blank
Astana Hinggil Mantingan, tempat Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin di makamkan.

JEPARA (SUARABARU.ID)- Sisa-sisa reruntuhan keraton Ratu Kalinyamat di desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara memang sudah tidak bisa kita temui lagi. Bahkan sisa batu-bata ataupun peninggalan Sang Ratupun seolah hilang ditelan bumi. Namun, masyarakat Jepara meyakini bahwa di Desa Kriyan, Desa Margoyoso, Desa Robayan hingga Desa Bakalan itulah luas dari Keraton Ratu Kalinyamat. Keraton yang terletak diantara Jalan Raya Jepara-Kudus.

blank
Watu Gilang, diduga peninggalan masa Ratu Kalinyamat. (Foto: Gus Muhammad)

Hal ini diperkuat dari berbagai catatan sejarah. Dalam sebuah buku karya De Graff dan Pigeaud dalam “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa”,  Reruntahan keraton Kalinyamat  telah dilukiskan oleh Dr. Bosch, (Bosch, “Kali Nyamat”) berdasarkan keterangan Th.C.Leeuwendaal bahwa di daerah itu terdapat tempat-tempat yang bernama Kriyan, Pacinan, Kauman, dan Sitinggil. Pada bulan September 1678, Antonio Hurdt, waktu ia mengadakan ekspedisi dari Jepara ke Kediri, melihat kolam dengan banyak kura-kura jinak di dalamnya, di dekat Kalinyamat (Graaf, Hurdt, hlm. 110). Sejak zaman dahulu kolam dengan kura-kura itu merupakan bagian dari taman istana kerajaan Jawa. (De Graff dan Pigeaud, hal. 117).

Berbeda dari sumber orang-orang Belanda, dalam Babad Sangkala tahun 1599 mencatat tentang Bedhahe Kalinyamat atau jatuhnya Kalinyamat ditangan Mataram. Hingga pada tahun 1593 serangan dari Pasukan Mataram yang menyebabkan hancurnya Keraton Kalinyamatan. Penyerangan ini diberitahukan oleh Abraham Van den Broeck kepada Jan Pieterszoon Coen beberapa tahun kemudian. Namun Jepara tetap menjadi pelabuhan penting Mataram sampai jatuh ketangan VOC Belanda pada tahun 1613. Sementara itu, Knebel seorang peneliti Belanda lainnya, dalam laporannya pada Outkundiq comm Van 1910 mencatat, istana Kalinyamat dikelilingi oleh benteng seluas kurang lebih 4 ha.

Masih dalam bukunya De Graff, Ada kemungkinan, serangan laskar Mataram yang sudah diperkirakan itu datang pada tahun 1599, dan berakhirlah pemerintahan Pangeran Jepara. Dalam suatu surat berbahasa Belanda pada tahun 1615 (Colenbrander, Coen, jil. VII, hal. 45) terdapat kata-kata tentang destructie ‘penghancuran’ kota Jepara. Serangan Mataram dari pedalaman ke kota-kota pelabuhan Pasisir yang makmur itu telah mengakibatkan kerusakan yang berat. Tidak mustahil, Jepara juga menjadi korban amukan gerombolan itu. Mungkin pada kesempatan tersebut istana Kalinyamat juga dihancurkan.

Tidak ada kabar tentang nasib keluarga raja Jepara. Dalam pemerintahan raja-raja Mataram, kota pelabuhan itu yang diperintah oleh seorang bupati yang diangkat oleh raja pada abad ke-17 masih agak lama berfungsi sebagai tempat pertemuan antara pihak Jawa dan pihak Belanda dari Jakarta. Akhirnya peranan itu diambil alih oleh Semarang.

Hanya ada satu buah lempengan batu yang tersisa di sekitar Keraton Kalinyamat. Batu yang terbuat dari bahan andesit yang dipercaya masyarakat setempat sebagai watu gilang, sebuah batu yang dipakai sebagai tempat untuk melantik raja. Batu semacam ini juga ditemukan di depan benteng keraton Sorosowan Banten.

Hadepe / ua