Ilustrasi

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

Seninku  yang seharusnya menggairahkan minggu ini, Bikin agak sedih gara-gara masker.

 Barangnya sangat sederhana, kecil, murah dan mudah didapatkannya, tetapi terasa begitu mahal dan besar maknanya terkait dengan keselamatan hidup di tengah pandemi Corona ini. Itulah masker.

Dia yang kecil sederhana itu, seharusnya jangan disepelekan; namun dalam kenyataan hidup sehari-hari, ada saja yang sangat tidak peduli bahkan berlaku bodoh karena tidak mau mengenakannya.

Sejumlah orang terkena sanksi karena tidak mau memakai masker, -ada cewek memakai rok pendek harus kena hukuman jongkok-jongkok 20 kali, ada juga sejumlah orang harus nyemplung ke sungai memunguti sampah di sana, ada juga yang saking gugupnya orang meninggalkan sepeda motornya begitu saja karena kena razia masker.

Pertanyaan besarnya ialah: Apa sih susahnya memakai masker? Barang itu ringan sekali, murah banget, bermanfaat sangat besar untuk kesehatan diri dan orang lain. Tidak mau menjadi pahala bagi orang lainkah? Tidak relakah menjadi berkat dan berbagi berkat bagi sesama padahal hanya sekedar memakai masker?

Oh Masker

Menumbuh-kembangkan kesadaran manusia terbukti tidaklah mudah. Berbagai “bencana besar” –termasuk pandemi Corona ini besar lho – , ternyata tidak serta merta dapat menyadarkan manusia.

Bahkan, sudah disertai sanksi pun, seperti contohnya berbagai sanksi bagi mereka yang tidak memakai masker, masih saja amat banyak orang yang tidak menyadari betapa pentingnya menjaga atau melindungi diri dan melindungi orang lain dari bahaya yang mengancam kesehatan.

Masker oh masker, jasamu besar, tetapi disepelekan. Ada apa dengan “dirimu” masker? Mengapa kau tidak juga secepatnya menyadarkan semua orang untuk mau memakaimu?

Terbukti dan sangat terbukti bahkan, betapa amat banyaknya orang yang tidak senang terhadap adanya perubahan, sekecil apapun perubahan itu.

Dalam ungkapan baha salain, orang-orang  memang cenderung indifferent to change, tidak suka dan tidak mau kalau diajak berubah, tetapi di sisi lain sangat sering mensorong-dorong orang lain agar berubah.

Gambarannya seperti pengantin baru, suami minta istrinya menjadi wanita super dan sempurna tanpa cacat; sementara istri berharap-harap agar suaminya mau berubah, misalnya dari malas menjadi rajin, dari cuek menjadi perhatian, dari dulunya semau gue menjadi teliti, dsb. Terjadikah?

Omong kosong kalau ada yang menjawab terjadi; karena di mana pun dan pada diri siapa pun, justru sifat aslinyalah yang akan terungkap manakala sudah berkeluarga.

Dadigawe

Masker, benda sesederhana itu, ternyata dadigawe dewasa ini. Idiom dadigawe bermakna nyusahake, menjadikan (banyak pihak) susah, menyusahkan.

Bayangkan saja kalau orang-orang pada taat memakai masker, itu berarti tidak perlu ada razia masker yang dilakukan oleh satpol PP atau pun kepolisian.

Aparat itu dapat melaksanakan tugas utama lainnya, ora banjur ngurusi masker kalau saja hal kecil masker sudah ditaati pemakaiannya oleh setiap orang.

Sesuatu disebutd dadigawe, dalam arti nyusahake, karena seharusnya hal itu (razia misalnya) tidak perlu terjadi, namun senyatanya harus dilaksanakan berhubung orang-orang pancen gawe susah.

Pengalaman hidup sehari-hari mengajarkan bahwa hal-hal yang membuat susah (menyusahkan) itu terbukti adalah hal-hal kecil saja. Dengan kata lain, hal kecil saja sudah dapat menyusahkan banyak pihak, belum lagi hal besar.

Masker saja sudah menyusahkan,  -ekstremnya membuat pontang-panting- , dan bagaimana kalau halnya jauh lebih besar dari sekedar masker? Hal kecil ternyata dapat bermakna besar dalam kehidupan ini, dan semakin kontekstual, hal kecil itu berubah menjadi primadona.

Kita lihat saja, dalam konteks kesehatan karena gempuran Covid- 19, masker menjadi primadona bermahkota tujuh susun mengingat begitu penting dan sentralnya pemakaian masker saat-saatini.

Dadigawe berbeda dari duwegawe meski pun keduanya menggambarkan kesibukan yang menyertainya. Dadigawe menimbulkan kesibukan yang bikin repot nan  menyusahkan, duwegawe (punya hajatan) cenderung membawa serta kegembiraan, ingar-bingar pesta makan-minum.

Baca Juga: Beda Cidra ing Ubaya dari Silih Cidra

Kesusahan yang ditimbulkan oleh ketidak taatan memakai masker dapat berdampak lebih menyusahkan lagi karena mempercepat penularan contohnya; sementara kegembiraan yang menyertai orang duwegawe, yah…paling punya hutang saja, he..he..he…Nyaurutang masih bias ngemplang lan sumaya, tetapi penyakit akibat kena Corona, bias ngemplangkah dikau wahai orang-orang yang tidak taat pakai masker?

Tolong deh, jangan bermain-main dengan virus ganas. Karena itu, alangkah terpuji dan jika semua orang taat pada protocol kesehatan karena memang saat ini sedang sangat diperlukan. Kelak ketika tidak diperlukan lagi ketaatan memakai masker, silakan berbebas ria.

Mari awali minggu ini dengan taat memakai masker!!!

JC Tukiman Tarunasayoga

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan)

-->