Memasang cincin pernikahan (liustrasi)

SUATU hari tiga pejabat desa sowan kiai sepuh yang nasihat-nasihatnya banyak dijadikan rujukan. Mereka minta nasihat soal tradisi warganya yang menikahkan anak ngumpul pada bulan tertentu. Mereka mencari referensi pembanding, karena tradisi warga menikah pilih hari dan bulan baik, maka saat “musim kawin” pada hari dan bulan yang sama, satu desa ada beberapa warga yang menikah bersamaan.

Berdalih kerukunan, warga yang tidak mampu pun  “wajib” hadir dan menyumbang. Walau tak ada ketentuan jumlah, tradisinya pada amplop itu ditulis nama. Dan saat pesta usai, tuan rumah  mencatat nama, alamat dan nominal sumbangan agar jika si penyumbang itu punya kerja, dia  akan “mengembalikan” sejumlah yang sama.

Pemuka desa itu berupaya “memecah” fokus warganya agar punya kerja (pernikahan) tidak terpaku satu mazhab saja dan numpuk pada satu waktu! Dan apa jawab sesepuh itu?  ”Jumat itu sayyidul ayyam (pemimpin semua hari). Karena banyaknya keistimewaan, maka para ulama menganjurkan akad nikah pada hari itu. Selain hari Jumat, bisa pilih tangal 7, 17, dan 27 Hijriyah. “Siapa tahu nanti dapat pertolongan dan pituduh (hidayah) dari-Nya”.

Kalkulasi Sosial

Selain nilai spiritual yang terdapat pada petuah itu, dari sisi logika  dapat diterima dan “menguntungkan” banyak pihak. Mulai dari perias, tukang foto, dekor, percetakan, penceramah, biduan, pawang hujan, persewaan tenda, kursi, dsb, ordernya stabil. Mereka yang aktivitasnya berkaitan pernikahan sering menolak job jika dalam satu hari ada beberapa orang punya kerja.

Dari pihak warga pun sering “mengeluh” karena harus mendatangi banyak undangan, baik yang satu desa, tetangga desa atau keluar kota. Maka, pada “musim kawin” itu saku warga terkuras. Imbasnya, pada kalangan ekonomi lemah ada yang menjual ternak, “banggal” buah yang belum saatnya panen, bahkan berurusan dengan rentenir.

Tradisi “sedekah kerukunan” lalu terkesan “meminjamkan” yang  suatu saat bisa ditarik kembali. Lantas bagaimana dengan mereka yang tidak punya anak? Maka, pernah ada pedagang pasar, karena dia belum punya keturunan, karena  sering menghadiri undangan sesama pedagang, dia lalu pinjam anak tetangga untuk disunatkan. Hasilnya? Balik modal.

Peran Keyakinan

Untuk mencari hari baik menikah, orang desa cenderung bertanya pada tetua adat atau dukun ahli hitung. Sedangkan hitungan versi santri belum banyak dikenal. Sebenarnya, semua hari itu baik, namun sebagian orang Jawa memiliki penghormatan kepada sesepuhnya yang sudah meninggal, maka pada hari itu secara adab dianggap kurang pas untuk pesta.

Sedangkan yang berkaitan hari “sial” itu sifatnya kondisonal, dan pertimbangannya tak selalu berkaitan tradisi atau metafisis karena sebagaian masyarakat Jawa masih mengikuti ajaran leluhurnya dengan ilmu titen. Mereka punya asumsi beragam. Dan yang menjadi kurang pas itu ketika ada anggapan adanya hari pembawa petaka.

Dipercaya dan Berlaku

Saya punya kenalan pebisnis sukses. Dia memelajari dan sekaligus menerapkan ilmu hitung yang diajarkan Ayahnya. Saat saya tanya  “keabsahan” dari ilmu tersebut, dia menjawab, “Saya meyakini karena saya siap hidup di dunia modern, namun tetap njawani.”

Dia meyakini adanya satuan weton tertentu yang menyebabkan pisah pati (salah satu meninggal) sebelum usia tua, dan satuan pengantin sukses tapi kedua orang tuanya meninggal atau kesusahan. Namun ada jenis satuan yang paling dicari, karena pemilik weton itu walau kerja santai pun, rezeki berdatangan.

“Ada weton bagus yang diyakini mudah dalam mencari rezeki, apalagi kalau lelaki anak pertama menikah dengan wanita anak terakhir (bungsu) malah bagus lagi. Istilahnya tumbu ketemu tutup. Namun kalau satuan weton sama, sering berantem dan ujungnya cerai, kecuali kalau diruwat. Insya Allah selamat,” tuturnya.

Sebagai pengusaha di bidang peternakan, “astrologi” itu dimanfaatkan saat membeli tambahan ternak.  Dia menggunakan hitungan Jawa yang jatuh pada hitungan “Ratu”  atau “Buta” (raksasa). Namun, menurutnya semua konsep itu tidak akan berlaku jika tidak diyakininya.

Akad nikah (ilustrasi).

Dia menuturkan temannya yang tidak mempercayai adat sama sekali. Saat mau menikah keduanya tidak tahu weton masing-masing, dan nikahnya pun pilih hari Minggu, dengan pertimbangan libur kerja. Padahal hari dia menikah itu hari meninggal (jawa : geblag) orang tuanya.

Namun karena dia mantab dan basis budayanya tidak meyakini hal itu, sampai kini rumah tangganya aman-aman saja. Artinya, pribadi semacam itu ibarat orang yang berdiri di luar areal sugesti, sehingga dia tidak terikat dengan tradisi yang berlaku.

Kesimpulannya? Ada teman yang batal menikah karena wetonnya sama dengan weton orangtua dari pihak perempuan. Untungnya weton itu ditanyakan Ibu dari keluarga perempuan lebih awal sehingga dia tidak terlalu sakit hati karena belum menjalin hubungan lebih dekat.

Padahal, yang berkaitan dengan weton itu tidak mutlak. Andai dianggap tidak atau kurang cocok, sebenarnya dapat “ditebus” dengan laku “buang sial” puasa atau sedekah.

Bahkan bagi yang khawatir kalau wetonnya nanti dianggap kurang atau tidak cocok versi calon mertuanya, bisa konsultasi ke saya, dan nanti saya pilihkan weton yang paling terbaik untuk berjodoh dengan wanita yang diidamkan. Bismillah… Sluman, slumun, slamet.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati

 

-->