blank
Prabu Kresna dikenal dengan senjatanya bernama Cakra, yang beputar saat menuju sasaran. Foto: ist

blankWAKTU sekolah di SLTP saya punya teman yang nakal. Jitakan tangan dan ludahnya sering hinggap di kepala teman satu kelasnya. Dua puluh lima tahun kemudian, anak itu  bekerja di  perusahaan ekspedisi dan sering bongkar muatan di toko milik teman yang dulu sering digampar dan diludahi.

Pemilik toko itu baik hati. Dia tidak dendam. Bahkan saat  saya ingatkan kejahilan teman yang dulu suka menggampar dan meludahinya, dia menjawab,”Jangan diingat, itu masa lalu, kasihan jika diungkit.”

Suatu hari ada dua remaja pingsan karena kecelakaan lalu lintas. Keduanya  dirawat warga. Setelah tersadar mereka mengontak ayahnya. Saat ayahnya datang, betapa kagetnya, karena yang merawat kedua anaknya itu sopir yang dulu pernah dihajar karena menabrak kambingnya.

Tahun 70-an ada orang diduga copet lalu dihajar masa. Lalu 20 tahun kemudian salah satu dari yang menghajar itu anak lelakinya jatuh cinta sama anak orang yang diduga copet itu. Keduanya tak bisa dipisahkan, dan orangtua mereka pun besanan.

Kakak-Adik

Ada kakak beradik yang sama-sama memiliki jaringan pertemanan  luas. Kakaknya, jika ada tetangga belum bekerja, dia titipkan koleganya dan dia tidak minta upah. Sebaliknya, adiknya senang menjanjikan tetangga dan kenalan kalau dia bisa memasukkan ke instansi bergengsi, dan untuk itu minta uang sogok dulu. Namun, pekerjaan tidak didapatkan, uang pun lenyap.

Pada hari tuanya, keduanya menuai “tabungan” yang dulu dilakukan. Anak-anak kakaknya, setelah usai pendidikannya tidak pernah melamar pekerjaan, justru bahkan dicari pekerjaan. Dan, anak adiknya, melamar kerja di mana pun tak ada yang nyenggol.

Begitulah kehidupan. Sentilan jari-Nya terkadang lembut, namun menyakitkan. Fenomena ini bisa disebut “karma”. Karena itu, siapapun kita, perbanyaklah menanam kebajikan, karena balasan Tuhan itu ada yang dirasakan di dunia, dan tidak perlu menunggu dibukanya pintu surga dan neraka.

Manusia tidak tahu wolak-walike zaman. Karena itu, upayakan untuk menebar kebaikan, kapan pun, dimana pun dan kepada siapapun. Perputaran hidup itu layaknya roda, ada saatnya di atas, dan ada saatnya di bawah.

Cakra Manggilingan

Ada mantan politikus yang besanan dengan “lawan politik” pada zaman Orba. Untungnya saat itu perseteruan lebih terkendali karena belum ada Facebook dan sarana lain untuk saling “mengumpat” secara terbuka.

Wolak-walike zaman itu sering terjadi. Fenomena ini disebut Cakra Manggilingan, proses bekerjanya hukum alam. Orang boleh  menganggap suatu kebetulan, namun ada yang meyakini ini proses “ndilalah” atau dalam bahasa Jawa  diartikan “Kersane Allah” atau kehendak Tuhan.

Perputaran ini  disebut Cakra Manggilingan, yang digambarkan dengan geometri bulat pipih berbentuk roda dan jerujinya.  Menggambarkan kehidupan itu layaknya roda berputar, ada saatnya di atas dan di bawah.

Dalam kisah pewayangan, Pandawa : Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa lahir dari istana Hastinapura yang serba kecukupan. Ketika 100 Kurawa pulang dari pengasingan, para Pandawa pilih diam untuk mencegah konflik.

Kurawa berlaku licik, Pandawa diusir dari istana dan pergi ke hutan Wanamarta. Namun karena kegigihannya, Pandawa berhasil membuka hutan hingga menjadi negeri Amarta. Namun, seiring berjalannya waktu, Pandawa mencapai puncak kejayaan.

Setelah pertemuan antara Pandawa dan Kurawa menemui jalan buntu, terjadi perang Baratayudha dan dimenangkan Pandawa hingga terjadi penggabungkan antara Hastinapura dan Amarta.  Dunia berputar, membawa Pandawa pada puncak kejayaan.

Melalui Laku

Dalam kehidupan, Cakra Manggilingan itu sering  terjadi, bahkan kita pun bisa ikhtiar untuk mempercepat proses “berputarnya” melalui sebuah laku. Pernah suatu malam ada rumah  Lurah dibobol pencuri. Selain mencuri dia pun buang hajat di rumah yang dimasuki.

Sebagai Lurah, dia merasa harga dirinya diinjak-injak. Dia lalu sowan sesepuh ingin ikhtiar agar pencurinya kena musibah atas perilakunya yang diluar batas kewajaran itu. Namun oleh sesepuh di Sarang, Rembang, hal itu tak diperkenankan. Dia lalu diberi konsep doa mohon keadilan pada-Nya.

blank
Cakra manggilingan itu filosofinya, hidup bagaikan roda, kadang di atas kadang di bawah karena hidup terus berputar. Foto: ist

Beliau menasihati tamunya “Kalau pakai sihir, itu dosa besar. Orang beragama itu batasan yang boleh dilakukan adalah  berdoa mohon keadilan kepada Tuhan. Sebab jika nanti ada apa-apa dengan orang yang zalim, itu karena keadilan Tuhan, dan bukan kehendakmu.”

Dia lalu diberi amalan “doa mohon keadilan”. Setelah diamalkan, tujuh  hari kemudian ada tamu asal tetangga desa berjalan dengan dua tongkat karena tulang kakinya cidera berat. Tamu itu menangis dan minta maaf. Tamu itu mantan pembantu dirumah itu, dia minta maaf karena telah mencuri di rumah Mbah Lurah.

Ketika ditanya kenapa kakinya patah, dia mengaku saat tidur siang mimpi disuruh Mbah Lurah memetik kelapa. Antara sadar dan tidur dia memanjat pohon kelapa, dan sampai diatas pohon, dia tersadar, kaget, lalu terjatuh dari atas dan kakinya cidera berat.

Amalan metafisis ada yang memiliki karakter mempercepat proses berputarnya “Cakra Manggilingan” itu terhadap mereka yang berlaku zalim pada sesama. Konsep ini tidak untuk “merusak” orang lain, hanya sebatas mohon keadilan.

Soal bentuk keadilan itu bentuknya yang seperti apa, biarlah Tuhan yang mengatur. Karena selain  Maha Mengabulkan Doa, Dia juga Maha Adil.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan Cluwak Pati.