AWAL tahun 70-an, Pak Gimah, warga desa saya meninggal namun kemudian dia hidup kembali. Hal semaca itu biasa disebut mati suri.  Itu terjadi ketika warga sudah berdatangan untuk melayat dan saat akan dimandikan, buruh tani  yang biasa kerja memanggul ketela itu hidup kembali.

Lain hari dia bercerita bahwa selama “meninggal” itu dia merasa berjalan pada tanah lapang yang di situ hanya ada satu pohon rindang yang diperebutkan para pejalan kaki lain untuk berteduh.

Ketika ditanya pejalanan itu menuju tempat yang bagaimana, dia menjewab menuju arah kebun yang sangat indah. Namun, untuk menuju tempat itu, sebelumnya mereka harus melewati kubangan api warna merah kebiru-biruan dari dasar lubang  yang di dalamnya penuh tumpukan manusia yang menangis dan berteriak-teriak.

Ketika Pak Gimah sudah sampai pintu taman indah (surga?) oleh sosok lelaki besar yang berjaga, dia diberi hadiah sebutir batu hitam sebesar kelereng, dan setelah itu Pak Gimah disuruh kembali. Nah, saat dia berbalik arah, Pak Gimah dan para pelayat pun kaget. Ada orang mati hidup kembali.

Yang lebih mengagetkan keluarga dan para pelayat adalah telapak kaki Pak Gimah tampak bengkak dan mengalami luka bakar layaknya habis berjalan jauh. Keajaiban lain, pada telapak tangannya menggenggam batu hitam.

Makan Rasa

Setelah kejadian itu ada keajaiban lain yang dialaminya. Yaitu, pada  malam hari dia tidak pernah bisa tidur. Namun, dia tetap sehat bahkan tetap bekerja seperti biasanya, memikul ketela pada siang hari dan malam hari walau tidak bisa tidur,  dia tidak merasa lelah.

Selama 40 hari, setiap kali Pak Gimah ingin makan atau minum apa saja, misalnya dia ingin makan sate, roti, sayur atau buah apa saja maka tiba-tiba dia glegeken (bersendawa), dan setelah itu perutnya kenyang dan tambah sehat.

Sayangnya, karunia ajaib  macam itu pada hari keempat puluh sudah hilang, bersamaan dengan hilangnya batu hitam, sehingga Pak Gimah pun kembali menjadi manusia normal, yang lapar, ngantuk dan juga lelah saat memikul ketela.

Nah, berkaitan bidadari, bisa jadi di surga sana itu belum tentu yang bentuknya seperti bintang film. Boleh jadi, disana nanti itu hanya “rasa”-nya saja. Yaitu, di saat ingin “apa saja”, tahu-tahu sudah asyik, puas, atau kenyang jika dia ingin makan atau minum.

Saat mengisahkan pengalaman spiritualnya, buruh tani yang kemudian rajin beribadah, itu disaksikan tetangga beberapa sesepuh desa dan saya abadikan dengan rekaman.

Neraka Api Biru

Wawanca yang berlangsung lebih dari dua jam itu menjadi menarik  ketika ada bahasan tentang neraka. Menurut Pak Gimah, neraka yang paling panas itu yang warna apinya biru, sedangkan yang warna merah itu disebut api neraka biasa.

Ketika saya tanya, siksa yang berat itu ditimpakan pada manusia yang melakukan kejahatan dalam bentuk apa? Pak Gimah menyebut orang yang suka mengganggu istri orang, siksanya disana sangat berat.”

Kalau dalam kisah agama, neraka itu ada delapan jenis, yaitu: Neraka Hawiyah diperuntukkan bagi yang ringan timbangan amal baiknya dan orang mencari rezeki secara tidak halal, termasuk pemakan riba.

Neraka Huthamah bagi pengumpul harta, serakah, penghina orang miskin, yang berpaling dari agama,  tidak mau bersedekah dan membayar zakat. Neraka Jahanam neraka yang paling dalam dan berat siksaannya, tempat penyiksaan para pemuja atau pengikut setan.

Neraka Jahim tempat penyiksaan orang musyrik, yang menyekutukan Tuhan. Sesembahan mereka di dunia akan datang untuk menyiksa mereka. Neraka Lazza neraka yang mengelupaskan kulit kepala orang yang suka memanggil orang sambil membelakangi dan pengumpul harta haram.”

Neraka Sair  neraka tempat orang yang mengingkari Tuhan, dan yang memakan harta anak-anak yatim.  Neraka Saqar Tempat untuk orang-orang munafik yang mendustakan perintah Allah dan para Rasulul dan Neraka Wail tempat para pedagang curang, mengurangi timbangan, mencela barang dagangan orang untuk mendapatkan keuntungan berlipat.

Tentang Surga

Keterangan surga itu sebuah tempat yang lapang, teduh, subur, berisi tanaman hijau dan tanaman yang menghasilkan buah-buahan, terdapat sungai-sungai yang manis airnya melebihi air susu, dan bidadari-bidadari cantik itu, bisa jadi hanya simbol atau kias untuk yang menggambarkan kenikmatan yang Tuhan berikan pada hamba-Nya.

Sekitar 17 Tahun lalu, anak-anak yang biasa main di rumah, saat saya tanya kelak di surga pilih tempat yang bagaimana, tiga anak itu mengandaikan kondisi surga sesuai persepsi mereka.

Anak pertama menjawab pilih surga yang tanahnya lapang tanpa pepohonan agar dia bisa bebas bermain layang-layang. Anak kedua memimpikan surga yang punya sungai bening yang banyak ikannya agar bisa mancing sepuas-puasnya, sedangkan anak ketiga, pilihannya sederha, yaitu ingin tinggal rumah di surga yang dekat penyewaan PS atau Play Station.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati.