Ole Gunnar Solkjaer. Foto: Ist

Oleh: Amir Machmud NS

// jika hidup adalah sepak bola// dia ada di pusaran gelombang// jika sepak bola adalah kehidupan// dia ada di naik turun irama// ah, terkadang terasa seperti bermain yoyo// seperti apa bandul seharusnya dimainkan?// (Sajak “Ketika Ole Bermain Yoyo”, 2020)

TAK seekstrem roller coaster, memang. Perjalanan kepelatihan Ole Gunnar Solskjaer di Manchester United lebih mirip permainan yoyo. Naik turun dengan bandul yang bergerak seirama dengan keprigelan tangan orang yang memainkan.

Dan, tentu tidak enak ketika MU seolah-olah mengidap “sindrom yoyo”.

Kalau bukan Solskjaer sendiri, siapa orang yang memainkan dan bisa menghentikannya? Sedangkan menaikturunkan irama bandul yoyo bukanlah permainan nasib yang dikehendaki. Pergerakan naik turun dalam permainan asal Tiongkok ini adalah efek kosmis yang secara ritmis dikondisikan untuk konsisten dengan ritme tertentu.

Secara filosofis, sepak bola merupakan kosmologi permainan dan kehidupan. Dalam kasus Ole Solskjaer dan MU, pergerakan menang – kalah yang mengombak itu mirip “mekanisme siklus” yang mem-PHP atau memberi harapan palsu.

Selama hampir dua musim kepemimpinan legenda Setan Merah asal Norwegia itu, performa MU berubah-ubah. Bisa tiba-tiba “menangan”, tiba-tiba pula “kalahan”; namun ketika fans sudah mulai putus asa, Harry Maguire dkk kembali menang dan menang, tak lama kemudian balik ke kalah dan kalah…

Tak sekali – dua kali fans emosional dan menggaungkan pemecatan pelatih, akan tetapi Pasukan Theater of Dream kembali ke jalur positif. Setelah dibuai harapan, tak lama kemudian tren negatif memutus konsistensi itu, yang menunjukkan ada virus ketidakkonsistenan performa. Saat mulai mendapat kepercayaan fans, tren buruk datang lagi. Berulang-ulang seperti itu. Maka tak berlebihan jika cap sebagai arsitek medioker mulai menyambangi perjalanan Solskjaer.

Hasil-hasil di liga, Piala FA, dan Liga Champions memberi gambaran kiprah Ole Gunnar Solskjaer dibayangi “sindrom yoyo”, di tengah capaian pelatih-pelatih yang boleh dibilang seangkatan dengannya. Apalagi di hadapan sosok-sosok yang lebih mampu menghadirkan konsistensi seperti Juergen Klopp, Pep Guardiola, dan Jose Mourinho.

Di panggung liga-liga Eropa, kini Solskjaer menjadi salah satu pelatih yang dibayangi pemecatan, di samping Mikel Arteta (Arsena), Ronald Koeman (Barcelona), Antonio Conte (Internazionale Milan), dan Zinedine Zidane (Real Madrid).

*   *   *

CAPAIAN Setan Merah di Liga Champions musim ini menegaskan “ke-yoyo-an”. MU disingkirkan oleh RB Leipzig ketika hanya membutuhkan hasil seri untuk lolos dari grup neraka. Mereka kalah 2-3, padahal pada leg pertama menang besar 5-0.

Dalam dua laga awal, MU melangkah meyakinkan, mengalahkan Paris St Germain 2-1 dan RB Leipzig 5-0. Tetapi secara tak ternyana mereka tumbang 1-2 oleh tim terlemah grup ini, Istanbul Basaksehir. Pembalasan 4-0 memantapkan posisi MU, namun kekalahan dari PSG dan Leipzig di dua laga terakhir berbalik memupus asa. Status urutan ketiga grup akhirnya “mengirim” Bruno Fernandes cs ke 32 besar Liga Europa.

Inkonsistensi performa juga terlihat di Liga Primer dari pekan ke pekan. Di balik itu, anak-anak Setan Merah menunjukkan fenomena mentalitas come back. Dalam sejumlah laga, MU tertinggal terlebih dahulu, menyamakan skor, lalu membalikkan hasil. Apakah karena kekuatan mentalitas, kebiasaan terlambat panas, atau ritme yang bersifat kebetulan?

Solskjaer juga mengusung realitas MU yang kini dikenal sebagai jago tandang ketimbang merawat keangkeran Stadion Old Trafford. Namun ketika tuah jago away itu terpatahkan di Istanbul dan Leipzig, senjata rahasia apa lagi yang diandalkan?

Dari skema taktik, Ole Solskjaer cukup punya kedalaman skuad. Bruno Fernandes menjadi pemimpin yang sangat dia andalkan dengan determinasi kuat. Pemain asal Portugal itu merupakan rekrutan tersukses MU musim ini. Di sektor ini dia punya Fred, Scott McTominay, Nemanja Matic, Paul Pogba, Jesee Lingard, juga Juan Mata. Namun bagaimana dengan pemaksimalan kontribusi Eric Bailley, Pogba, Lingard, dan Donny van de Beek?

Variasi barisan penyerang seharusnya juga kaya kreasi skema. Bukankah dia punya Marcus Rashford, Anthony Martial, Mason Greenwood, Edinson Cavani, Faniel James, Facundo Pellistri, dan Odion Ighalo yang bisa dipermutasikan sesuai kebutuhan taktikalnya?

Solskjaer memang punya titik lemah skema di barisan belakang. Potensi-potensi hebatnya hingga sejauh ini belum ter-chemistry dalam operasionalisasi sistem yang memberi cukup rasa aman. Masih banyak blunder dan minim determinasi.

Apakah fenomena yoyo dalam perjalanan tim ini akan berujung pada pemecatan The Baby Face Assassin? Lewat kegagalan menyakitkan di Liga Champions, sudah betul-betul berakhirkah perjuangan Ole Solksjaer bersama klubnya untuk kembali ke panggung elite? Industri sepak bola meniscayakan aneka kemungkinan dalam hitungan waktu yang kadang tak terduga.

Dalam bermain yoyo, apabila kita tidak tune in ke irama pergerakan bandul, bukan tidak mungkin arahnya justru bakal menyakiti lengan kita sendiri. Namun, pastilah Solksjaer tak ingin bermain yoyo bukan?

Amir Machmud NS, wartawan SUARABARU.ID, kolumnis olahraga, Ketua PWI Jateng