Ilustrasi

WARGA desa saya aslinya buruh tani. Belakangan menjadi dukun dengan spesialisasi unik, yaitu “pawang beras”. Di pedesaan, profesi ini sering dimanfaatkan warga yang sedang punya kerja seperti pernikahan, sunatan, dll.

Dalam sebuah perhelatan yang ditunggui pawang beras, yang punya rumah lebih tenang dan sekaligus “untung”, karena tamu yang datang, nafsu makannya terkendali. Istilah mereka, tamu-tamu itu didekatkan dengan air dan dijauhkan dari beras, sehingga para tamu lebih selera untuk minum.

Kesannya, mereka yang punya kerja itu hanya mau menerima sumbangan namun ogah memberi. Tapi, benarkah demikian? Saat saya tanya kepada tetangga yang pernah memanfaatkan jasa “pawang beras” dalihnya bukan soal untung – rugi, melainkan biar cukup.

Sekilas, cara ini hanya mengejar sisi komersialnya saja. Tuan rumah lebih “mengejar target” sumbangan dari warga atau tamu, atau minimal bisa balik modal dari perhelatan yang mereka lakukan itu.

Salah satu pawang yang saya temui mengatakan, orang punya kerja yang  menggunakan “pawang beras” itu lebih disebabkan kebiasaan para tamu  itu ngeceh-ngeceh atau memubazirkan  makanan, terutama suguhan  nasi. Atau jika mereka itu makan, paling hanya beberapa sendok.

Selebihnya, sisa makanan itu mubazir. Nah, kebiasaan memubazirkan nasi itu karena di desa acara pernikahan itu sering pada hari dan bulan-bulan tertentu yang dianggap baik, sehingga dalam satu hari, warga bisa mendatangi beberapa undangan, baik itu tetangga satu desa, maupun dari tetangga desa.

Dengan kata lain, memanfaatkan jasa pawang beras itu tujuannya bukan sekedar mengejar keuntungan materi saja. Melainkan agar tidak memubazirkan suguhan. Apalagi, dalam tradisi Jawa, nasi dianggap benda yang layak disakralkan, bahkan sejak usia kanak-kanak, orangtua sudah menanamkan keyakinan bahwa nasi yang tidak dimakan, atau disia-siakan itu juga menangis.

Sughan dalam perhelatan di desa-desa di Jawa. Foto: Ilustrasi

Cukup dan Berkah

Ada juga dukun yang berusaha agar beras yang sedikit tu bisa mencukupi kebutuhan tamu yang banyak. Maka, walaupun tamu berdatangan dan berasnya sedikit, insya Allah tidak habis-habis, bahkan sampai acara berakhir pun, cukup atau bahkan lebih.

Bahkan kalangan santri (ahli hikmah) juga mengenal konsep serupa dengan cara yang berbeda. Jika cara tradisional dengan mantra, para ahli hikmah membuat sarana itu melalui sejumput beras dan berbagai bumbu dapur lalu dibacakan ayat-ayat tertentu, kemudian dicampurkan pada beras dan bumbu yang nanti untuk suguhan para tamu.

Tujuannya semata-mata untuk keberkahan dari suguhan yang dihidangkan tuan rumah kepada para tamu, itu agar lebih berkah, yaitu sedikitnya mencukupi, banyaknya tidak mubazir atau berlebih-lebihan. Kalau cara yang demikian ini kita bisa sepakat.

Biasanya ilmu pawang beras itu satu paket dengan ilmu pawang hujan.  Kenapa? Prinsipnya tuan rumah itu semestinya memosisikan tamu sebagai raja. Apalagi tamu itu datang karena diundang pada acara yang spesial, maka sudah selayaknya mereka dijamu dengan suguhan yang spesial juga.

Karena itu, jangan ada upaya untuk “menahan”, karena saat kita memuliakan tamu, berarti kita juga membuka pintu rezeki sendiri. Dan agama pun  memerintahkan kita untuk memuliakan tamu, apalagi tamu itu kita undang secara khusus, pada momen yang khusus pula.

Aktivitas memawangi itu masuk dalam kategori bakhil atau pelit jika tujuannya untuk mengendalikan selera para tamu, dan lebih fokus mengharap sumbangan. Jika niatnya yang seperti itu, maka dukun atau pawang, juga tuan rumah pun ikut berdosa, karena dia bersekongkol  untuk berhutang kepada alam.

Alamiah

Banyak warga merasa -dan belum pasti benar- terpengaruh pawang beras, karena saat datang pada undangan pernikahan atau sunatan itu, mereka mengaku lebih selera minum, sedangkan nafsu makannya menurun.

Bahkan, saat mereka sudah duduk dan didepannya tersedia berbagai suguhan, mereka mengaku sudah merasa kenyang, atau lebih tepat disebut malas atau ogah-ogahan menikmati suguhan itu.

Beberapa orang mengaku punya pengalaman ganjil karena nafsu makannya menurun, bahkan diantara mereka menduga terpengaruh energi ilmu pawang beras. Fenomena itu menjadikan “pawang beras” dan tuan rumah sebagai  tertuduh.

Kita tidak tahu pasti, apakah itu karena sesuatu yang alamiah atau faktor metafisis. Karena kejadian itu sering terjadi saat seseorang berada pada lokasi yang disitu banyak hidangan.  Nafsu makan hilang atau menurun ketika  melihat berbagai jenis suguhan.

Padahal, fenomena ini bisa jadi karena mata mereka “lelah” akibat melihat berbagai hidangan dan itu menyebabkan selera mereka juga ikut lelah atau dalam istilah Jawa disebut mblenger.

Sebenarnya, tidak pakai cara magis pun, tuan rumah itu lebih banyak “untung”-nya  jika dia termasuk pribadi, ramah dan  supel dalam pergaulan, apalagi jika dia dikenal suka berbagi. Karena bukan hanya manusia yang menyenanginya, Tuhan pun senang dan akan selalu mencukupi keperluannya.

Jika hajatan niatnnya untuk mencari untung, suatu saat akan keweleh atau ditegur oleh alam. Bukankah hajatan itu mestinya niat utamanya mohon doa restu dan memuliakan tamu yang diundang?

Namun demikian, ilmu “pawang beras” ini tetap ada sisi baiknya terutama jika diterapkan secara benar dengan niat yang benar pula. Termasuk  jika diterapkan bagi mereka yang sedang diet atau oleh medis disarankan membatasi mengonsumsi nasi, karena diabet atau yang sedang diet.

Masruri konsultan dan praktisi metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati