blank
Edouard Mendy. Foto: ist

blank

Oleh: Amir Machmud NS

//…simaklah dia betapa loyal// pasrah menjadi tembok// dalam pilihan risiko// : dicerca atau dipuja// dengan lompatan dan adangan// kaki, badan, dan tangan// bisa pula kepala// agar bola tak menerpa jala…// (Sajak “Sang Laba-Laba Afrika”)

KISAH Thomas N’Kono yang menginspirasi seorang bocah pada 1990, menjadi ilustrasi betapa subur Afrika sebagai salah satu kawasan sumber penjaga gawang hebat. Ketika kita belajar tentang inspirasi secara akademik dan empirik, agaknya kisah nyata ini patut direferensikan.

Tahukah Anda, bocah yang terkagum-kagum kepada N’Kono itu kelak menjadi kiper terbaik dunia?

Gianluigi Buffon, yang ketika itu masih 13 tahun, intens mengikuti aksi-aksi atraktif tim Singa-Singa Perkasa Kamerun di Piala Dunia 1990. Gigi minta orang tuanya membelikan kostum kiper dan sarung tangan, padahal di Akademi Parma tempat berlatih, dia terbiasa menjadi gelandang. Kekaguman kepada N’Kono mendorong Gigi Buffon untuk beralih sebagai kiper.

Dari klub Parma yang membinanya, dia kemudian matang beresama Juventus. Dari Juve pada pengujung kariernya, Gigi menikmati satu musim kompetisi di Paris St Germain, lalu dalam usia 40 kembali mengawal gawang La Vecchia Signora. Dia mampu merawat kebugaran menyamai usia karier sang idola.

Thomas N’Kono adalah legenda Kamerun yang paripurna. Namanya sejajar dengan Roger Milla, Francoise Omam Biyick, Andre Kana Biyick, dan Samuel Eto’o. Di Spanyol 1982, Kamerun tersisih di babak grup hanya karena selisih gol dari Italia yang akhirnya juara. Waktu itu dunia mengakui, kunci ketangguhan Kamerun ada di bawah mistar gawang. Egilitas, reaksi, kepemimpinan, dan gaya akrobatik N’Kono betul-betul mewakili impresivitas kehadiran wakil Afrika di putaran final Piala Dunia.

Show ketangguhan N’Kono berlanjut di Italia 1990. Dia mengantar negerinya membedah sejarah lolos ke perempatfinal Piala Dunia, antara lain dengan mengalahkan juara bertahan Argentina, Rumania, dan Kolombia. Hanya karena kekurangberuntungan, The Indomitable Lions tersingkir oleh Inggris di perempatfinal.

Sampai usia 40, dia tetap dipercaya mengawal gawang tim nasional, di samping meniti karier di Espanyol selain klub-klub lokal Kamerun.

N’Kono menjadi representasi kekayaan Afrika akan kiper tangguh yang kemudian mendunia. Fakta terkini dibuktikan oleh Edouard Mendy, anak Senegal yang menjadi salah satu transfer terbaik Chelsea musim ini. Dalam usia 23, eks kiper Rennes itu direkrut The Blues atas rekomendasi Direktur Teknik Petr Cech, setelah dibandingkan dengan 40 calon kiper lainnya.

Chelsea seperti menemukan mutiara setelah dibuat pusing oleh inkonsistensi penampilan kiper utama berharga Rp 1,3 triliun, Kepa Arrizabalaga.

Performa awal Mendy benar-benar mengaduk kenangan, seperti reinkarnasi N’Kono yang pada dasawarsa 1980 hingga 1990-an diakui sebagai salah satu kiper terbaik dunia. Petr Cech memuji kelengkapan Mendy dalam hal ketenangan, reaksi, kemampuan membaca pergerakan pemain lawan, dan ketangguhan yang dihadirkan di Stamford Bridge.

Presisi amatan Cech tidak main-main. Kompetensinya sebagai legenda kiper Chelsea cukup menjelaskan kapasitas untuk menilai kelayakan seorang portiere. Simaklah bagaimana para analis memuji Mendy, “Bersama Edouard Mendy, Chelsea sudah lupa rasanya kebobolan”.

*   *   *

SEJATINYA, tidak sedikit kiper Afrika yang meraih tempat sebagai legenda. Thomas N’Kono boleh jadi “great of the great”, namun berderet nama lain tak bisa diabaikan. Kamerun termasuk negara paling produktif dengan legenda-legenda Andre Onana, Joseph Antonine-Bell, Jacques Songo’o, dan Idris Khameni.

Nigeria menyetor setidak-tidaknya dua legenda, Peter Rufai dan Vincent Enyeama. Kita juga mengenal Mokhtar Naili, penjaga gawang Tunisia yang memesona di Piala Dunia 1978, disusul “reinkarnasinya” Ali Boumnijel. Maroko punya sejarah Badou Ezzaki, banteng yang sulit ditaklukkan di Piala Dunia 1986. Yang juga wajib dicatat tentulah Richard Kingson dan Tony Silva, legenda-legenda Ghana.

Pun, Anda pasti ingat nama ini: Bruce Grobbelaar, kiper akrobatik Liverpool pada era 1980 – 1990-an. Pemain yang terkenal suka melawak itu lahir dari Zimbabwe, negeri yang notabene tidak masuk dalam peta utama sepak bola Afrika.

Selama ini, kiper-kiper Italia, Jerman, Ceko, dan Spanyol menguasai deret elite penjaga gawang dunia. Tetapi ketika klub-klub besar Eropa merasa perlu menggunakan jasa para laba-laba Afrika, fenomena itu tentu menunjukkan sebuah pengakuan kualitatif.

Terlalu pendek waktu untuk memperkirakan masa depan Edouard Mendy. Faktaya, pemain yang didapat Chelsea dengan harga 22 juta paun atau Rp 410 miliar itu sudah mengawali petualangan secara meyakinkan. Faktor konsistensilah yang akan menentukan, dia mampu menjajari posisi Thomas N’Kono atau tidak.

Perjalanan masih panjang, namun inilah “Show time untuk sang spiderman Afrika”…

Amir Machmud NS, wartawan SUARABARAU.ID, kolumnis olahraga, Ketua PWI Jateng.