TEPLEK - Penjual rujak teplek Yuasih, tengah melayani pembeli. (foto: nino moebi)

TEGAL (SUARABARU.ID) – Rujak Teplek, adalah kuliner tradisional khas asal Tegal, yang terbuat dari bahan baku ketela yang diolah menjadi sambal dan ditaburkan ke beberapa sayuran.

Dinamakan rujak teplek, karena dalam sajian sambel yang khas dari adonan di teplekan diatas sayur, hingga dinamai teplek.

Penjual rujak teplek, Yuasih (60) warga Jalan Rembang RT 05 RW 04 Keluarahan Debong Tengah, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal, hanya 2 jam saja dari pukul 14.00 hingga 16.00 jajanan rujak teplek ludes terjual.

RUJAK TEPLEK – Salah satu kuliner khas Tegal. (foto: nino moebi)

Rujak teplek adalah beberapa sayuran seperti kangkung, daun ketela, pare, lobis dan toge atau kecambah yang telah direbus. Selanjutnya bagian atas ditaburi dengan sambel yang terbuat dari adonan singkong.

Rujak teplek memiliki rasa sambel yang khas. Rasa pedas pada adonan singkong yang dicampur dengan sedikit air menjadi rasa sensasi tersendiri dengan tekstur sambel.

“Rujak Teplek ini jajanan murah meriah. Bahan baku semua dari sayur dan tumbuhan. Saya jual paling jadi 40 bungkus habis saya tutup,” kata Yuasih sambil melayani pelanggan dikediamannya, Sabtu (24/10/2020).

Yuasih memanfaatkan serambi rumah untuk menggelar lapaknya mematok harga rujak teplek hanya Rp 3.000 per bungkusnya. Dan dagangan habis hanya dalam waktu 2 jam dengan 40 bungkus.

Dijelaskan, untuk pembuatan rujak teplek menggunakan sambel singkong memakan waktu hanya 30 menit. Bahan baku yang harus disiapkan separti 1 1/2 kg singkong di kukus (diungkep), setelah matang dicampur dengan rawit merah 1/2 kg ditumbuk sampai halus.

Untuk sayuran yang harus disiapkan pare 1 kg, lobis 1 kg, kangkung 3 ikat, daun ketela 6 ikat, kecambah 1/2 kg, cabe rawit 1/2 kg dan singkong 1 1/2 kg.

Selain menjual rujak teplek, Yuasih juga menjual jajanan tradisional seperti gemblong (adonan singkong). Jajanan gemblong singkong hanya untuk pelengkap saja.

Pelanggan rujak teplek Yuasih bukan hanya dari lingkungan sekitar saja. Bahkan dari luar kampung juga memburu. Untuk menumbuk adonan singkong, Yuasih dibantu oleh sang suami Sobari (61) yang kadang menjadi buruh tukang kayu maupun bangunan.

Seorang pelanggan Mulyani (39) mengatakan, rujak teplek Yu Asih rasanya khas. Dia beli untuk kudapan saat siang menjelang sore. “Kalau ada saudara dari luar kota datang pasti kita beli makanan khas dagangan Yu Asih,” kata Mulyani.

Nino Moebi

-->