Ilustrasi. Foto: Ist

Amir Machmud NS
Kabar Kematian

sepilu itu desah dering panggilan
ada yang menghadap-Nya
pada subuh renta
lalu telepon pun bersigegas
menyuarakan lolong pedih
rintih kalimah pasrah
inna lillaah
al-faatihah

ada lagi yang mati
hari ini

catatlah rintih demi rintih
kematian demi kematian
duka lalu duka mengabarkan
jiwa lalu jiwa yang pergi
raga lalu raga tersemayamkan

ada yang meraung kehilangan
serasa makin pendek hari-hari menyertai
akrab dengan keniscayaan

sepedih itu rasa yang tak menduga
secepat itu kisah bergerak
membentang seribu kemungkinan

dalam bijak kesadaran
subuh ini dia terkabarkan
esok bisa kau yang tersampaikan
bisa pula mereka yang terumumkan
taklah usah menunggu waktu
hari ini bisa aku yang terberitakan.
(2020)

Amir Machmud NS
Rembulan Memanggilku

rembulan memanggilku
laksana lambai jemari
tipis melukis awan
pada temaram cahaya
gelimang resah menguntai
seolah kelu memikirkan
hari ini atau esok ku kan pergi

siapa kutanya kapan
sukmaku boleh datang
menjadi tamu yang bercengkerama
atau bermukim selamanya
di haribaan sajadah langit
atau memang telah tiba waktuku
menyaput semua hari lalu

langkahku di pendar ragu
tak bisakah kautunda panggilanmu
masih kulihat di catatan waktu
dalam gemintang dari cahaya
kuyakin bukan terang biasa
membimbing ruhku ke sana

kaukah yang terus mengisyaratkan
bahasa penantian
bahasa kematian
yang menyiapkan ujung jalan
dan kutahu aku takkan kembali
saat telah melangkah memasukinya.

kumau kau urungkan waktu
jangan, jangan sekarang
kupinta bersama jiwaku
bukan, bukan kutakut muara
yang menjangkau semesta
hanya karena kuraba
rembulan memintaku
buka, bukalah jendela
agar rumah yang kuhuni
bersambung lorong ke swargaloka.
(2020).