ilustrasi

TEMAN saya, seorang tokoh masyarakat, suatu hari bertemu orang pintar yang mengaku bisa menggandakan uang secara massal. Caranya, mereka diminta setor uang. Setelah itu membuat kotak kayu dan dijanjikan setiap pagi kotak itu akan terisi uang.

Karena yang mengajak itu tokoh masyarakat yang dihormati, hampir semua warga gabung. Dan dalam waktu singkat, uang kertas itu sudah terkumpul satu kantong terigu. Selanjutnya beberapa perwakilan warga mengantarkan uang itu ke kediaman orang pintar,  sekaligus menerima penjelasan proses tahapan berikutnya.

Dijelaskan, semua peserta harus menyiapkan kotak kayu di rumah masing-masing dan bagian atasnya diberi lobang kecil layaknya kotak amal. Selanjutnya, mereka diminta datang pada malam Jumat Wage untuk ritual di pantai selatan.

Keajaiban Pagi

Pada malam yang dijadwalkan, mereka melakukan ritual. Klimaksnya, satu kantong terigu uang jamaah itu dilempar ke laut untuk “dipersembahkan” kepada penguasa Laut Selatan. Setelah itu mereka pulang ke desanya.

Anehnya, pagi hari semua kotak peserta ritual itu terisi satu lembar uang kertas. Ada yang nominal Rp.5.000 – Rp 10.000 – dan  Rp.20.000. Pada tahun 90-an akhir, nilai uang sejumlah itu masih berharga. Mereka pun menyambut dengan suka cita.

Namun apa yang kemudian terjadi? Pada pagi yang keempat, suplai uang itu terhenti hingga menimbulkan kegaduhan. Setelah berunding, mereka sepakat mendatangi kediaman orang pintar di wilayah selatan bersama-sama.

Sesampai rumah yang dituju, mereka menjelaskan apa yang terjadi. Namun dengan santainya tuan rumah menjawab : “Lho.. bukankah kemarin semua kotak sampeyan itu sudah kemasukan uang.. nah, kalau tiba-tiba uang itu tidak datang lagi.. bisa jadi ada diantara kalian yang hatinya kurang bersih, tidak ikhlas.. su’udhon… “

Akhirnya, mereka itu kembali ke daerahnya. Dan sepanjang perjalanan pulang, mereka ribut, saling tuding,  kamu tidak ikhlas, su’udhon dan sebagainya.

ilustrasi

Hati Dipeluk Iblis

Fenomena memburu “uang iblis” itu mengingatkan kisah yang pernah dialami salah satu warga yang prihatin melihat saudaranya ada yang hobi memburu kekayaan melalui jalur magis : penggandaan uang, menarik harta dari alam gaib, dsb.

Dengan niat mencarikan obat, Bapak itu sowan sesepuh yang dikenal alim dan kasyif. Namun apa jawab beliau?  “Orang menganggap saya ini wali, tapi kalau untuk urusan orang terlilit harta karun atau pesugihan alam gaib, doa saya tidak mempan, karena orang seperti itu hatinya sudah dikeloni (peluk) iblis… jangankan doa saya, wali tujuh pun tak mampu… yang bisa diharapkan tinggal  menunggu hidayah dari Allah.”

Disebutkan, orang yang telanjur terlilit barang magis “antik” dsb, itu sembuhnya alami ketika dia sudah tak punya apa-apa, tak lagi punya uang untuk jalan, dan sudah tidak ada orang yang percaya meminjami untuk operasional. Menurut beliau,  andaikan orang itu masih punya seekor kambing, maka itu pun akan dijual untuk membiayai perburuan terakhir, yang diyakini penentu keberhasilannya.

Versi Psikiater

Ketika Bapak itu datang ke kediaman saya untuk minta masukan, lebih mantabnya, saya kontak teman yang psikiater. Hasil diskusi itu dia menyimpulankan. “Jika orang itu masih bisa menerima nasihat, saran, berarti dia masih waras,  namun jika ide atau khayalan-khayalannya sudah tidak bisa dibelokkan siapa pun, dan dia merasa yang diupayakan itu pasti berhasil, berarti dia itu sudah perlu perawatan.

Mereka yang terjerat iming-iming semacam itu, adalah orang yang dalam posisi terpesona. Sebagian besar dari kalangan  awam, namun ada juga dari kalangan intelektual yang bidang keilmuannya tidak mampu menganalisa “keajaiban” yang menyebabkannya terpesona.

Para cendekiawan hanya ahli dibidang keilmuannya. Habibie pakar membuat pesawat, namun jika diskusi soal cara membuat keranjang dengan pakar menganyam keranjang, maka beliau manjadi awam. Karena itu, dapat dimaklumi jika suatu saat ada cendekiawan dengan sederet gelarnya, terpesona dengan dukun pengganda uang.

Mereka tidak tahu apa yang dianggap keajaiban itu teknik yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari dan rahasianya hanya diketahui kelompok mereka. Singkatnya, uang itu bukan efek sihir, melainkan hasil dari mengumpulkan sekian puluh korban. Dan sebagiannya uang palsu.

Sebagai penulis masalah metafisika, ruang tamu saya adalah tempat mengadu banyak orang yang “jatuh bangun” karena terlilit masalah seputar yang saya tulis ini. Kebanyakan dari mereka bukan pelaku, melainkan korban, atau sekedar orang yang karena keawamannya lalu mengajak massa untuk bergabung pada proyek yang semula dianggap angin surga ini.

Kata sesepuh, jadi orang itu jangan suka “grusa-grusu” memburu angin surga. Karena keberuntungan itu tidak menghampiri orang yang terlalu bernafsu memburunya, sikap tamak menjanjikan sesuatu yang sulit dipenuhi, panjang angan-angan membutakan mata hati dan menuai amal buruk.

Masruri, konsultan dan praktisi metafisika tinggal di Siarahan, Cluwak, Pati

-->