Zinedine Zidane. Foto: ist

Oleh Amir Machmud NS

//…kini kau seruduk barcelona// bukan dengan bara amarah// seperti kau tanduk materassi// dan madrid pun bakal berutang// tentang keabadian rekor// yang hanya kau memberikannya…// (Sajak “Keabadian Zidane”, 2020)

NYARIS tanpa “bla-bla-bla”, dia mencetak keabadian rekor, dan Real Madrid pun bakal abadi berutang kepadanya. Zinedine Yazid Zidane bukan sekadar warna di Santiago Bernabeu dan kini di markas baru Stadion Alfredo Di Stefano; katakanlah dia adalah Madrid itu sendiri…

Catatlah ini: trofi La Liga terbaru yang diraih musim ini melengkapi titel 2016-2017, Piala Super Spanyol 2017, UEFA Super Cup 2016 dan 2017, lalu yang paling fenomenal mencetak hattrick Liga Champions 2015-2016, 2016-2017, dan 2018-2019, juga dua Piala Dunia Antarklub 2016, 2017. Belum lagi sejumlah gelar yang dibendaharakan saat masih bermain untuk Los Blancos pada 2001-2006. Raihan trofi Liga Champions tiga musim berurutan menjadi catatan paling “gila” yang belum terjadi dalam sejarah Madrid.

Gelar tahun ini terasa makin berkesan, karena pada awal musim, langkah El Real cenderung tertatih-tatih. Tanpa Cristiano Ronaldo yang bergabung ke Juventus, Zidane seperti kesulitan menyetel skematika. Dia juga sempat diganggu pemberitaan mengenai pilihan taktik yang seolah-olah mengabaikan kebintangan Isco, Gareth Bale dan James Rodriguez.

Bahkan ketika kompetisi kembali diputar selepas jeda karena pandemi Covid-19, pasar taruhan masih menggunggulkan Barcelona. Akan tetapi, dalam posisi sebagai runner up klasemen, Madrid justru menunjukkan konsistensi dengan terus memenangi laga, sementara Barca terseok pada momen-momen menentukan.

Zidane menyikapi “el clasico yang sampai akhir” itu dengan caranya sendiri. Chemistry dua entitas, manusia dan klub itu mengetengahkan adonan unik. Bukankah Real Madrid dari dulu adalah representasi identitas sebuah komunitas yang “keras”, sedangkan Zidane dikenal sebagai “ballerina” lapangan hijau yang menyimbolisasikan performa kelembutan, kematangan, dan kejeniusan.

“Zidane tak perlu lagi membuktikan kepada siapa pun bahwa dia adalah pelatih hebat. Semua orang bisa sepakat, memenangi tiga Liga Champions berturut-turut sudah cukup. Lalu dia memenangkan La Liga,” puji Christian Karembeu, rekan Zidane di tim nasional Prancis seperti dikutip CNNIndonesia dari Spotskeeda.

*   *   *

KETENANGAN Zidane tampak ketika dia tidak mau terusik oleh tudingan bahwa Madrid banyak terbantu keputusan wasit yang memberikan serangkaian penalti. Zizou — demikian dia biasa dipanggil — tidak termakan mind game yang digoreng oleh para pesaingnya.

Kematangan emosi sebagai manajer inilah yang rupanya membedakan dari Zidane dalam final Piala Dunia 2006. Ketika itu dia terprovokasi oleh Marco Materazzi, dan dengan penuh amarah menanduk dada bek Italia itu. Dia dikartu merah, Prancis kalah dalam adu penalti, dan insiden itu selalu melekat setiap kali nama Zidane disebut.

Sikap cool sebagai pelatih membentuk Zidane punya pendirian kuat dalam taktik permainan. Hal terbaik sejak dia kembali ke Santiago Bernabeu pada 2019 — setelah sempat mengundurkan diri pada 2018 — adalah visi mengembalikan “aura” Los Merengues sebagai kekuatan yang ditakuti di La Liga. Sederet pelatih gagal mengemban misi itu.

Kali ini, dalam persaingan sampai ujung musim dengan Barcelona, Zidane “menanduk” dan menggeleparkan klub Catalonia itu dalam simbol rivalitas klasik Liga Spanyol. Madrid mencetak gelar ke-34, unggul jauh dari Barca yang 26 kali juara.

Seolah-olah Zizou menunjukkan tak bergantung pada Cristiano Ronaldo. Dia membahasakan filosofi kolegialitas antarlini. Pada saat yang bersamaan Zidane mengangkat level permainan Karim Benzema sebagai sumber utama gol, dan menaikkan performa aset masa depan Madrid, Vinicius Junior.

Pada awalnya Madrid memang mengalami “kecanggungan” tanpa Ronaldo, yang selama ini menjadi “raja” dan pusat permainan. Kesuksesan mendatangkan Eden Hazard dari Chelsea belum memberi pengaruh signifikan, karena pemain Belgia itu lebih banyak berkutat dengan cedera. Pada sisi lain, La Liga sempat kehilangan sinar ketika satu di antara dua cahaya — selain Lionel Messi — pergi.

Perlahan tapi pasti, kondisi bergantungan itu bisa ditutup oleh skema kolektif Zidane. Dia membuktikan, tidak keliru mempertahankan Benzema yang sejak 2018 santer akan dilepas oleh manajemen. Terutama pada laga-laga krusial pasca-jeda kompetisi, striker yang sudah lama tidak memperkuat tim nasional Prancis itu unjuk kesuburan. Hingga laga penentu juara melawan Real Villareal dua hari lalu, dia telah mencetak 21 gol, atau 26 gol di semua ajang. Pemain berdarah Aljazair itu terkesan lebih garang setelah kepergian Ronaldo.

Zidane adalah Galacticos yang tersisa dari era kejayaan sekumpulan manusia eksepsional Madrid yang diracik oleh Vicente Del Bosque pada 2000-2006, semacam The Dream AC Milan 1990-an. Madrid punya kekuatan serupa pada 2009 yang kini menyisakan Benzema dan Luka Modric, namun pasukan Zidane sekarang walaupun tidak dalam sebagai New Galacticos, secara tersirat juga menuju ke penobatan mediatika seperti itu.

Pelatih berwajah “pemikir” itu mengutamakan kolektivitas tim, meskipun dari pengalaman sebagai eks pemain terbaik dunia dia juga membutuhkan sosok-sosok pembeda seperti Eden Hazard, dan meminati sejumlah nama bintang: Paul Pogba, Kylian Mbappe, David Alaba, dan Kai Havertz.

Tak mudah membaca pikiran taktikal Zidane, kecuali siratan filosofi yang diam-diam meneguhkan kekuatan Madrid, yakni “ketenangan sikap untuk sebuah keyakinan menang”. Bukan dengan “menanduk” lawan, namun membuat lawan tergelepar tanpa tandukan. Dalam bahasa Lionel Messi, inkonsistensi Barca sendirilah yang seolah-olah “mempersilakan” Madrid meraih gelar.

Amir MAchmud NS, wartawan SUARABARU.ID, kolumnis olahraga, Ketua PWI Jateng