Pemasangan susuk. (Ilustrasi).

AWAL tahun 1996, di sebuah hotel di Surabaya diadakan seminar susuk. Pada even itu, paranormal asal Pati tampil sebagai pembicara utama tampak kesulitan saat demo memasukkan susuk kepada salah satu peserta seminar.

Saat susuk ditekan kuat-kuat, susuknya malah bengkok dan tidak mampu menembus kulit. Ketika ditanya moderator, peserta seminar itu ketahuan mengenakan rompi bertuliskan rajah dari huruf-huruf  Arab. Ketika rompi itu dilepas, proses memasukkan susuk berlangsung mudah.

Saya menyimpulkan, susuk itu memiliki keunikan. Mulai dari proses memasukkannya dan ketika benda itu berada dalam kulit. Saya membandingkan jika kesusupen (kemasukan benda kecil), serpihan kayu atau kaca, sakitnya yang luar biasa, bahkan bisa menngakibatkan terjadinya infeksi.

Perpaduan

Dalam pengamatan saya, susuk itu teknik memadukan antara teknik sugesti dan metafisika. Melalui sarana susuk, bangkitnya rasa percaya diri itu lebih cepat, karena orang yang dipasang  melihat dan merasakan proses masuknya benda dalam tubuhnya.

Ini berbeda dengan proses penyaluran energi yang bersifat supranatural. Karena metode “pengisian”-nya tidak tampak oleh mata, hingga perlu waktu untuk mencapai taraf yakin. Begitu halnya memasukkan benda  melalui minuman atau makanan bisa menimbulkan prasangka bahwa saat  BAB atau ke kamar kecil, bendanya pun “lebur” dan ikut keluar.

Kelebihan dari susuk, karena yang diisi itu tahu dan merasa dalam tubuhnya ada benda yang dimasukkan, maka cara ini lebih mudah diterima. Jika dikaitkan dengan ilmu hikmah, ini termasuk ainul yakin yang menjadikan hati menjadi haqqul yakin.

Susuk juga bisa disebut piyandel atau sarana menjadi  kendel (percaya diri). Orang yang sudah memiliki keyakinan, saat menghadapi persoalan, dia lebih percaya diri. Sedangkan dari sisi supranatural, keampuhan susuk itu terkait power yang mengisi, dan juga jenis bahan yang diisikannya.

Jadi, terlepas dari keampuhan metafisis, keyakinan seseorang itu  menjadi pemicu power tersendiri yang tak bisa diremehkan. Terbukti, beberapa pesepakbola kampung yang minder karena akan berhadapan lawan tangguh pada partai final, saat mereka datang ke rumah dan memaksa saya memasang susuk jelang pertandingan.

Hasilnya? Saat di lapangan, mereka main luar biasa. Padahal, yang saya tunjukkan mereka sebelum pengisian itu bukan susuk, melainkan potongan serabut kabel. Begitu tahu saya kerjain, mereka pada tertawa.

Gambar aura (ilustrasi)

Susuk dan Mitosnya

Oleh kalangan awam, susuk dianggap kontroversial. Bahkan ada mitos, pemakai susuk kelak menjelang ajal akan menemui kesulitan. Sedangkan dari kalangan ahli hikmah, sebagian berpendapat, lelaki tidak diperkenankan mengenakan susuk, terutama susuk dari bahan emas.

Namun pendapat lain mengatakan, memakai susuk diperbolehkan sepanjang ada niat baik. Misalnya untuk sarana pengobatan dan keselamatan yang disertai  menyandarkan bahwa pemberi keselamatan adalah Tuhan, sedangkan susuk hanya sebagai sarana.

Ada juga pendapat, susuk itu “bebas nilai” karena secara alamiah bahan dari emas itu walau tanpa dibacakan doa-doa pun sudah memiliki energi positif. Sedangkan  mitos susuk dapat merintangi perjalanan keluarnya ruh, masih terjadi silang pendapat.

Sebab, jika sudah berkaitan dengan ruh, maka pusaka, ilmu atau ajian yang “diselewengkan” pun juga diyakini bisa menyebabkan kesulitan dalam sakaratul maut. Karena itu, ada saran jika pemakai susuk itu sudah tua, lebih baik dilepas, karena jika seusia itu pikiran masih keruh, terkadang unsur lain bisa nimbrung pada susuk hingga menyebabkan malas ibadah dan amal kebajikan.

Ketentuan tersebut itu bukan hanya berlaku pada susuk. Apa pun itu, yang namanya pegangan, bahkan hizib atau amalan doa walau dirangkum  orang alim, jika yang mengamalkan jiwanya kotor, ilmunya juga berdampak buruk bagi kehidupannya akibat tidak seirama antara energi benda itu dengan jiwa yang memakainya.

Artinya, memakai susuk untuk tujuan kebaikan, diperbolehkan. Misalnya untuk pengobatan, kesehatan, keselamatan, karisma, namun sebisa mungkin menghindari memasukkan energi negatif pada benda, karena hal itu bisa menyebabkan terganggunya kesehatan jasmani maupun rohani.

Namun, untuk pemasangan susuk dengan cara yang baik, disertai niat baik, insya Allah aman. Bahkan bagi lelaki, memakai perhiasan dari bahan emas, atau mengenakan baju dari bahan sutra, jika hatinya tidak ada nafsu untuk kemewahan dunia, sebagian ulama memperbolehkan. Walau, ketentuan itu tidak berlaku umum.

Emas diyakini memiliki unsur alamiah yang sejuk dan mengayomi. Karena itu emas disenangi bangsa jin, bahkan ada kepercayaan emas juga biasa dijadikan tempat tinggal jin. Karena itu, sopir jarak jauh  banyak yang memakai perhiasan dari emas, tujuannya agar disenangi jin sehingga jin itu tidak mengganggu.

Para jin itu berada dialamnya sendiri, namun mereka perlu wilayah untuk tempat tinggal yang terhubung dengan dunia manusia. Misalnya, suatu benda yang di alam nyata wujudnya hanya batu kecil, tapi bagi kalangan jin itu bisa seperti wilayah satu desa.

Ada keyakinan, lelaki tidak diperkenankan memakai perhiasan emas. Namun secara alamiah emas memiliki energi positif, karena emas termasuk benda yang oleh kalangan jin sebagai tempat tinggal. Dengan memakai emas saat melintas jalan atau hutan yang banyak penghuninya dari jin jahat, maka jin itu tidak mengganggu. Wallau a’lam.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati