut Didin Ardiyansyah, film  tentang Ratu Kalinyamat memang sudah banyak.  Karena itu, film ini  mencoba  membuat perbedaan dengan tidak mengexplore konflik dan mitosnya. Kami lebih banyak berbicara tentang nilai-nilai kepahlawanan beliau. ““Kami tidak mengulas konflik Jipang dan Jepara dengan detail. Karena kami tidak mau ada pewarisan dendam masa lalu,” tutur Didin.

Pemilihan lokasi shotiong di pegunungan untuk menggambarkan setting tahun 1549

Kendati waktu pembuatan film ini menurut Didin  relatif pendek, namun teman – teman seniman yang mendukung film ini kompak untuk menghasilkan karya terbaiknya. Apalagi kami sudah terbiasa bekerja dalam  tim kreatif.  “Kali ini film Sang Ratu merupakan buah kolaborasi antara seniman Jepara wilayah utara dan beberapa seninam Jepara wilayah kota,” ujar Didin.

Untuk mendapatkan gambar yang sempurna, Didin memilih secara khusus tempat-tempat di Jepara wilayah utara yang memiliki kekhasan tersendiri seperti di Desa Jinggotan, Dudak Awu, Sumanding, Ujungawatu, Benteng Portugis, Pantai Empu Rancak, dan Pantai Bondo. “Kami sengaja pilih lokasi-lokasi yang alami seperti gunung, hutan, dan laut. Sebab kami ingin menghadirkan setting  tahun 1549,” ” ungkap  Didin

Pengambilan gambar di pedesaan

Film yang melibatkan 70 talen ini menurut Didin sebagai ungkapan rasa cinta  Dewan Kesenian Daerah (DKD) bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) kepada masyarakat Jepara dan sekaligus penghargaan atas peran Ratu Kalinyamat yang sangat besdar dalam perjalanan Jepara. “Bahkan kemudian penobatan beliau ditetapkan menjadi hari Jadi Jepara,” tutur Didin

Sementara itu, Ketua DKD Jepara Kustam Eka Jalu, mengatakan bahwa karya film itu merupakan upaya untuk menyatukan visi memajukan kesenian Jepara bersama-sama. Selain juga sebagai kado bagi Bumi Kartini. “Kami sangat berharap masyarakat bisa meneladani kepahlawanan dan kebijaksanaan Ratu Kalinyamat melalui film ini,” harap Kustam.

Didin Ardiyanshah seniman multi talen yang kali ini menjadi sutradara fil Sang Ratu.

Kustam menambahkan, film “Sang Ratu” ini nantinya akan disiarkan secara live di channel YouTube Jepara Art Culture. Pada tanggal 9 April 2021 pukul 20.00 WIB. Capt: Proses pengambilan gambar film “Sang Ratu” di wilayah Jepara Utara.

Para pendukung film yang melibatkan 70 orang seniman ini terdiri dari penanggungjawab Kustam Eka Jalu, penulis naskah Iskak Wijaya, produser  Indra Dewi A,  director Didin Ardiyansyah asiten director Kriswanto,  director photografy  Ashari, saund director Waulo Lojeng,  art director Nurul Anwar,  editor Ashari,  dan talen coordinator  Nia Veronica.

Sementara seniman yang memagang peran dalam film ini adalah Sianita Arighi,  Indra Dewi,  Dwik Tunggak, Wiwik Handayani,  Brodien,  Nurhan,  Ascarga Japaras,  Imas Murni N,  Wes  Waf, dan Wildan.

Sianita Arighi, S.Kom pemegang peran Ratu Kalinyamat.

Kehormatan perankan Ratu

Sementara pemegang peran Ratu Kalinyamat, Sianita Arighi S.Kom mengaku medapatkan kehormatan dan kesempatan berharga  untuk memerankan tokoh Sang Ratu. “Bersama seniman kami bekerja dalam sebuah tim besar untuk mengexpresikan kecintaan dan rasa hormat kami kepada Kanjeng Ratu Kalinyamat,” ujar sarjana komunikasi ini.

Menurut Sianita Arighi,  Ratu Kalinyamat yang dikenal oleh penulis Portugis sebagai Rainha de Jepara   adalah pemimpin perempuan  yang memiliki peran besar bukan saja di Jepara tetapi juga  dalam menumbuhkan semangat pariotisme  melawan penjajah Postugis.

“Beliau seorang pemimpin perempuan muslim yang  memiliki peran besar dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Pada masanya Jepara menjadi pusat perdagangan Pantai Utara Jawa,” ujar Sianita Arigfi dalam perbincangan khusus dengan SUARABARU,.ID.

Hadepe