Ilustrasi

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

JC Tukiman Tarunasayoga

Veeger (1993) menggunakan kosakata khusus untuk menyebut manusia dan realitas social sehari-harinya yang seolah-olah bertentangan secara entitasnya. Kita ambil contoh saja akal dan budi, dua entitas yang berbeda dan ada dalam realitas hidup setiap orang.

Akal adalah entitas alam piker manusia yang paling luhur dan menunjukkan betapa istimewanya makhluk manusia itu. Budi adalah entitas alam rasa manusia, sebuah entitas yang khas juga.

Ungkapan sangat khas/istimewa atas dua entitas itu ialah akal-budi; maka kemudian cirri khas manusia yang membedakan dan mengistimewakannya ialah Karena kita ini makhluk paling tinggi berhubung memiliki akal-budi. Itulah kedwitunggalan manusia.

Manusia itu makhluk dwi tunggal, serba “dua” namun selalu “menyatu.” Contoh akal dan budi di atas sudah sangat menjelaskan; belum lagi kalau mau diperpanjang lagi contohnya, misalnya lahiriah dan batiniah, yang rohani dan yang badani, dst.

Kedwitunggalan manusia itu sebuah realitas social dan tidak seorang pun di dunia ini mampu “melawan” asas kedwitunggalan tersebut. Menipu diri sajalah kalau misalnya ada orang mau mati-matian menegakkan akal semata-mata.

“Akal harus menjadi panglima kehidupan,” sebutlah  jargon yang diusung dimana-mana dan kemana-mana selalu itu dan itu. Mungkinkah? Tadi sudah disebutkan, rasanya omongkosong. Kedwitunggalan manusia bukan sekedar cirri khas manusia, melainkan dengan kedwitunggalan semacam inilah manusia menjadi makhluk hidup paling seimbang di dunia ini.

Kedwitunggalan manusia juga yang secara otomatis mengerem manakala larinya merasa terlalu kencang; membuat yang serba kasar menjadi diperhalus, yang semula ingin brangasan, lalu diperlunak, dsb.

Intinya, marilah kita permuliakan diri kita manusia ini menjadi semakin mulia lagi dengan cara bertutur dan bertindak secara lebih seimbang lagi.

Adol Gembes

Bacalah gembes seperti Anda berkomentar: “Aduh…, esuk-esuk, ban depan sepeda motorku gembos total dadi gembes…mbes…..mbes….mbes. Saking gembosnya, menjadi gembes…kempes; namun sering orang masih belum percaya, berulangkali ban kemps itu masih dipijit sana dipijit sini.

Namun ada barang lain yang namanya gembes, tempat minuman yang cara membawanya dikalungkan di leher, ada juga yang diselibkan di pinggang. Intinya, gembes ini tempat minuman, mudah dibawa kemana-mana, dan sewaktu-waktu orang membutuhkannya, ia segera bias nyruput..minum.

Baca Juga: Wong “Kakehan Uyah”

Ungkapan adol gembes lain lagi juntrungnya, dan pemakaian ungkapan ini menunjukkan betapa mulianya kedwitunggalan manusia. Realita social membuktikan betapa yang namanya pelacur itu ada dan selalu saja ada dalam kehidupan ini.

Akal budi sehat manusia mengakomodasi (baca memperhalusnya) dengan berbagai ungkapan, dan dalam ungkapan Jawa, muncullah adol gembes. Tegasnya, untuk menyamarkan dan menghaluskan, adol gembes terasa sangat sopan.

Mari, kita permuliakan diri dan kekayaan kehidupan ini. Kalau memang bisa lebih halus, mengapa harus kasar-kasar; kalau memang bisa lebih beradab, mengapa tidak?

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan)