Penulis minta kepada Mbah Jaiman atau Mbah Bisu untuk melakukan prediksi dua kali pada tempat berbeda dan masih konsisten dengan pilihannya. Foto: Dok penulis

SAYA pernah mengalami masa saat sulit meyakini “keajaiban”. Semakin sering saya amati, saya menyimpulkan, ah.. biasa-biasa saja…” Andai ada yang dianggap “ajaib”, itu karena belum ketemu rumusnya.

Sikap tak mudah percaya itu terjawab saat saya di  Makassar. Saat diskusi dengan teman-teman, saya berkisah tetang tetangga desa yang punya indera batin. Karena saat itu Makassar akan pilihan Wali Kota, mereka tertarik uji coba memprediksi calon Wali Kota Makassar.

Sesampai di rumah,  ada yang mengirim 10 foto calon. Selanjutnya saya tunjukkan Mbah Jaiman atau yang disapa Mbah Bisu. Spontan, dia menunjuk  gambar calon berbaju oranye, nomor urut 2 (dua).  Dan ketika saya arahkan ke calon lain (yang didukung teman-teman saya), dia marah dan memberi isyarat: “Hanya dia yang didoakan.” Sambil menciumi gambar calon berbaju orange itu.

Rasanya itu tidak  mungkin spekulasi, karena calonnya ada 10. Dan kemudian terbukti, calon yang dijagokan Mbah Jaiman itu yang kemudian unggul sebagai pemenang.

Pilpres Ilmu Titen

Hanya untuk iseng dan “rame-rame”, jelang Pilpres, saya mengupaload “Prediksi Pilpres” di akun Facebook hasil prediksi Mbah Jaiman. Komentar dari dua kubu pun meriah. Bahkan ada yang menyesatkan saya, karena percaya ramalan. Dan hasilnya pun tepat, namun ini kurang dramatis, karena calonnya hanya dua.

Menurut para sesepuh, tanda calon yang nanti unggul dalam pemilihan  itu dapat dibaca dengan mengamati  tanda-tanda yang dialami dan dirasakan calon dan apa yang terjadi di sekitar rumahnya.

Untuk Pilkades atau Pilkada, metode ini dapat dijadikan cara membaca tanda alam. Di antara tanda yang positif itu  ditandai : Adanya hewan masuk rumah, yaitu kupu besar (kupu gajah), samberlilen/sambeliler, ayam jantan (jago), apalagi jika ayam itu naik kursi.

Orang Jawa menyakini kepemimpinan itu ada faktor “pulung” yang  digambarkan sebagai cahaya putih. Calon yang didatangi cahaya itu diyakini bakal unggul. Cahaya itu dapat dilihat orang yang kasyif (punya indera keenam).

Situasi rumah calon juga dapat dideteksi. Jika auranya cemerlang, itu pertanda ada keberkahan. Tanda lain, saat melekan atau  jagong malam hari, rumah calon sering dikunjungi orang keterbelakangan mental. Kenapa? Orang seperti itu medukungnya ikhlas. Sedangkan dukungan orang waras sering karena pamrih : dapat jabatan, proyek, dsb.

Tanda Positif

Dalam kepercayaan Jawa, calon jadi karena diikuti pulung atau “cahaya putih” sebagai sinyal kepemimpinan. Tanda dari yang diikuti pulung itu sering mengantuk efek dari gelombang otaknya Alpha – Theta sehingga batinnya lebih tenang hingga mampu berpikir positif, dada lapang, siap menang atau kalah.

Dalam konsep tasawuf, salah satu indikasi dari doa yang dibukakan pintu langit, ditandai dada lapang.  Tanda keberhasilan yang lain, aura wajah calon cerah, saat tidur mimpi indah: Melihat bulan purnama, bertemu atau bersalaman dengan para tokoh seperti presiden, raja, dan saat bangun tubuh terasa enteng dan nyaman.

Mbah Jaiman bersama penulis. Foto: Dok

Tanda Negatif

Sebaliknya, kegagalan sering ditandai dengan mimpi buruk dan saat bangun terasa tidak nyaman, mimpi hanyut di sungai keruh, berenang melawan arus, mendaki tebing dan bagian yang dipijak selalu longsor, dikejar anjing, ular, dan saat bangun lalu gelisah,  uring-uringan, pegal-pegal dan sulit konsentrasi.

Tanda pada luar diri calon gagal ditandai, rumah sering dimasuki hewan  yang biasa tinggal di tempat kotor :  kecoa, tikus, ular, sekumpulan ulat gatal. Termasuk gelas terjatuh dan pecah saat banyak tamu, itu indikasi di situ vibrasinya negatif hingga memengaruhi orang menjadi tidak tenang.

Tanda calon gagal, dia  cenderung bernafas dengan dada, pendek-pendek dan tersendat, sedangkan calon jadi bernafas dengan perut dengan  tarikan dan hembusan lebih panjang, ini menunjukkan kondisi otaknya sedang rileks.

Menurut Ilmu Titen, calon jadi biasanya sejak remaja senang olah batin : wirid, tirakat, dsb. Unen unen (ungkapan) Jawa :  Sapa sing betah tirakat, bakal manggul derajat (Siapa yang tahan melakukan tirakat akan membawa derajat), termasuk mereka yang biasa menjauhi Malima: Maling, Minum, Main, Madat, Madon. Kenapa?

Karena sapa sing uripe murka, pulunge bakal sirna, yang artinya siapa yang hidupnya murka, wahyunya akan sirna. Dan orang yang kuat membawa derajat itu pada umumnya sejak remaja sudah menunjukkan sikap tawaduk, dan salah satu dari tanda yang hampir pasti, dia termasuk anak yang patuh dan dekat dengan ibunya.

Salah satu tanda calon yang kepanjingan wahyu, itu banyak dibantu orang secara suka rela, dan bukan  karena faktor uang. Itu efek dari kekuatan batin calon (pulung) yang memayunginya atau faktor leluhur  yang pernah  jadi pemimpin, apalagi jika dia pernah bermimpi bertemu pembesar (presiden atau raja).

Selain tanda sebagaimana tersebut diatas, sinyal kepemimpinan itu juga bisa datang dari “tanda-tanda alam” yang lain. Misalnya, saat lagi menerima tamu,  tiba-tiba ada tamu dari daerah lain yang juga tidak punya hak pilih, namun dia menyatakan dukungan.

Tamu itu memperkenalkan diri, namanya, Kabul. Begitu dengar  kata “Kabul”, hati beberapa orang yang terbiasa mengasah rohaninya itu bergetar.  Fenomena ini bisa dimaknai tuan rumah itu, insya Allah kabul hajatnya.

Tentu, sinyal macam itu hanya bisa ditangkap dan dirasakan oleh  hati yang terlatih dalam olah batin, dan bukan sekedar “otak-atik” logika.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisikan tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati.

 

 

 

 

-->