Jenazah sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi saat hendak dimakamkan di dekat makam istri pertamanya , Fatima yang ada di sebelah timur rumah miliknya yang ada di Dusun Pabelan 1, Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Foto: Suarabaru.Id/ Yon

MAGELANG (SUARABARU.ID)– Sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi hingga akhir hayatnya  masih konsisten menekuni dunia sastra. Bahkan, saat sakit akibat jatuh di rumahnya di Dusun Pabelan 1, Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, penulis buku  Tahun-tahun Kematian (kumpulan cerpen, 1955) tersebut masih tekun menulis.

“Sehabis jatuh beberapa hari lalu, bapak membisikkan kepada saya ingin menulis sebuah esai yang diberi judul  ‘Menjadi Indonesia’ dan ide tersebut sudah ada di benak kepala bapak, tinggal menuliskannya. Dan, karena bapak sudah sepuh  saya ikut membantu mengetik karya bapak tersebut baru dapat delapan halaman,” kata salah satu putri Ajip Rosidi, Titis Nitiswari  kepada wartawan, Kamis ( 30/7).

Titis Nitiswari, putri bungsu Ajip Rosidi. Foto: Suarabaru.Id/ Yon

Menurutnya,  sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir pada  Rabu 29/7) sekitar pukul 22.30 WIB , ayahnya sempat dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) TIdar Magelang hampir sepekan Karena mengalami jatuh di rumahnya  dan mengalami pendarahan di otak. Kemudian pada Kamis (23/7) dilarikan ke RSU Tidar Magelang dan pada Sabtu (25/7) sempat dilakukan operasi akibat pendarahan tersebut.

Ia menambahkan,  selain mengalami pendarahan otak, sebelumnya ayahandanya tersebut juga sempat menderita beberapa penyakit, seperti stroke ringan dan juga  kanker. Titis mengatakan, sebagai sastrawan, ayahnya selain meninggalkan ratusan judul buku sastra, juga meninggalkan dua perpustakaa.

Perpustaakaan tersebut  satu ada di Bandung, Jawa Barat yang dijadikan perpustakaan umum dan satu lagi perpustakaan pribadi yang ada di rumah di Desa Pabelan. “Sepeninggal bapak, kami  mempunyai wacana  untuk memindahkan buku-buku yang ada di perpustakaan pribadi ke perpustakaan umum di Bandung. Namun, itu baru sekadar wacana, karena harus berembuk dengan keluarga,” ujar putri bungsu (Alm) Ajip Rosidi denganFatima, istri pertama Ajip.

Ia menambahkan, sebelum meninggal ayahnya juga berpesan bila meninggal untuk dimakamkan di pemakaman umum keluarga yang hanya berjarak beberapa meter di sebelah timur rumah ayahnya tersebut. Selain itu, makam tersebut berdampingan dengan istri pertama ayahnya, Fatima.

Upacara pemakaman dihadiri sejumlah rekan almarhum baik dari kalangan seniman, budayawan maupun lainnya. Para pelayat yang hadir di rumah duka harus menjalani protokol kesehatan seperti mencuci tangan sebelum masuk,  tempat duduk yang berjarak, bahkan dari pihak keluarga juga mempersiapkan masker yang diberikan bagi pelayat yang kebetulan tidak membawa masker.

Selain itu, bagi rekan maupun masyarakat setempat yang memberikan penghormatan terakhir dengan melakukan salat jenazah, dibagi dalam beberapa  kelompok. Hal itu dilakukan untuk menghindari kerumunan.

Sejumlah karangan bunga sebagai ungkapan duka cita memenuhi halaman rumah Ajip Rosidi. Dua diantaranya, ucapan duka cita tersebut berasal dari Gubernur DKI Jaya, Anies Baswedan dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

Ingin Bangun Pesantren

Oe Hong Djien , pemilik Museum OHD Kota Magelang. Foto: Suarabaru.Id/ Yon

Sementara itu, salah satu teman akrab almarhun, Oe Hong Djien (pemilik Museum OHD Kota  Magelang) mengaku sangat kehilangan salah satu teman akrabnya sekaligus “guru”-nya. “Di mata saya, Pak Ajip Rosidi merupakan salah satu teman yang sangat dekat sekaligus ‘guru’ saya,” kata Hong Djien yang juga seorang kolektor lukisan terkenal.

Hong Djien mengaku, dirinya bertemu untuk terakhir kalinya dengan Ajip Rosidi pada 3 Juli lalu dan ia mengungkapkan satu keinginannya  yang terakhir, yakni ingin membuat sebuah pondok pesantren. Dan, pondok pesantren yang dicita-citakan olehnya tersebut akan diberi nama “Nazar”.

Menurutnya, seorang Ajip Rosidi merupakan seorang yang idealis dan  salah satunya yakni ingin mendirikan pondok pesantren tersebut di lingkungan rumahnya. “Dalam hati saya, keinginan Ajip Rosidi tersebut sangat kuat dan saya optimis bisa terealisasi, meskipun usia sudah tua, tetapi semangatnya masih besar,” ujarnya.

Sementara itu, budayawan asal Mendut, Kabupaten Magelang, Sutanto menilai sosok seorang Ajip Rosidi merupakan seorang yang mempunyai prinsip yang  tegas. Dan karena, ketegasannya tersebut, Sutanto Mendut mengaku pernah dimarahi oleh Ajip Rosidi sebanyak tiga kali.

Sutanto Mendut, penggerak kesenian dan budayawan Magelang. Foto: ist

“Saya dimarahi pertama karena mengundang pada acara di Studio Mendut, karena tidak tepat waktu pelaksanaannya. Kemudian, dimarahi lagi karena Pak Ajip tidak berkenan saya mengajak WS Rendra untuk  datang ke rumahnya dan ketiga saat acara Borobudur Writers beberapa waktu lalu, saat Pak Ajip memberi sambutan tetapi  posisinya menghadap matahari,” kenang Tanto Mendut.

Ajip Rosidi yang  merupakan salah seorang pendiri Yayasan PDS HB Jassin di tahun 1977 silam ini, meninggal di usiaa 82 tahun. Ia meninggalkan istri Nani Wijaya, seorang aktris Indonesia, yang dinikahi setelah istri pertamanya meninggal, serta enam anak, 11 cucu, dan empat cicit.

Yon-trs