blank
Pengurus AGPAII Kabupaten Wonosobo ketika melakukan audiensi dengan Bupati Afif Nurhidayat. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat meminta guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah negeri maupun swasta bisa menjadi garda terdepan guna menangkal pemikiran radikal dan pemicu aksi terorisme yang berkembang di masyarakat.

“Peningkatan mutu pengajaran PAI di sekolah perlu dikawal dengan sistematis agar terhindar dari pemikiran radikal dan aksi terorisme. Toleransi dan moderasi beragama perlu disampaikan dengan tepat dari tingkat TK, SD, SMP, SMA dan SMK,” katanya.

Afif Nurhidayat mengatakan hal itu, ketika menerima audiensi Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Kabupaten Wonosobo di Pendopo Bupati setempat. Turut mendampingi Afif, Wakil Bupati Wonosobo Muhammad Albar.

Hadir pula dalam audiensi tersebut Sekda One Andang Wardoyo, Kepala Disdikpora M Kristijadi, Plt Kabag Kesra Setda Nur Wahid, Kasi PAIS Kemenag, Kasubag Bintal Kesra Setda dan Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Disdikpora Wonosobo.

Bupati Afif menyambut gembira atas inisiatif silaturahmi DPD AGPAII Kabupaten Wonosobo. Semoga audiensi tersebut dapat mempererat bekerjasama dengan Pemkab Wonosobo guna mensejahterakan rakyat melalui jalur pendidikan.

“Peran guru PAI di sekolah sangat strategis untuk memberi pemahaman pada siswa bahwa agama (Islam) membawa ajaran rahmatan lil alamin. Bukan mengajarkan paham atau pemikiran radikal yang memicu gerakan terorisme di masyarakat. Menjadi arus utama dalam membentuk masyarakat yang religius,” tegasnya.

Menyinggung kekurangan guru PAI di sekolah, Afif menyebut, dapat dicukupi dengan formasi PPPK yang akan di alokasikan oleh Kementerian Agama. Dari formasi penerimaan PPPK untuk GPAI sebanyak 27.000, diharapkan Wonosobo mendapat kuota yang proporsional.

Moderasi Agama

blank
Pengurus AGPAII Kabupaten Wonosobo foto bersama usai melakukan audiensi dengan Bupati Afif Nurhidayat. Foto : SB/Muharno Zarka

“Kerjasama untuk memajukan daerah yang religius harus selalu dikoordinasikan antara dinas terkait, yakni Disdikpora, Kementerian Agama dan Bagian Kesra Setda Wonosobo. Sehingga upaya mewujudkan semangat religiusitas di Kota Santri ini akan mudah tercapai,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Muhammad Albar menambahkan dalam upaya meningkatkan moderasi beragama di sekolah, GPAI harus mengembangkan pemikiran yang tasamuh, ta’adul dan tawazun. Disamping prestasi dan ketrampilan siswa dalam bidang agama Islam

“Rohis di sekolah harus dibina untuk lebih moderat. Kehadiran GPAI di sekolah sangat berperan untuk pembinaan karakter siswa dan pengamalan religius. Pengakuan prestasi pada bidang agama siswa juga harus sejajar sebagaimana prestasi akademik dan non akademik,” pintanya.

Ketua DPD AGPAII Wonosobo, Aziz Safarudin, Sabtu (3/4), menjelaskan AGPAII lahir bulan Maret 2007 atas kesepakatan KKG PAI SD, MGMP PAI SMP, MGMP PAI SMA/SMK. Pada tanggal 25-27 Agustus 2007 Kongres AGAII I yang bertempat di SLB Pembina Jakarta, menghasilkan kepengurusan AGPAII.

“Konferensi AGPAII 2 tanggal 1-3 Maret 2012 di Pakanbaru, Riau
menghasilkan AD/ART AGPAII. Konggres ke-III tanggal 1-3 Desember 2017 mengangkat tema “Memantapkan Keberagaman, Merawat Keberagamaan untuk Kejayaan NKRI”. Terus, tanggal 27 Maret 2021 DPP AGPAII dalam rangka Harlah AGPAII ke -14 mengadakan Mukernas “AGPAII SUMMIT” di Jakarta,” bebernya.

Menurut Aziz, AGPAII mendukung pembelajaran PAI di sekolah melakukan infrastruktur digital dengan meluncurkan KTA digital AGPAII yang telah diikuti oleh 103.000 GPAI seluruh Indonesia. Jawa Tengah ada 19.088 anggota dan Wonosobo terdapat 526 anggota AGPAII.

“Juga mendorong infrastruktur pembelajaran PAI berbasis Islam rahmatan lil alamin. Seperti, melakukan program implementasi preventing violent of ekstrimisme bersama The Wahid Fundation dan penguatan Rohis SMA dengan menerbitkan buku saku pembinaan Rohis. Melakukan gerakan guru pelopor moderasi di sekolah,” pungkasnya.

Muharno Zarka