blank
Dialog Prime Topic di Hotel Best Western Premiere Solo.

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Kebutuhan pangan utama seperti sembilan bahan pokok (sembako) di Jawa Tengah jelang Ramadhan terbilang masih aman terkendali pasokan ketersediaannya.

Tak hanya itu saja, dari sisi harga, untuk sejumlah komoditi juga masih terjangkau daya beli masyarakat. Kalaupun ada kenaikan, peningkatannya hanya kecil sekali lonjakannya dan masih dibawah harga eceran, itupun hanya untuk beberapa komiditi serta tidak terlalu signifikan.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jateng, Dra. Hj. Sri Marnyuni, dalam acara Prime Topic yang diadakan di Hotel Best Western Premier, Surakarta, Rabu (7/4/2021), mengatakan jelang puasa hingga hari raya Idul Fitri ketersediaan sembako di masyarakat lebih dari cukup.

blank
Dra.Hj.Sri Marnyuni, Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jateng.

“Jateng merupakan daerah penyangga pangan nasional, jadi ketersediaannya lebih dari cukup, baik itu untuk yang pokok ataupun lauk pauk semuanya cukup,” katanya dalam dialog bertema ‘Ketersediaan dan Keterjangkauan Sembako Jelang Ramadhan & Lebaran’ tersebut.

Politisi dari Fraksi PAN tersebut menambahkan, terkait masalah harga, dari pantauan terakhir, Selasa (6/4/2021), terbilang masih terjangkau dan rata-rata masih stabil di tingkat pedagang, serta hanya ada beberapa komoditi yang mengalami kenaikan sedikit.

Adapun beberapa kenaikan harga yang dialami beberapa komoditi pangan di Jateng di antaranya seperti telur, daging ayam, minyak goreng, hingga gula pasir. Itupun kenaikan harganya masih dibawah harga eceran tertinggi (HET).

“Pemerintah dan dewan sudah sedemikian rupa berkoordinasi dengan Dinas Perindag, Pangan, dan Pertanian untuk selalu melakukan pantauan pangan jelang Ramadhan hingga nanti saat hari raya,” katanya.

Wakil rakyat Dapil VII (Surakarta, Klaten, Sukoharjo) ini menekankan agar pemerintah tetap mewaspadai kemungkinan lonjakan kenaikan harga. Karena seperti Ramadhan tahun-tahun lalu, biasanya masyarakat selalu menggelar sadranan, selamatan, dan tradisi Ramadhan lainnya.

“Jelang puasa harga merangkak naik itu wajar, kondisi di masyarakat Jawa kan pastinya banyak menggelar selamatan atau ngoyak sadranan sehingga daya beli masyarakat meningkat. Kalau persediaan banyak maka harga naik, dan dengan pandemi ini pemerintah jauh-jauh hari juga sudah mengantisipasi,” katanya.

Seperti umumnya masyarakat Jawa saat Ramadhan, Sri Marnyuni menjelaskan, setiap keluarga pasti mengusahakan lauk pauk yang enak untuk sahur dan berbuka, menambah konsumsi telur untuk bikin kue, menambah konsumsi gula untuk bikin kolak, sehingga mendorong akan ketersediaan dan memicu kenaikan harga.

Dari kebutuhan konsumsi di masyarakat tersebut berimbas pada upaya bagaimana menjaga ketersediaan komoditi tetap aman dan terjangkau, sehingga berefek pada dibutuhkannya kelancaran distribusi pangan.

Menurut Sri Marnyuni, kalau distribusi (pangan) ini lancar maka ketersediaan pasokan juga bisa dipastikan ada tersedia. Dengan didukung teknologi, setidaknya hal ini menjadi salah satu faktor utama menjaga ketersediaan di Jateng.

“Kalau distribusinya lancar, maka berikutnya adalah penguatan antar daerah, contohnya misal di daerah sana ada (butuh) apa dan di daerah lain ada (butuh) apa maka bisa saling melengkapi sehingga pasokan ketersediaannya akan merata dan harganya merata,” katanya.

Dirinya menegaskan, jelang Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi ini, pemerintah harus memperkuat empat pilar terkait pangan. Yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan terakhir komunikasi yang efektif antar daerah.

“Kami di dewan terkait sembako jelang Ramadhan ini jauh-jauh hari telah mendorong pemerintah melalui dinas terkait untuk menghitung, menganalisis, mengendalikan, serta mengeksekusi kebijakan sehingga harga kebutuhan pokok ini bisa diprediksi,” pungkasnya.

Sementara itu, narasumber lain dialog parlemen tersebut, Kepala Disperindag Provinsi Jateng, Muhammad Arif Sambodo, mengatakan, update ketersediaan sembako di Jateng jelang puasa kali ini untuk posisi harga month-to-month (mtm) kenaikan inflasinya hanya 0,08 persen.

“Kenaikan inflasi yang cuma 0,08 ini artinya sangat terkendali, apalagi adanya inflasi ini sangat dibutuhkan karena dengan inflasi ini menggambarkan pergerakan ekonomi yang sebenarnya terjadi di masyarakat,” katanya.

