Foto: Cole Stivers from Pixabay

Oleh: Gilang Faijin Aljiaro

ADALAH seorang anak, Nilam Namanya. Ia merupakan satu di antara banyak anak yang tumbuh besar dalam keluarga pegawai negeri. Bapaknya pegawai pemkot, ibunya guru sekolah menengah. Bergaji tetap, memiliki rumah dan mobil, serta tunjangan yang lebih dari cukup untuk sekadar hidup.

Dengan latar belakang ini kemudian orang tua Nilam membuat definisi tunggal, bahwa ukuran Bahagia dan sejahtera adalah, minimal, seperti apa yang dicapainya selama ini. Dengan pandangan semacam itu, orang tua Nilam pun menginginkan anaknya mengikuti jejak sebagai pengabdi negara.

Maka sejak kecil Nilam dipersiapkan untuk menjadi pegawai negeri: menyekolahkannya di sekolah bergengsi, mendaftarkannya ke berbagai kursus dan les privat demi menyiapkan masa depannya menjadi abdi negara.

BACA JUGA: Mbah Sadiman dan Kemajuan

Namun dalam hati kecilnya, Nilam tidak ingin menjadi pegawai. Ia bercita-cita jadi pelukis. Ia gemar mengamati berbagai objek dan mengabadikannya dalam karyanya. Ia ingin bebas, tidak terikat pada jam kerja dan kewajiban lainnya.

Suatu Ketika ia memberanikan diri bilang kepada orang tuanya bahwa ia bercita-cita sebagai seniman, dan tak ingin jadi pegawai negeri. Namun apa yang terjadi? Bapak dan ibunya marah, mereka menganggap bahwa pekerja seni tak memiliki kehidupan yang pasti.

Tak seorang seniman pun yang memiliki kehidupan lebih baik daripada tukang bangunan dimanapun juga. Bapaknya bilang bahwa Nilam tidak akan Bahagia bila bekerja sebagai seorang seniman.

BACA JUGA: Dilema Kebudayaan

Kemudian dengan berbagai nasihat disertai dengan tekanan paksaan, bapaknya meminta Nilam untuk mengikuti kemauannya menjadi pegawai negeri, dengan membuang jauh-jauh impiannya jadi pelukis. Bapaknya pun mengancam bila tidak menuruti perintahnya, Nilam akan dianggap anak durhaka.

Nilam berada dalam dilema antara harus mematuhi kehendak orang tua namun harus mengubur mimpinya, atau menggapai cita-cita dengan konsekuensi mengecewakan bapak ibunya dan harus siap diberi stempel anak durhaka.

Namun benarkah yang demikan itu dapat disebut sebagai durhaka? Dan apakah syarat durhaka itu atau apa sebabnya seorang anak dianggap durhaka? Nilam bukan Malin Kundang, meski bila namanya dieja dari belakang memang demikian.

BACA JUGA: Pintu yang Selalu Terbuka, karena di Desa Memang Begitu

Malin Kundang adalah cerita tentang anak yang setelah jauh mengembara dan menjadi kaya raya, tidak sudi mengakui ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya. Karena kecewa, Ibunya mengutuk si Malin Kundang dan kemudian ia berubah menjadi batu. Itulah potret anak durhaka yang kita kenal.

Namun yang dilakukan Nilam adalah persoalan lain. Ia hanya mencoba meraih mimpinya menjadi seniman. Orang bebas yang mengekspresikan hasrat dan kehidupannya dalam goresan-warna cat air pada kanvas putih.

Apakah salah? Mengapa letak kesalahan hanya tertuju pada anak yang bahkan tidak bisa memilih untuk lahir dari keluarga yang mana? Dan apakah orang tua serta merta memiliki hak untuk menentukan masa depan anaknya? Yang bila anaknya tidak menurut, maka si anak dianggap sebagai durhaka.

BACA JUGA: Belajar dari Angin

Mungkin, bapak dan ibu Nilam menganggap apa yang dilakukannya adalah demi kebaikan Nilam. Mereka juga menganggap bahwa, itu adalah kewajiban orang tua untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Padahal, sebenarnya ada perbedaan yang nyata antara kebutuhan dan keinginan.

Inilah yang seringkali dilupakan dalam hubungan itu. Memang benar ketika orang tua membesarkan anaknya, yang perlu diutamakan untuk dipenuhi adalah kebutuhan, bukan keinginannya.

Hal yang sama pun berlaku sebaliknya, anak seyogianya mengutamakan kebutuhan orang tua daripada keinginannya. Namun dalam konteks ini, mengharapkan anak menjadi pegawai negeri bukan merupakan kebutuhan seorang anak. Itu adalah keinginan orang tua yang mengharapkan anaknya memiliki kehidupan yang sejahtera.

BACA JUGA: Euforia Mobil Kaget di Tuban

Apa itu salah? Tidak. Yang salah adalah memaksa anak mengikuti setiap keinginan orang tua yang bahkan tidak pernah bertanya pada anaknya, ingin jadi apa. Hanya karena seorang anak lahir darinya, tidak serta merta mereka harus mengikuti setiap kata dan keinginannya. Orang tua tidak memiliki hak merumuskan masa depan seorang anak.

Kahlil Gibran dalam karya Masterpiece-nya, The Prophet, menulis:
Your children are not your children
They are the sons of and daughter of Life’s longing for itself
They come through you but not from you
And though they are with you yet they belong not to you
You may give them your love but not your thoughts, for they have their own thoughts
You may house their bodies but not their souls, for their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dream
You may strive to be like them, but seek not to make them like you
For life goes not backward nor tarries with yesterday
You are the bows from which your children as living arrows are sent forth

Dari sajak ini semestinya kita memetik pelajaran: hal terpenting yang seringkali tidak di hiraukan orang tua adalah, bahwa anak bukanlah barang miliknya, anak-anak berhak menentukan pilihan nasib dan mimpinya sendiri. Mereka berhak mendapat kasih sayang, bukannya pemaksaan bentuk pikiran dan pemenuhan Hasrat orang tuanya. Sebab tiap anak memiliki bakat dan keistimewaannya sendiri.

BACA JUGA: Penyintas yang Tertindas, Sebuah Perenungan Seorang Penyintas Covid-19

Kewajiban orang tua adalah merawat anaknya dengan baik, bukan mencampuri dan bahkan mengintervensi mimpi dan cita-citanya. Kesalahan terbesar orang tua adalah berusaha membentuk anak agar menyerupai mereka.

Padahal jarak antara zaman mereka sangat berbeda satu sama lain, dan tiap anak memiliki kehidupan dan zaman yang didalamnya terdapat jurang perbedaan yang teramat jauh.

Kembali ke cerita Nilam, apa yang terjadi seandainya ia mengikuti kehendak orang tuanya, dan katakanlah, di kemudian hari ia menjadi pegawai negeri, apakah ia akan Bahagia?

BACA JUGA: Pendidikan Jalan Ketiga

Tidak. Karena ia bukan hidup sebagai dirinya sendiri. Ia hidup dalam bayang-bayang orang tuanya. Ia hanya menjadi orang yang karena takut mengecewakan orang tuanya, mengubur dalam-dalam mimpi dan jati dirinya.

Namun kisah ini hanya satu di antara banyak kisah. Di luar sana banyak Nilam-Nilam lain, yang menggantungkan impian dan cita-citanya demi patuh kepada orang tua.

They come through you but not from you…And though they are with you yet they belong not to you…” demikian Kahlil Gibran menulis sajak.

-Gilang Faijin Aljiaro, Mahasiswa S1 Filsafat UGM (Semester 4)-