blank
Partini sedang memilah jamur sebelum diolah menjadi jamur krispi. Foto: Ning

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Dengan cekatan tangan Partini (36), memilah jamur-jamur yang baru dibelinya di tempat langganannya. Jamur-jamur itu satu demi satu dipotong-potong (disuwir) sebelum diolah menjadi jamur krispi. Partini mengerjakannya sendiri, karena sudah terbiasa.

Setelah jamur disuwir, lalu dicuci dan dibumbui yang kemudian dilimuri dengan tepung. Selanjutnya digoreng dan dikemas untuk siap dipasarkan.

Menurut Partini, dirinya mulai menekuni memproduksi jamur krispi sejak merasakan dampak pandemi wabah covid-19, bulan Maret 2020.

Sebelumnya, dia menekuni membuat nasi kotak, makanan ringan, atau katering, dan sudah mempunyai pelanggan tetap seperti biro travel dan mahasiswa.

Namun, sejak terdampak pandemi, pekerjaan tersebut harus ditinggalkannya. Bukan itu saja, sang suami yang berprofesi membordir disebuah butik juga harus dirumahkan akibat pandemi covid-19.

“Saya bersama suami sempat vakum selama sebulan, tapi kami tidak mau menyerah begitu saja,” kata Partini saat ditemui di rumahnya di Medoho II Semarang, Minggu (3/1/2021).

Partini yang mempunyai dua anak juga sempat ikut temannya berjualan buah nanas madu, yang mana dari satu buah nanas dirinya bisa mengambil keuntungan sebesar Rp 2.000.

“Saya sempat ikut berjualan buah nanas madu dengan keuntungan Rp 2.000 per buah, karena saya berpikir yang penting ada pemasukan,” ungkap dia.

Saat itu, Partini mengaku merasa terpuruk. Namun dengan semangatnya yang luar biasa dia lalu berfikir bagaimana caranya membuat makanan yang awet untuk dijual, karena harus bangkit dari keadaan ini.

“Karena tidak mungkin jika harus pasrah dengan keadaan seperti ini. Akhirnya saya mencoba membuat jamur krispi,” lanjut Partini.

Pertama kali membuat jamur krispi, Partini  menawarkannya kepada teman dan tetangga secara gratis untuk mencicipi jamur krispi buatannya.

Tak hanya itu, Partini juga mempromosikan jamur krispinya melalui iklan-iklan. Hingga pada awal Juni dirinya mulai berjualan secara online. Dari total produksinya, 90 persen jamur krispi buatan Partini dijual secara online.

Seiring berjalannya waktu, dirinya bertemu dengan dosen Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Partini pun diajak ikut seminar kajian halal dari Undip, hingga akhirnya September 2020 sudah mempunyai izin halal.

Selain dijual secara online, jamur krispi tersebut juga dijual oleh orang lain secara berkeliling. Orang tersebut, cukup membantu dalam memasarkan jamur krispi buatan Partini.

Setiap pagi, dia mengambil jamur krispi di rumah Partini dan sore harinya dia bayarkan uang hasil dagangnya atau setorannya.

Setiap bulannya, Partini mampu membuat 500 hingga 600 bungkus, baik kemasan kecil maupun besar. Dirinya sangat bersyukur karena usaha jamur krispinya bisa menopang ekonomi untuk keluarganya.

Namun, Partini saat ini masih membutuhkan chanel untuk memasarkan dagangannya. Dirinya berharap usahanya bisa berkembamg besar dan bisa membuka peluang untuk reseller.

Ning/trs-mul