blank
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersama Istri Siti Atikoh mengunjungi UKM Rajutan Nyonya di Perum Dolog Indah, Tlogosari, Semarang disela gowes pagi, Minggu (6/9/2030). Foto: ist

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyambangi beberapa UKM  di tengah kegiatan bersepedanya bersama istri, Siti Atiqoh, di Semarang, Minggu (15/9) lalu. Yang dikunjungi adalah UKM Rajutan Nyonya, UKM Super Roti yang memproduksi Roti Bekatul, dan UKM Anindya Batik. Ketiganya memiliki perbedaan dan kesamaan dalam hal bertahan di tengah pandemi.

Di sini, Ganjar Pranowo bisa melihat, bagaimana UKM bertahan hidup tanpa mengurangi karyawan menjadi sebuah tantangan besar yang dihadapi oleh para pelaku usaha.

Ketika beberapa usaha makro banyak merumahkan karyawan, usaha kecil dan menengah (UKM) justru muncul dengan seni bertahan yang dimilikinya tanpa pengurangan karyawan. Seni bertahan ala UKM itu tentu memiliki kunci, di antaranya terus berinovasi, pantang menyerah, dan bekerja dari hati.

UKM Rajutan Nyonya milik Ratih Setya mampu bertahan setelah berinovasi dengan membuat terobosan berupa produksi masker rajut. Sentra UKM Rajutan Nyonya berada di Perum Dolog Indah nomor 15, Tlogosari Wetan, Pedurungan. Usaha itu melibatkan ibu rumah tangga dan lansia dalam produksi karya rajutan berupa tas, dompet, taplak meja, dan lainnya.

“Ini sudah dari tahun 2014 merintisnya. Untuk yang membantu, saya memberdayakan ibu-ibu lansia dan ibu rumah tangga yang bisa merajut. Produk saya dari tas, dompet, terus dari bahan sisa pembuatan itu bisa dijadikan bros dan yang terbaru ini masker rajut. Masker diproduksi sejak awal-awal pandemi karena dari kita semua butuh masker dan karena saya di bidang rajut ya gimana caranya bikin masker dari rajut. Ternyata peminatnya sangat banyak sekali. Sebulan bisa produksi sekitar 200 masker rajut,” kata Ratih Setya.

Menurut Ratih, hasil rajutan miliknya memadukan dengan bahan lain seperti kulit, tenun Troso, dan songket. Juga motif-motif seperti flora-fauna, bunga, dan wayang. Kunci Ratih dapat bertahan di masa Pandemi karena selalu berinovasi dan tidak putus asa.

“Kita cari terobosan-terobosan terus dan kita kembangkan. Sebelum pandemi kita buat tas dompet dan suvenir seperti bros, home decor, pokoknya semua rajut. Setelah pandemi ini ada terobosan baru yaitu masker rajut tadi dengan berbagai macam model,” ujarnya usai dikunjungi Ganjar Pranowo.

Roti Bekatul

Begitu halnya dengan UKM Super Roti yang berada di Jalan Fatmawati nomor 91, Kota Semarang. UKM dengan produk unggulan Roti Bekatul milik Ismiati ini bisa bertahan karena mempertahankan ciri khas produk unggulan. Ia juga terus berinovasi dengan mengikuti permintaan konsumen terkait rasa dan varian produk Bekatul lain yang diinginkan. Ismiati juga tidak merumahkan satu pun karyawannya dari total 22 karyawan.

“Selama pandemi ini untuk Roti Bekatul justru naik, kalau yang roti terigu turun. Orang di masa pandemi ini kan mencari apa yang dibutuhkan bukan yang diinginkan karena butuh sehat dan lainnya. Karyawan tetap ada 22, di sini (toko) ada 4, lainnya di Sawah Besar. Selama pandemi ini saya tidak mengurangi atau merumahkan karyawan satu pun,” ujar Ismiati.

Ismiati memilih tidak mengurangi karyawan karena kondisi saat ini sedang sulit dan mengajak untuk bergandengan tangan menghadapi lesunya roda perekonomian. Pilihannya jatuh dengan menginovasi harga jual produk-produk unggulannya menjadi setengah harga biasa.

“Saya bilang ke mereka, ayo kita bergandengan tangan jangan sampai ada pengurangan karyawan karena kondisi sedang sulit. Caranya kita bikin roti dari hati. Kita bikin yang bagus, yang enak, biar konsumen puas dan mencari kita,” kata Ismiati yang telah berhasil mencapai pasar internasional untuk produknya.

Terakhir, UKM Anindya Batik di Jalan Kedungmundu, Semarang, yang dikelola oleh Lisa Farida. UKM ini sempat terjatuh dan berhenti produksi selama masa awal pandemi Covid-19. Masa awal itu Anindya Batik tidak mendapat satu pun order baju batik dan 11 pameran hingga bulan Desember batal. Namun UKM yang membina kawan difabel seperti tuna rungu dan tuna wicara itu akhirnya bangkit setelah berinovasi dengan membuat masker batik.

“Awal pandemi yaitu bulan Maret-April kami menangis, bukan hanya saya tetapi semua karyawan juga menangis karena saya liburkan. Mereka takut karena masih anget-angetnya Corona. Kami benar-benar stop produksi, akhirnya ada customer dari Surabaya minta dikirim masker batik abstrak,” tuturnya di depan Ganjar.

Bak oase di tengah padang pasir, pesanan masker itu memantik semangat Anindya Batik untuk memproduksi secara massal masker batik tersebut. Luar biasanya ia berhasil menampung lebih banyak kawan difabel. Setidaknya ada 10 kawan difabel yang dirumahkan dari industri konveksi dan sepatu.

“Dari awalnya kami terdampak karena pandemi sampai akhirnya kami justru buka lapangan pekerjaan karena orderan banyak. Mereka ada yang dari pabrik sepatu dan konveksi yang industrinya tutup yang difabel saya panggil untuk main ke sini. Mereka bilang bisa mengerjakan dan akhirnya ikut ambil kain dikerjakan di rumah. Kurang lebih 10 orang baru yang ditarik selama pandemi, termasuk yang bekerja di pabrik di Pekalongan,” ujarnya.

Ganjar Pranowo mengatakan tiga UKM itu merupakan contoh bagaimana usaha kecil menengah bisa bertahan dengan caranya masing-masing. Pertama UKM Rajutan Nyonya bisa bertahan serta mengajak ibu rumah tangga dan lansia untuk membuat rajutan. Kedua Roti Bekatul yang berani menjual produk 50 persen dari harga biasa untuk meningkatkan penjualan. Ketiga Anindya Batik yang bertahan dengan membuat masker batik.

“Saya sedang cek bagaimana UKM kita bisa survive, bisa jalan, dan mereka masih bisa semangat. Menariknya dari batik Anindya ini adalah penjahitnya penyandang disabilitas. Ada tuna rungu dan tuna wicara. Ini semuanya bisa bekerja dan  produksinya jalan terus-menerus. Ini karya-karya mereka yang perlu kita support, musti kita beli. Kita beli produk teman kita rame-rame,” katanya.

Hery Priyono-trs