Ilustrasi

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

(Warnai Senin kita ini dengan sukacita penuh harapan karena vaksin untuk menangkal Corona  semakin di depan mata).

Kali ini, mari kita membahas tokoh, dan pertanyaan awalnya ialah: Siapakah yang disebut tokoh itu dewasa ini?  Di zaman serba “dikuasai” oleh medsos saat ini, kriteria seseorang disebut tokoh ialah dia (mereka?) yang sering muncul dan dibicarakan khalayak; itulah tokoh.

Namun siapa pun hendaknya menyadari betapa ketokohan seseorang kalau hanya karena di-medsos-kan (apalagi bersandar semata-mata padanya), – maaf seribu maaf – , rentang waktunya menjadi/sebagai tokoh hanyalah dalam hitungan seminggu atau paling lama dua minggu saja.

Dua tiga minggu lalu siapa pun pasti terkesima dengan tampilnya figur tokoh “Bu Tejo,” –hee—eh tenann; Yo to…??? – , tetapi sekarang masihkah beliau Bu Tejo itu “bertengger?” Tidak lagi, dan sudah diganti oleh “tokoh” lain. Silih-bergantinya ketokohan seseorang begitu cepat.

Kalau dulu-dulu kita sering mengucapkan “hanya seumur jagung” durasi waktunya untuk menggambarkan begitu cepatnya; sekarang kosakata apa paling tepat untuk menggmbarkannya?  Secepat seruput secangkir kopi, atau sehisapan rokok filter?

Tentu ada tokoh-tokoh awet, dalam arti, bahkan  sudah purna tugas pun tiba-tiba muncul sebagai tokoh. Mengapa saya sebut “tokoh awet?” Karena, dulu pernah muncul sebagai tokoh karena, misalnya, jabatannya; dan kini muncul lagi meski sudah bukan pejabat lagi. Boleh saja kan?  Mangga kersa.

Pada sisi yang lain, salah satu segmen masyarakat juga berhak bertanya, mengapa “muncul lagi?” Belum puaskah,  atau karena ada agenda lain? Dan wajar saja kalau ada segmen masyarakat lainnya, -seolah-olah tahu- , lalu menjawab: “Sedang menjajagi, kalau-kalau “jualannya” laku.

Singkat kata, masyarakat itu tidak ada yang tunggal, pendapatnya maupun penangkapannya pun tidak mungkin sama. Oleh karena itu wajar saja kalau munculnya “tokoh awet”  ditanggapi dengan berbagai sikap berbeda, maka tidak perlulah tokoh-tokoh seperti itu baper atau wadulan, atau entah apalah reaksi lainnya bila menerima tanggapan yang berbeda-beda.

Adol Gawe

Satu hal yang paling diamati oleh masyarakat segmen mana pun terhadap kemunculan “tokoh awet” ialah cara dan konten wicara tokoh-tokoh itu. Intinya: Apa dan bagaimana wicaranya? Glethek pethele, adol gawe apa ora? 

Kalau cara dan kontennya mung adol gawe, ya wis manga kersa, dalam arti masyarakat segmen mana pun perlahan-lahan pasti akan “mundur.”  Sebaliknya, kalau cara dan kontennya benar-benar mentes, teges, lan netes, daya tarik akan sertamerta muncul dan pasti ada saja segmen masyarakat yang “ikut.”

Apa itu adol gawe? Maaf seribu maaf, secara garis besar, mantan pejabat mana pun dan siapa pun, selalu tergoda untuk (mung) adol gawe ketika berbicara, apalagi kalau dapat angin, misalnya lalu dapat panggung, dapat kelompok/pengikut, lalu diundang ke satu panggung dan pindah ke panggung lain. Mesti kecenderungannya, –nyuwun sewu- , mung adol gawe  karena hanya itulah milik dan kemampuannya yang tersisa.

Adol gawe ialah ngumukake kasegrepane (biyen); dan itu bisa berarti bukan hanya menyombongkan kerajinannya semata, juga (pasti) akan tergoda menyombongkan jasa-jasanya dulu, kebijakannya dulu, kehebatan lainnya yang memang dulu pernah dimiliki.

Pertanyaannya, apakah segala kelebihannya yang dulu pernah dimiliki itu terbawa serta sampai sekarang?  Mungkin masih ada atau kelihatan sisa-sisanya, tetapi zaman ini berkembang begitu cepatnya. Sehebat apa pun dulu, sebut misalnya, ahli strategi misalnya, tetapi apakah sekarang benar-benar masih hebat; rasanya mustahil.

Baca Juga: Nggugat Kayu Aking

Cara dan konten mung adol gawe  sangat mudah dideteksi; sebutlah dalam lima menit pertama omongan seseorang, sudah dapat ditengarai apakah tokoh ini bener-bener mentes, teges, lan bakal netes, ataukah sekedar mau mengisahkan masa kejayaannya dulu saja, lalu bersemangat akan memperjuangkannya ke depan. Mangga kersa..

Dalam kehidupan bermasyarakat, ada pengetahuan lokal yang diam-diam terus terpelihara untuk memperkaya hati lebih-lebih ketika menghadapi atau mendengarkan tokoh berbicara,  yakni 3 N, ialah nyimak, nyathet, lan niteni. Nyimak itu mendengarkan, dan apa yang didengar itu dicatat, selanjutnya semua yang dicatat itu lalu dicocokkan dengan kenyataan sehari-harinya (tingkahlakunya misalnya), sehingga akan terbukti apakah bener atau mung waton omong, waton dodolan.

Simpulannya, adol gawe tidak laku untuk generasi milenial. Coba saja Anda cerita ke cucu, misalnya di zaman dulu aku masih SMP, setiap hari jalan kaki dari rumah ke sekolah, pulang pergi 4 kilometer. Akankah cucu kita komentar: “Wah hebat sekali perjuangan Akung dulu?” Pasti tidak, malah-malah mereka akan komen, jadul Kung, jadul… Aja adol gawe Kung!

JC Tukiman Tarunasayoga

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan)

 

 

 

 

-->