Ibrahimovic sang Dewa Bola. Foto: Ist

Oleh: Amir Machmud NS

// tahukah kau tentang dewa sepak bola?// bukan Pele// bukan Maradona// bukan pula Zidane// ada yang menepuk dada// : akulah dewa// tak sekadar raja// Ibracadabra…// (Sajak “Zlatan Ibrahimovic”, 2020)

MENJADI penguasa sementara top scorer di Liga Serie A musim ini, apa lagikah yang bisa kita sematkan sebagai ungkapan kekaguman terhadap sepak terjang Zlatan Ibrahimovic?

Dua golnya ke gawang AS Roma, 27 Oktober lalu, menegaskan dia mampu merawat kesuburan sebagai penyerang yang oportunistik, atlet bugar, kuat, dan bervisi sepakbolawan langka.

Makin banyak bermunculan bintang muda, namun dalam usia 39 — nyaris menyentuh kepala empat –, seperti tidak ada yang berubah dalam kegagahan performa Zlatan. Dia mampu menjaga kualitas di orbit elite dengan kesegaran yang sama, fisik prima, dan itu terkadang dipamerkan dengan mengangkat kaos setelah mencetak gol, memperlihatkan perut six pack: inilah aku yang tetap liat dan atletis pada usiaku.

Orang Jawa mengatakan sembada untuk ungkapan kesombongan yang dibuktikan dengan kenyataan. Atau, biasa dipakai kata lain, sumbut, omong besarnya tak hanya melintas membuih-buih di bibir.

Sembada dan sumbut tepat untuk menggambarkan sosok dan gaya Zlatan Ibrahimovic. Seolah-olah dia berhak bersombong dan diizinkan bersikap arogan, karena apa saja yang dia katakan bisa dibuktikan. Boleh jadi pula, dengan karakter seperti itu pesepak bola Swedia berdarah Bosnia ini membangun konfidensinya.

Selain predikat “Ibracadabra” yang disematkan oleh media-media, Zlatan juga tak sungkan memberi label besar untuk dirinya sendiri. Jejuluk itu diambil dari ucapan “Abracadabra!”, seperti kata “Alakazam!”, yang populer sebagai mantra pelontar kekuatan sihir.

Zlatan sering menyebut diri sebagai sang legenda, raja, dewa, dan singa. “Saya singa tua yang dengan pengalaman dari berbagai medan memimpin singa-singa muda. Saya merasa sebagai binatang buas, singa yang sesungguhnya,” ungkapnya suatu ketika.

Sempat-sempatnya pula dia menyindir Romelu Lukaku, striker yang sekarang menjadi mesin gol Inter Milan, “Di Milan hanya ada dewa, tidak ada raja…”

Dan rasanya, apa yang dia perlihatkan baik ketika memperkuat Paris St Germain, Manchester United, dan AC Milan dalam usia yang “menyalahi hukum alam sepak bola”, bakal membuat siapa pun “merestui” arogansinya. Sama seperti ketika publik memaklumi keangkuhan Jose Mourinho, pelatih yang mengklaim diri sebagai The Special One, dan kemudian menobatkan diri menjadi The Only One.

Bukankah mereka adalah orang-orang dengan kepercayaan diri tinggi, membangun personalitas yang antara lain untuk meyakinkan kepada diri sendiri bahwa mereka mampu? Ya, dan terbukti memang mampu.

Zlatan ibarat pengembara yang telah melintas dan singgah di hampir semua klub besar. Dari Malmoe FC, dia bertualang ke Ajax Amsterdam, Juventus, Barcelona, Internazionale Milan, AC Milan, Paris St Germain, Manchester United, LA Galaxy, dan kini kembali ke Milan.

Produktivitas selalu dia torehkan di klub mana pun. Di Malmoe membukukan 16 gol, Ajax 35 gol, Juve 23, Inter 57, Barca 16, peminjaman di Milan 14, permanen di Milan 28, PSG 113, MU 17, LA Galaxy  52, dan di Milan sekarang sementara mengemas enam gol dari tujuh laga.

Untuk tim nasional Swedia, dari 116 kali tampil dia menorehkan 62 gol, dan praktis Zlatan ternobatkan sebagai salah satu pemain terbesar dalam sejarah sepak bola negeri itu, di atas legenda-legenda Gunnar Gren, Gunnar Nordhal, Niels Liedhom, atau Thomas Ravelli.

*   *   *

KISAH-KISAH keangkuhan Zlatan di dalam dan di luar lapangan, sejatinya merupakan bagian dari bunga-bunga sepak bola yang memberi warna. Ketokohan yang justru menunjukkan olahraga terbesar di muka bumi ini kaya dengan manusia-manusia yang memperkuat kebesarannya. Di luar itu dia hadir dengan karisma, inspirasi, dan kecerdasan luar biasa.

Ibracadabra jelas sosok pembeda. Tak terlalu salah Pele pernah menyebutnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia, padahal ketika itu Zidane, Ronaldo Luis Nazario, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Neymar Junior masih dalam puncak edarnya.

Dengan postur tinggi kekar, akan mudah terkesankan Ibra sebagai pesepak bola yang kaku, tetapi Sang Singa justru menunjukkan elastisitas gerak yang didukung keterampilan sebagai tae kwon-doin tangguh. Dari kaki dan kepalanya sering lahir gol-gol akrobatik.

Zlatan terbiasa membuat gol sensasional dengan bicycle kick. Termasuk gol khas membelakangi gawang dengan tendangan putar, melengkapi diri dengan kemampuan tendangan bebas milik para master of freekick dewasa ini. Tak boleh dilupakan pula, dia punya kemampuan khusus berbasis kematangan teknis dan kekuatan mental, yakni penalti ala Panenka. Zlatan merupakan satu di antara pengeksekusi penalti unik Andrea Pirlo, Sergio Ramos, Francesco Totti, Omar Abdulrahman, dan Lionel Messi.

Orbit di panggung kompetisi utama dalam usia mendekati 40 tahun termasuk langka. Dunia mengenal Dino Zoff, kiper Italia yang meraih puncak di Piala Dunia 1982, disusul penerusnya Gianluigi Buffon, juga nama-nama Roger Milla, Thomas N’Kono, Rivaldo, Claudio Pizzarro, Francesco Totti, Ryan Giggs, dan Paolo Maldini.

Siapa bakal menjajari Zlatan? Kini Cristiano Ronaldo menunjukkan tanda-tanda menyusul kebugaran seniornya. Dalam usia 35, CR7 mampu mempertahankan kapasitas sebagai pencetak gol ulung. Ketekunan menjaga performa fisik membedakan Ronaldo dari bintang lainnya.

Zlatan mendekatkan antara ucapan dan perilaku, antara kesombongan dan pembuktian. Dengan realitas itu, ekspresi-ekspresi Zlatan bukanlah ketakaburan, melainkan inspirasi penguatan konfidensi dalam tanggung jawab penampilannya…

Amir Machmud NS, wartawan SUARABARU.ID, kolumnis olahraga, Ketua PWI Jateng

 

 

-->