blank
Ilustrasi Islam dan Peradaban. Foto : SB/dok

Oleh Muchotob Hamzah

Without religion there can be no morality

Without morality there can be no law.
(A.C. Denning)

Dapat dikatakan, hampir tidak ada komunitas manusia yang tidak beragama. Bahkan Will Durant pernah bekata, agama itu seperti manusia yang memiliki seratus jiwa. Tiap kali dipenggal kepalanya, dia dapat hidup kembali.

Tidak dipungkiri, bahwa agama bisa seperti pedang bemata dua alias bersifat ambiguiti antara positif dan negatif. Dalam kesejatiannya, sifat negatifnya timbul bukan dari agamanya, tetapi dari sikap keberagamaannya.

Memang belum pernah kita dengar survey tentang tingkat dan presentasi relasi agama dengan perilaku pemeluknya.

Tetapi kita bisa membayangkan bila manusia tidak beragama, akan seperti apa hidup dan kehidupannya. Jikalau dari delapan milyar manusia yang beragama tujuh koma delapan milyar saja, sudah cukup berarti.

Jadinya, dapat diandaikan 50 persen dari mereka yang tidak mencuri karena keyakinan agama, = 3,9 milyar. Yang tidak mau menipu karena keyakinan kepada Tuhan,= 3,9 milyar.

Yang berbakti kepada kedua orang tua karena perintahTuhan alam semesta, = 3,9 milyar. Yang tidak mau membunuh sesama karena takut kepada YM Kasih, = 3,9 milyar dan seterusnya.

Berarti kontribusi positif agama bagi peradaban sangatlah signifikan. Efek negatifnya, karena agama bisa dijadikan alat legitimasi untuk memecah antar umat manusia yang tidak sepaham.

Kontribusi agama bagi peradaban, bisa dilihat dari situs-situs peninggalan baik berupa artefak maupun naskah-naskah pemberadaban manusia.

Hukum-hukum Tuhan dan norma sosial demi keselamatan kehidupan manusia dan alam yang bertebaran di muka bumi. Sains, teknologi dan seni meninggalkan jejak pemberadaban yang masif dan terstruktur.

Sebaliknya, sejarah kemanusiaan telah tercoreng oleh tinta penjajahan, perbudakan dan peperangan yang mengerikan.

Nafsu Kuasa

blank
Rektor Unsiq Jateng di Wonosobo, Dr KH Muchotob Hamzah MM. Foto : SB/Muharno Zarka

Perang karena kekuasaan, ekonomi, dan keangkuhan telah membawa agama ikut menjadi bensin yang meledakkan api pada tangki raksasa nafsu serakah manusia pemeluknya.

Bias tujuan dan aturan dari agama yang benar lahir dari tafsir yang sesuai dengan nafsu angkara pemeluknya.
Bagaimana Islam membimbing nafsu kuasa manusia agar atsar positifnya dominan?

Pertama, nomenklatur Islam dari kata salmun, silmun dan salamah yang berarti damai dan selamat (sluman-slumun-slamet).

Berarti perang dalam Islam hanya boleh dilakukan di saat darurat. Maka terma ayat pertama tentang perang, menggunakan terma “diijinkan”(QS.22/39) Kata “dijinkan” menunjukkan bahwa hukum asal perang adalah dilarang.

Kedua, mustahil Allah perintah perang pengislaman orang kafir sementara Al-Qur’an membebaskan manusia untuk memeluk Islam atau mengkafirinya (QS.109/6; 2/139; 1829). 3. Tidak masuk akal jika perang dalam Islam untuk menjual agama dengan jizyah yang nilainya tidak seberapa.

Keempat, tidak logis kalau memang Islam boleh dipaksakan kepada orang kafir sementara membunuh orang kafir yang tidak ikut menjadi tentara dilarang.

Kelima, hadits sahih tentang sabda Nabi untuk perang demi si kafir sampai membaca syahadat, redaksinya ada tambahan “alif” pada kata “aqtula” menjadi “qaatala” yang berarti “saling memerangi” yang berarti kondisi buntu deplomatik, bukan perang agama. Yang ini tafsiran logis dari Profesor. Dr. M. Said Ramadhan al- Buthi.

Jadi menurut saya, perang agama dalam Islam itu tidak ada. Yang ada perang dengan motif politik, ekonomi atau lainnya, yang karena bernilai penyelamatan umat ataupun negara, maka termasuk “fi sabilillah”.

Meskipun segala aktifitas muslim dipandang sebagai ibadah selama bersinergi dengan hukum Allah, termasuk menjadikan kalimah Allah “hiyal ‘ulya”, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa perang dalam Islam karena bermotif untuk mengislamkan orang.

Karena kemulyaan Islam telah terbukti disiarkan dengan kedamaian.
Perang untuk mengislamkan orang, adalah bertentangan dengan Islam itu sendiri yang telah memberikan kebebasan dalam memilih agama.

Wallaahu A’lam bis-Shawaab!!!

Penulis Dr KH Muchotob Hamzah MM, Rektor Unsiq Jateng di Wonosobo