Suasana sholat Idul Adha di Perum Purnamandala Kelurahan Bumireso Wonosobo dengan protokol kesehatan. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO(SUARABARU.ID)– Suasana sholat Idul Adha 1441 H di Masjid Baitul Mujahidin RW 05 Perum Purnamandala Kelurahan Bumireso Wonosobo, Jumat (31/7), pagi tadi, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Karena ruang dalam masjid di lantai satu dan dua tidak cukup untuk menampung semua jamaah, sebagian peserta sholat, membikin shof di depan dan pinggir jalan Masjid Baitul Mujahidin dengan menggelar karpet dan sajadah sendiri-sendiri.

Karena masih dalam masa pandemi global Covid-19, semua jamaah sholat Idul Adha, mengenakan masker. Shof jamaah juga renggang untuk memenuhi protokol kesehatan Covid-19 yakni psysical distancing (jaga jarak) antar jamaah.

Setelah sholat Idul Adha juga tidak ada acara saling berjabat tangan, seperti pelaksanaan sholat Idul Adha, tahun 2019 lalu, sebelum ada wabah virus Corona. Usai sholat selesai jamaah langsung membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing.

Anjuran Pemerintah

Sapi qurban yang siap disembelih Takmir Masjid Baitul Mujahidin Perum Purnamandala Kelurahan Bumireso Wonosobo. Foto : SB/Muharno Zarka

Ketua Takmir Masjid Baitul Mujahidin, H Ngumar, Jumat (31/7), pagi ini, mengatakan protokol kesehatan Covid-19 diterapkan secara ketat, guna mengantisipasi penularan dan penyebaran virus Corona pada jamaah.

“Sudah sejak awal sosialisasi protokol kesehatan Covid-19 disampaikan pada jamaah. Sehingga saat pelaksanaan sholat Idul Adha, semua warga mengenakan masker, jaga jarak dan tidak bersalaman usai sholat Idul Adha,” katanya.

Pada Idul Adul Adha kali ini, Masjid Baitul Mujahidin Perum Purnamandala, menyembelih sapi qurban 5 ekor, kambing 14 ekor dan aqiqoh 3 ekor kambing. Setelah sholat Idul Adha, langsung dilakukan penyembelihan hewan qurban.

Bertindak sebagai khotib dalam sholat Idul Adha di Masjid Baitul Mujahidin, adalah Dr Nurul Mubin MSi, dosen Universitas Sains Al Quran (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo. Beliau penyampaikan sejarah Nabi Ibrahim menyembelih putranya, Nabi Ismail dan hikmah dibalik kejadian tersebut.

Muharno Zarka-Wahyu