Ilustrasi

SAAT berbicara pada sebuah workshop dengan peserta kalangan terapis, saya mengatakan, dalam kondisi tertentu, terapis itu termasuk profesi yang boleh membohongi klien atau pasiennya. Tentu dengan catatan! Yang dilakukan itu bertujuan untuk kebaikan kliennya.

Pendapat itu mengacu kitab Ihya’ Ulumuddin tentang pasangan suami istri yang sudah menikah empat tahun dan belum dikaruniai anak.  Karena itu, mereka mendatangi tabib untuk mengetahui kondisi  kesehatan istrinya.

Tabib itu kemudian memeriksa denyut nadi pasiennya dan setelah itu berkata, “Maaf, saya tak mampu menyembuhkan penyakit yang menyebabkan kemandulan ini, bahkan saya mendeteksi ada penyakit ganas, dan biasanya pasien dengan gejala ini akan meninggal dalam waktu 40 hari.”

Mendengar berita itu, pasien dan suaminya lalu pulang. Sejak itu sang istri  bersedih hingga nafsu makannya drop. Makanan yang disediakan pun hanya sedikit yang dimakan. Namun, ketika masuk hari ke-40, apa yang dikatakan Tabib tentang datangnya kematian itu tidak terbukti.

Suaminya gembira lalu mengajak istrinya menemui tabib. Saat bertemu Tabib, dia berkata, “Ini sudah lewat 40 hari. Istri saya masih hidup, Anda berbohong.” Jawab Tabib, “Ya saya sengaja berbohong. Dan, sekarang istrimu telah subur.”

“Tahukah kamu, istrimu kemarin terlalu gemuk dan itu mempengaruhi kesuburan rahimnya. Satu-satunya cara yang dapat menjauhkan dari makanan adaalah rasa takut akan kematian, dan kini istrimu sudah subur.”

Mereka lalu pulang dengan gembira. Dan pada tahun berikutnya, istrinya sudah memiliki anak. Kesimpulannya? Dalam kondisi tertentu,  terapis itu diperbolehkan berbohong, tentunya jika kebohongan itu dilakukan disertai niat baik bagi pasiennya.

Harta Karun

Masih tentang “menipu” untuk kebajikan, awal tahun 1995 pertama kali buku saya terbit, saya dihubungi pembaca buku dari luar kota melalui telepon. Dia mengaku kerabatnya punya hobi memburu harta karun. Dan untuk perburuan itu menyebabkan sebagian hartanya terjual, dan dia minta saya untuk menasihatinya.

Berdasarkan pengalaman, menghadapi orang yang terbuai khayalan harta karun dan “barang antik” itu, nasihat macam apapun,  sulit masuk telinga dan hatinya. Kata sesepuh, hati mereka itu sudah dikeloni (dikuasai) iblis. Dan yang bisa menghentikan khayalannya itu jika dia sudah tidak punya apa-apa untuk mimbiayai perburuannya.

Berkomunikasi dengan orang macam itu perlu pendekatan khusus. Mereka sudah tidak mempan dinasehati tentang halal-haram, baik-buruk. Dan jangan pula ide-ide mereka dipatahkan melalui adu argumen, karena ide mereka sulit dibelokkan. Semakin ditentang, semakin menguat!

Cara menghadapi orang dengan suasana batin keruh macam itu, tunjukkan kepada mereka keajaiban diluar jangkauan logikanya yang dapat dilihat dengan matanya langsung. Dan yang sering saya lakukan pada mereka adalah trik ilusi yang dikemas seolah magis.

Misalnya, walau belum saling kenal, dengan trik tertentu, saya mampu mengetahui nama simbah, kakek dan bahkan buyut mereka yang sudah meninggal. Nah, ketika mereka mulai terkesima, nasihat lebih mudah masuk. Karena titik lemah mereka itu ada pada hal-hal yang dianggap keajaiban.

Bersiasat Hari

Bersiasat itu terkadang diperlukan. Tahun 90-an, tetangga desa saya – asal luar Jawa- mau menikah dengan gadis Jawa. Oleh calon mertua, dia ditanya hari kelahirannya. Karena di tanah kelahirannya tidak ada tradisi “hari – pasaran” dan data yang terdapat dalam KTP juga meragukan, dia lalu diskusi dengan saya.

Karena kenal calon mertuanya, mudah sekali mendapatkan data anaknya. Saya main ke rumahnya, dan tuan rumah saya tanya rencana pernikahan anaknya. Berlagak mencarikan hari baik, saya berhasil mendapatkan data hari kelahiran anaknya.

Pasaran Wage dan Pahing jika menikah diyakin sering ribut karena unsur api, dan rezeki pun sulit. Pasangan Kamis dengan Sabtu sulit rezeki karena unsur angin dan bumi. Tapi semua itu bisa dinetralkan dengan doa. Nabi SAW Bersabda : “Tidak ada yang dapat menolak takdir Allah selain doa. (HR Tirmidzi).

Tuhan menciptakan kodrat namun manusia juga diberi kuasa wiradat (doa). Karena itu  di Jawa ada acara selametan, modin memimpin doa  “Semoga pengantin dijauhkan dari balak musibah, terhindar dari bahaya, penyakit, dsb. Yang disebut Wiradat itu panyuwun atau “negosiasi” hamba kepada Tuhan.

Misalnya, walau ditakdir ada musibah, karena berdoa dan syukuran,  maka musibah itu menyingkir, atau ada tapi kecil. Dalam hadist qudsi,  Rahmat-Ku mengalahkan azab-Ku, jika orang itu beristighfar dan salawat. Nabi SAW bersabda, “Doa memberikan manfaat terhadap apa yang telah dan yang belum terjadi. Maka hendaklah kalian berdoa”.

Tentang hari baik, ”Jumat itu disebut sayyidul ayyam (pemimpin semua hari). Karena  keistimewaannya, para ulama menganjurkan akad nikah pada hari Jumah. Selain hari, bisa juga pilih tangal (serba tujuh atau pitu) : 7, 17, dan 27 Hijriyah. “Siapa tahu nanti dapat pertolongan dan pituduh (hidayah) dari-Nya”.

Namun, puncak dari segala rumus itu muaranya pada keyakinan. Sahabat saya ada yang menikah 4 November 2012. Tanggal itu dipilih tanggal muda dan hari Minggu. Padahal, saat itu  disebut “Jati Ngarang” atau pas meninggalnya orang tuanya yang layak dihindari melakukan pernikahan. Dan hingga kini keluarga mereka nyaman-nyaman saja.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati