JC Tukiman Tarunasayoga

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

Gagal dan gagah, ternyata beda tipis saja; jika Anda sukses, wah….gagahlah dirimu, namun jika dikau gagal, yah… “mulih ngarit.”Pertanyaannya ialah, apa pengukur orang gagal ataupun gagah itu?

Pengukurnya hanya satu, yakni hati atau nurani, dapat juga batin. Mengapa hati menjadi pengukur? Karena hati-lah yang “merumuskan” atau memuncaki niat seseorang; sementara kita semua tahu, niat itu hanya ada dua kutub, yakni kutub niat baik dan kutub niat jelek/jahat.

Jika niatmu baik, gagal pun jangan kecut hati; sebaliknya kalau berhasil, nah gagahlah dikau. Sebaliknya, jika niatmu memang jelek/buruk, usahamu berhasil pun,  Anda tidak mungkin akan dapat membusungkan dada penuh kegagahan lepas-bebas, apalagi kalau gagal.

Betapa pentingnya sebuah niat; maka sering disebutkan makna pentingnya apa yang terkandung dalam idiom “niatingsun.” nawaitu:  dengan catatan dalam niatingsun ini, fondasi dan modal utamanya adalah niat baik.

Dalam niatingsun inilah tidak dapat dibenarkan apa yang sering disebut  “menghalalkan segala cara” demi tercapainya tujuan. Dalam kosakata menghalalkan segala cara, pasti ada bahaya (terselubung??) fondasinya niat buruk/jelek. Jangan begitu!

Contoh Konkret

Ati bengkong oleh oncong adalah contoh sangat konkret bagaimana niat buruk itu sangat mungkin sukses (gagah) berhubung cara-cara yang ditempuhnya itu jelas tidak baik, meskipun tujuan yang mau dicapai “baik.” Bengkong itu artinya bengkok, maka ati bengkong berarti niat orang itu bengkok, tidak lurus. Dengan kata lain niatnya jelek, buruk, jahat, dan sejenisnya.

Bacalah oleh seperti Anda mengucapkan “dia menoleh ketika dipanggil-panggil namanya” dan oleh itu artinya mendapati (kan); sementara oncong itu artinya obor, atau juga oncor, suluh. Jadi ati bengkong oleh oncong berarti duwe niat ala, nemu dalan: Orang memang sudah memiliki niat jelek/buruk/jahat, serta merta mendapatkan jalan.

Klop…!! Dan memang dalam pengalaman hidup sehari-hari, niat buruk/jahat/jelek itu justru sering sangat gampang mendapatkan dukungan orang/pihak lain; dan sebaliknya, niat baik itu sering tidak banyak didukung oleh khalayak.

Sangatlah manusiawi kalau kita sering bertanya-tanya (bahkan protes?) mengapa niat baik sering justru mendapati banyak rintangan, bahkan jalan buntu atau kandas di tengah jalan; sementara ati bengkong sering menemui kemudahan, kelancaran atau malahan sukses.

Apa yang terasa sangat manusiawi itu, kalau dirunut lebih mendalam, sebenarnya tidaklah semuanya benar. Ati bengkong bagaimana pun, dan seharusnya, dapat dikalahkan oleh ati lempeng; artinya kita harus yakin bahwa jalan benar akan menghasilkan hasil yang benar dan terberkati. Memang tampaknya sering sulit.

Baca Juga: Vaksinasi Covid-19 Vs “Ngemping Lara, Genjah Pati”

Dalam rangka merayakan Trihari Suci (Paskah), Yudas Iskariot menjadi contoh pribadi yang hidup dengan landasan ati bengkong oleh oncong. Tujuan utamanya ternyata “cari uang,” maka ketika ada jalan,  maksudnya ada peluang  orang “memberinya uang,” yahh… terjadilah apa yang disebutnya “menggadaikan imannya.”

Apa saja dapat terjadi pada diri yang dilandasi oleh ati bengkong itu, termasuk menyerahkan (baca menjual) orang yang selama ini diikutinya, didengarnya, bahkan diimaninya. Tragis memang…

Di atas itu semua, karena pikir itu pelita hati; maka ketika ada orang atau pihak-pihak yang landasan hidupnya pada ati bengkong, patutlah disayangkan karena hatinya tidak diterangi oleh alam-pikirnya.

Hati manusia memang penentu niatnya; namun kalau hatinya tidak pernah dicerahkan oleh pikiran-pikiran positifnya. Ati bengkong sangat besar  kemungkinannya didorong oleh pikiran-pikiran negatif.

Karena itu, berpikir positif jauh lebih baik dari sebaliknya.

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan)