blank
ilustrasi

Budaya dan Agama

Golden rule, aturan emas atau etika timbal balik adalah suatu aturan yang diajarkan semua budaya dan agama. Menurut  Buddha: Jangan perlakukan orang lain dengan cara yang kamu sendiri menganggap itu menyakitkan Versi Hindu: Jangan berbuat kepada orang lain apa yang akan menyakitkan jika itu dilakukan kepadamu.

Konsep itu mirip Yahudi, yaitu apa yang kamu benci, jangan lakukan itu pada saudaramu. Dan menurut ajaran Kristen, segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Menurut Islam, “Tidaklah beriman seseorang dari kalian hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai,  atau : “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (Al-Isra’ : 7).

Tabungan Perilaku

Kesimpulannya, dalam kehidupan ini berlaku seperti yang tertulis dalam ajaran yang dikenalkan semua agama maupun budaya. Golden rule itu dalam istilah Jawa bisa disebut ngundhuh wohing pakarti, yang artinya memanen buah perilaku terhadap orang lain atau bagi diri sendiri.

Pelajaran hidup itu bisa didapat dari mana saja, dan apapun yang sering kita lakukan itu bisa menimbulkan gerak refleks. Tentang “karma dunia”, tahun 1979, tiga minggu saya opname di rumah sakit dan satu kamar dengan pasien yang kemudian meninggal.

Saya melihat saat pasien itu menghadapi sakaratul maut, ketika keluarga menuntunnya untuk berzikir kalimah  “Allah” dan kalimat tauhid, “Laa ilaha illallah” yang keluar dari lisannya justru kalimat : “Sapiku, randhuku, wedhusku.”

Kenapa bisa begitu? Itu karena dalam kondisi sakaratul maut, memori manusia menguat terhadap hal-hal yang dicintai atau yang paling dominan digelutinya, dan itu menimbulkan reflek. Maka, mereka yang dalam kesehariannya terbiasa  zikir, insya Allah dalam kondisi kritis pun refleks berzikir.

Sedangkan mereka yang hatinya lebih melekat pada sapinya, maka sapi itu pula yang diingat dan disebut-sebutnya. Karena itu, apa yang sering kita ucapkan dan kita lakukan, refleksnya akan lebih menguat pada masa kritis. Apa yang dominan dalam hati, itu pula yang refleks diucapkan, seperti:  Sapiku, sawahku, jagoku, partaiku, cagubku, capresku, dan Nama Tuhan pun bisa terlupakan.”

Tentunya, tidak semua benih (kebajikan) yang kita tebar itu pasti tumbuh menjadi “tujuh tangkai 100 biji” karena Tuhan juga menciptakan wereng (hama) berupa perilaku negatif yang bisa menghapus amal kebajikan.

Rahasia Amal Rahasia

Abu Bakar pernah bertanya pada Aisah, istri Nabi Muhammad SAW tentang amalan Nabi yang belum diketahuinya. Aisah menjelaskan,  Nabi sering menyuapi makanan kepada janda buta yang tidak seiman dengan Nabi. Ini yang kemudian mengilhami Sayyidina Ali dengan nasihat indahnya, “Mereka yang tidak seiman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

Nabi Ibrahim AS pernah menolak tamu karena dia Majusi (penyembah api). Sesaat kemudian Allah berfirman: “Aku diingkari sepanjang umur orang itu, namun Aku tetap memberinya nafas, rezeki, dan segala kebutuhannya. Kenapa engkau tidak meniru sifat-sifat-Ku?”

Nelson Mandela, saat di penjara pernah digantung dengan posisi kepala di bawah, dan  saat haus  dikencingi sipir. Setelah keluar dari penjara dan jadi Presiden Afrika Selatan, orang yang pertama dicari adalah pegawai penjara. Dikiranya mau balas dendam, namun dia memaafkan sipir itu.

Dalam kehidupan, terkadang sengaja atau tidak, kita telah melakukan kebajikan. Misalnya, tanah, halaman, teras atau jalan setapak  dimanfaatkan warga, atau yang secara sengaja menyiapkan air dalam kendi dan diletakkan di depan rumah atau pinggir jalan.

Sedekah sirri adalah pemberian yang antara pemberi dan penerima  tidak melakukan serah terima langsung. Ini dilakukan untuk  berlatih menjaga ketulusan. Namun, sedekah terbuka pun diperbolehkan, jika dengan niat memberi contoh agar orang lain melakukan hal yang sama. Karena hidayah (petunjuk) itu bisa masuk melalui perantaraan mata dan telinga.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati