blank
Sebuah spanduk protes untuk Persiku yang pernah terpasang di JPO Alun-alun Kudus. foto:dok/Suarabaru.id

KUDUS (SUARABARU.ID) – Bubarnya tim Persiku Kudus akibat tidak bergulirnya kompetisi Liga 3 nampaknya masih menyisakan persoalan. Manajemen tim berjuluk Macan Muria hingga kini ternyata masih meninggalkan utang berupa kewajiban yang harus dibayar ke pemain.

Padahal, selama pembentukan tim manajemen sudah mendapatkan kucuran anggaran Rp 900 juta. Sementara, tim yang dibentuk belum sekalipun menjalani pertandingan resmi.

Juru bicara manajemen Persiku, Yusuf Istanto mengatakan kewajiban yang masih menjadi beban dari manajemen adalah hak-hak pemain yang saat ini telah diputus kontraknya. Manajemen bertanggung jawab memberikan kompensasi kepada pemain karena harus dipulangkan sebelum masa kontrak habis.

“Dalam klausul yang ada, pemain dikontrak selama kompetisi Liga 3. Dengan tidak adanya kompetisi, maka kontrak pemain terpaksa diputus sebelum masanya berakhir. Sehingga, manajemen harus memberi kompensasi,”ujar Yusuf.

Saat ini, kata Yusuf, alokasi anggaran sebesar Rp 900 juta dari APBD murni 2020 yang telah diterima Persiku sudah habis untuk operasional pembentukan tim.

Untuk itu, guna membayar kompensasi kepada para pemain tersebut, manajemen akan mengandalkan kucuran tambahan anggaran yang dialokasikan dalam APBD Perubahan 2020.

“Jadi, alokasi anggaran tambahan sebesar Rp 800 juta yang telah  sudah diputuskan dalam APBD Perubahan 2020, rencananya sebagian untuk melunasi tanggungan tersebut, sementara sisanya akan diperuntukkan bagi Askab PSSI untuk pembinaan pemain,”tambahnya.

Pertanggungjawaban Manajemen

Hanya saja, saat dimintai informasi terkait berapa jumlah tanggungan yang harus dibayarkan ke pemain, Yusuf belum bisa memberi keterangan lebih jauh. Menurutnya, pihak bendahara manajemen saat ini baru menyusun laporan pertanggungjawaban.

“Saat ini laporan pertanggungjawaban masih disusun. Jadi, berapa jumlah kekurangan dana untuk kompensasi pemain tersebut, masih dalam proses penghitungan,”katanya.

Sementara, terkait dengan pembubaran manajemen, kata Yusuf, masih akan menunggu selesainya proses pembuatan laporan pertanggungjawaban. Manajemen mendapat kesempatan hingga akhir Desember mendatang untuk menyelesaikan LPJ tersebut ke Askab PSSI.

“Setelah LPJ rampung, baru akan ditentukan bagaimana kelanjutan dari manajemen Persiku. Apakah akan dibubarkan atau diperpanjang untuk kompetisi tahun depan, tergantung dari Askab,”tandasnya.

Sebagaimana diketahui, tim Persiku akhirnya dibubarkan menyusul tidak bergulirnya kompetisi Liga 3 Tahun 2020. Padahal, tim berjuluk Macan Muria telah melakukan pembentukan tim dan melakukan persiapan sejak pertengahan Agustus silam.

Bahkan, proses pembentukan tim tahun ini menghabiskan anggaran tak sedikit. Tercatat Rp 900 juta sudah dikucurkan kepada manajemen tim berjuluk Macan Muria tersebut.

Tm-Ab