Upacara pemakaman (ilustrasi). Foto: Hadi Priyanto

Amir Machmud NS
Kematian Ibu

tiap percakapan telepon seperti menarasikan reportase sunyi
kau ceritakan orang-orang yang mati di desa kita
tentang carik kusnin yang mati muda karena asma
tentang mbah nasirin yang awet muda hingga wafatnya
tentang kang jamin yang mati tanpa mengeluhkan sakit apa
tentang orang-orang dari generasimu yang satu demi satu pergi

acap kutangkap bahasa resah
: doakan ibumu ini sehat

pada saatnya kau tak mereportase dirimu sendiri
dan kabar itu tiba
: kau tiada
seperti tergesa
dalam sunyi yang hanya melewat sesaat

seperti angin tiba-tiba berhenti
aku tak lagi punya kamu, ibuku

kau mempola persis kepergian sunyi ayah
sembilan belas tahun silam
yang melukis sederhana tentang kematiannya
tak berpamitan lewat sakit apa

ibu mendadak pergi
dulu ayah juga tak berpesan apa-apa
dengan caranya seperti meminta
kami ikhlas melepas

aku tak lagi punya kamu, ibuku
kau taruh hidup untuk anak, cucu, dan buyut-buyutmu
mengetengahkan akhir yang tak merepotkan semua
menarasikan lagu hidup
tentang kematian yang terang
mewariskan benderang
tentang akhir yang bercahaya

tak ada lagi percakapan telepon
yang meng-update dinamika desa
menyusun kabar siapa yang mati hari ini

tak kau informasikan sebelumnya
kepergianmu yang tiba-tiba
seperti telah kau jadwalkan
menyusul suamimu.

7 September 2020

Amir Machmud NS
Serasa Kau Masih di Rumah Ini

serasa kau masih di rumah ini
hingga tujuh hari yang sunyi
pada tiap pagi mengingatkan
azan subuh sudah mengalun
muazin tua mengiris langit desa

tetap kau perlakukan aku seperti dulu
pada masa-masa sekolahku

semesta benar-benar mengajarkan
seperti inilah kehilangan
ada yang tiba ada yang pergi

hidup bagai mengunggah pelangi
berbait-bait laksana puisi
kau berjalan tergesa menapakinya
lalu hilang terbungkus kabut dingin

serasa kau masih di rumah ini
mengawal tahajud dan witirku
menggenapkan subuh demi pagiku.

Sirahan, 10 September 2020

-->