Menurut Arif, saat ini kenapa inflasi tidak tinggi dikarenakan tingkat permintaan terhadap barang pokok belum terlalu tinggi. Ini artinya permintaan akan barang tersedia masih terkendali dan stoknya pun masih cukup banyak.

blank
Bp.Muhammad Arif Sambodo, Kepala Disperindag Provinsi Jateng.

Dirinya mencontohkan, untuk ketersediaan komoditi beras saat ini pasokan stoknya masih melimpah dikarenakan Jateng masih musim panen. Lalu untuk komoditi cabe, khususnya cabe merah yang beberapa waktu lalu harganya mencapai Rp80 – 100 ribu, kini jadi Rp64 ribu.

“Di beberapa sentra daerah juga sudah mulai panen, ditambah kondisi cuaca sekarang ini sangat bagus. Sekarang stok (sembako) di masyarakat dan di bulog sangat aman, jadi bagi konsumen dan masyarakat dalam menyambut Ramadhan cukup aman,” katanya.

Terkait pengendalian harga, Arif mengatakan, jauh sebelum memasuki bulan Maret-April sejumlah komoditi memang merangkak naik namun masih di bawah harga acuan pemerintah. Tim pantau dari dinas terus mengawasi seluruh pergerakan harga komoditi yang ada setiap hari.

“Sebelum Maret-April komoditi cabe (merah, kriting, ijo) dan telur merangkak naik tapi masih di bawah harga eceran tertinggi. Tapi cabe sekarang cenderung turun, yang naik sekarang telur, daging ayam ras, dan minyak goreng curah rentan naik turun tapi tetap stabil,” katanya.

Menurut Arif, jikapun nantinya ditemukan ada peningkatan harga yang signifikan maka dari dinas akan melakukan tindakan melalui operasi pasar. Terlebih lagi untuk Ramadhan kali ini pihaknya terus melakukan rapat koordinasi dengan seluruh daerah dan dengan pemerintah pusat.

Dari rakor ini, perkembangan disetiap daerah menjadi penting karena bisa terpantau dengan detail kebutuhannya sehingga dari pemerintah pusat ataupun daerah bisa menindaklanjuti bagaimana menyikapi kebutuhan pada saat hari – hari besar keagamaan (HHBK).

“Kita juga melakukan koordinasi dengan tim satuan tugas (satgas) pangan, karena sekira 3 – 4 tahun belakangan lalu kerjasama ini sangat efektif. Apalagi dalam hal menyelesaikan masalah penimbunan pangan bisa jadi terelaborasi,” katanya.

Arif menambahkan, dalam pengendalian harga dan stok komoditi maka penting menjaga agar rantai distribusi tidak terlalu panjang, ketahanannya terjaga, dan terakhir adanya kebijakan dari pemerintah (regulasi) yang mengatur.

“Menentukan harga tetap stabil itu masalahnya sangat kompleks, kita menjaga stok dan menjaga rantai distribusi saja. Lalu bagaimana kok bisa harga naik saat Ramadhan itu dikarenakan siklus psikologi, karena ada harapan (pedagang) kenaikan permintaan,” katanya.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi-Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, mengatakan, kenaikan harga sejumlah barang komodit (sembako) jelang Ramadhan itu merupakan siklus tahunan.

“Berdasarkan riset kami di FEB UMS, 5 tahun belakangan ini ada pola lokal dan nasional soal kenaikan harga tersebut, biasanya memang karena ada faktor ekspetasi (harapan) para pedagang yang berharap saat Ramadhan ada kenaikan permintaan barang,” katanya.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, ada fenomena menumpuk barang disetiap memasuki Ramadhan. Pasar – pasar tradisional di satu bulan jelang Ramadhan biasanya membeli stok barang dalam jumlah banyak.

“Tapi untuk tahun kemarin (2020) ada kekecewaan terkait pandemi,” katanya.

Anton dalam acara dialog tersebut menjelaskan, pemerintah melakukan pemberdayaan melalui Bulog dengan mengeluarkan kebijakan HET, dimana dengan kebijakan HET ini para pedagang tidak berani sembarangan menaikan harga.

Dirinya menjelaskan, saling koordinasi pemerintah melalui dinas – dinas terkait adalah bagaimana untuk mengontrol dan mengendalikan komoditi yang sekarang dilakukan secara periodik terbilang sudah efektif.

Dalam konsep distribusi misalnya, Anton menjelaskan, pemerintah tidak hanya sekedar mengontrol ketersediaan barang tapi juga mengendalikan informasi, mengidentifikasi siapa saja pelaku rantai distribusi pasokan, hingga mengetahui siapa saja menguasai stok pasokan yang ada di pedagang ataupun di bulog.

Terkait bagaimana harga tidak naik, menurutnya setiap komoditi pasti ada pemainnya sendiri – sendiri, termasuk pelaku, distribusi, dan perstokkannya (ketersediaan). Jalan tengahnya, pemerintah membuat Manajemen Rantai Pasokan (MRP) untuk memantau setiap komiditi.

“Yang penting sekarang dijaga informasinya. Siapa yang megang, ada berapa barangnya, dan ada dimana barangnya. Manajemen rantai pasokan (MRP) pemerintah akan mengatur dan memainkan itu. Stok digudang berapa, kondisi jalannya gimana, moda angkutannya ada berapa, berapa yang ada di perantara, yang ada di pedagang berapa, dan seterusnya,” katanya.(Adv)