blank

MATARAM (SUARABARU.ID) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan hujan es yang terjadi di Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada Ahad, sekitar pukul 15.20 Wita, akibat pembentukan awan Cumulonimbus.

“Berdasarkan laporan warga yang kami terima, benar adanya hujan es di wilayah Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, pada siang menjelang sore tadi,” kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Levi Ratnasari.

Ia mengatakan dari hasil pantauan citra radar dan satelit, terpantau bahwa liputan awan konvektif, yakni awan Cumulonimbus terpantau di sekitar wilayah terjadinya hujan es, yakni, terlihat suhu puncak awan Cumulonimbus terpantau sangat dingin, yakni mencapai kurang dari 80 derajat celcius.

Perlu diketahui awan Cumulonimbus atau dikenal dengan awan Cb dapat terbentuk akibat adanya pemanasan yang kuat di permukaan serta udara yang labil di wilayah tersebut.

Levi menambahkan pertumbuhan puncak awan Cb dapat lebih dari enam kilometer, di mana kandungan dari awan Cb dengan suhu puncak awan yang sangat dingin tersebut kurang dari 80 derajat celcius dapat menghasilkan butiran es.

Butiran es dapat jatuh ke permukaan juga didukung oleh kondisi dari suhu di permukaan di wilayah tersebut.

“Ketika suhu di permukaan atau daratan cukup dingin maka butiran es dari puncak awan Cb tersebut dapat jatuh masih berupa partikel es, sehingga hujan yang di hasilkan berupa butiran es,” ujarnya.

Umumnya, kata dia, hujan es terjadi dalam waktu singkat, namun diikuti oleh terjadinya hujan lebat yang disertai petir bahkan angin kencang.

Untuk itu, Levi mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan mengenali cuaca di sekelilingnya jika teramati awan Cb, yakni awan berwarna hitam seperti bunga kol dan berlapis.

“Sebaiknya masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah karena potensi cuaca ekstrem dapat terjadi di mana saja dan kapan saja,” katanya.

Salah seorang warga, Rio, mengaku kaget dengan kejadian hujan es secara tiba-tiba ketika sedang berkumpul dengan kelompok sadar wisata di Ulem-Ulem, Desa Tete Batu, Kabupaten Lombok Timur.

“Awalnya hujan lebat biasa. Tidak lama, tiba-tiba suara seperti benda berjatuhan di atap. Setelah kami cek, ternyata es sebesar kira-kira biji kelengkeng yang berjatuhan,” tutur Rio.*

Ant-Wahyu