Para relawan Cekathil Kudus yang harus memakamkan jenazah pasien Covid-19 hingga dini hari termasuk di malam takbiran idul Adha. foto:Tim Cekathil/Suarabaru.id

KUDUS (SUARABARU.ID) – Perayaan Hari Raya Idul Adha tahun ini nampaknya akan memiliki kesan tersendiri bagi Relawan Pemulasaran dan Pemakaman Jenazah Covid-19 Kabupaten Kudus. Para relawan yang kerap disebut Tim Cekathil tersebut, harus memakamkan delapan jenazah Covid-19 tepat di malam takbiran.

“Ada delapan jenazah yang harus kami urus dan kuburkan tepat di malam takbiran,”kata Saiful Anas, salah satu personel tim Cekathil Kudus, Jumat (31/7).

Ya, bagi Anas, jumlah jenazah yang dimakamkan dalam waktu sehari memang bukan yang terbanyak. Namun, suasana malam takbiran membuat dirinya sempat menitikkan air mata haru saat melaksanakan tugasnya memandikan, memulasari hingga memakamkan para pasien yang meninggal akibat Covid-19 tersebut.

“Di saat orang-orang takbiran di masjid menyambut Idul Adha, kami masih harus melaksanakan tugas. Itu saja yang membuat kami terharu,”tandasnya.

Dikatakan Anas, prosedur jenazah pasien Covid-19 yang harus secepatnya dimakamkan, tentu tidak bisa membuat tim Cekathil bisa menunda-nunda tugasnya. Maka tak heran, untuk memakamkan delapan jenazah tersebut, tim harus rela bertugas sampai dini hari.

Menurutnya, pemakaman terakhir dilakukan persis pukul 02.30 WIB dini hari. Semuanya dilakukan dengan prosedur pemakaman Covid-19.

Dan yang lebih memprihatinkan, tepat di saat perayaan Idul Adha, Jumat (31/7),  panggilan untuk memakamkan jenazah pasien yang meninggal kembali datang.

“Baru saja sampai di rumah dan selesai shalat Ied, datang kabar ada dua lagi pasien yang meninggal. Jadi ya tidak sempat merayakan Idul Adha apalagi nyate atau menikmati daging kurban,”ujar Anas yang memiliki spesifikasi memandikan jenazah pasien Covid-19 tersebut.

Kondisi tersebut, kata Anas, sudah terjadi hampir lima hari belakangan. Di saat para relawan hendak pulang usai bertugas, ternyata ada panggilan telepon lagi yang mengabarkan ada pasien yang meninggal.

Meski tenaga harus terkuras dan kondisi fisik yang kecapaian, mantan Ketua IPNU Kabupaten Kudus tersebut mengaku tetap berusaha menjalankan tugasnya dengan baik. Baginya, mengurusi jenazah pasien Covid-19 merupakan ladang amal tersendiri.

Perhatian Pemerintah Daerah

Sementara, Mbah Bejo, personel tim Cekathil lain mengaku cukup prihatin dengan masih tingginya angka kematian akibat Covid-19 di Kabupaten Kudus. Untuk itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk membantu pemerintah menekan penyebaran virus dengan menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan.

“Kami prihatin jika ada masyarakat yang menyepelekan dan menganggap Covid-19 hanya sebagai konspirasi,”tandasnya.

Di sisi lain, kata Mbah Bejo, pihaknya berharap perhatian lebih dari Pemerintah Daerah terutama Dinas Kesehatan terkait tugas mengurus dan memakamkan jenazah Covid-19.

Sebab, selama ini pemakaman jenazah pasien hanya dilakukan oleh relawan Cekathil yang notabene hanya ikut membantu pemerintah.

“Padahal, yang memiliki tugas dan kewajiban dalam hal ini adalah Dinas Kesehatan. Namun, fakta di lapangan, sangat jarang petugas Dinas yang ikut berperan dalam pemakaman pasien-pasien Covid-19  ini,”tandasnya.

Tm-Ab