Herdina Lutfiani, bermonolog sebagai mahasiswa yang mengeluhkan kuliah online yang merepotkan. Foto: wied

PANDEMI atau pageblug corona memang punya dampak multidimensional yang sangat luar biasa. Ini bukan cuma persoalan kesehatan dan penyakit, tetapi masalah ekonomi, kebudayaan, keuangan, politik, pendidikan, dan semua bidang.

BACA TULISAN SEBELUMNYA

Monolog Pageblug Den Baguse Ngarsa, “Wahing Tempiling” 

Dalam babak kedua monolog ini, Herdina Lutfiani tampil sebagai mahasiswa yang menjadi serba repot karena harus menjalani kuliah online. Kuliah model era pandemi ini memang tidak menjadikan nyaman, baik bagi dosen maupun  mahasiswanya. Manusia memang ditakdir untuk bertemu secara fisik, berbincang langsung, saling memandang, dan sejenisnya.

Tetapi, mahasiswa anaknya Simbah ini harus berkutat dengan laptopnya. Dia harus jengkel kenapa dosen selalu saja memberinya tugas tidak pernah usai. Sampai-sampai neneknya bilang, bahwa kuliah itu memang tidak perlu. Kata nenek, kuliah itu sudah membayar kok malah mahasiswanya diberi tugas. Mestinya karena mahasiswa membayar justru dosennya yang harus diberi tugas.

Kuliah online juga menjadikan kantong seret, karena meskipun tak ada biaya transpor tetapi harus ada kuota internet agar bisa mengikuti kuliah secara penuh. Sementara kondisi orang tua pada masa pandemi, peghasilan pun menipis, sehingga dalam waktu seminggu kuota sudah habis. Mau minta duit untuk beli pulsa lagi, jawaban ibunya juga menyakitkan.

Wisben Antoro, tampil juga dalam monolog ini. Foto: Wied

Pandemi dan Krisis

Tampilnya komedian Wisben Antoro pada babak ketika, menjadi akhir monolog berjudul Wabah Rumah itu. Wisben memang bermonolog sebagaimana halnya dia seorang komik atau pemain stand up comedy. Dia menjaga pemis-premisnya untuk menghasilkan punch line dalam penampilannya.

Dia berperan sebagai mantu, yang harus merelakan barang-barang yang disayanginya dijual, karena tidak lagi ada penghasilan sebagai seorang seniman. Ada mahkota Arjuna saat dia berpean dalam wayang orang, kuku pancanaka sebagai pemeran Werkudara, blangkon sebagi pemain ketoprak, alat-alat dan buku sulap, serta keris peninggalan embahnya.

Ini juga sebuah gambaran, betapa krisis ini benar-benar merontokkan sendiri perekonomian masyarakat, terutama masyarakat bawah yang memang penghasilannya terbatas, tidak punya tabungan, dan sulit berusaha.

Kegelisahan Publik

Pentas daring bertema pageblug corona ini sebenarnya memberikan gambaran kepada kita, betapa masyarakat menjadi demikian terombang-ambing. Pada awal cerita,  digambarkan bagaimana masyarakat kemudian menjadi “keras” dan mengancam dengan istilah : “Wahing tempiling, watuk sadhuk, dan idu tinju”. Karena dicekam ketakutan oleh informasi yang simpang siur, maka warga pyn menunjukkan kemarahannya dengan verbal seperti itu.

Begitu pula dengan saran agar  berjemur, karena tubuh yang hangat menjadikan virus tak bisa hidup. Ketika orang ramai-ramai berjemur, maka ada informasi bahwa berjemur jam tertentu bisa mengakibatkan kanker, berjemur yang pas waktunya pukul sekian. Padahal Simbah sudah mengikuti sejak pukul delapan pagi, hingga akhirnya harus berjemur selama tiga jam.

Inilah yang memang kemudian terjadi di dalam masyarakat kita. Memborong disinfektan, bahkan ada disinfektan buat mandi. Ini kesalahan besar, karena disinfektan untuk buat benda mati, bukan buat makhluk hidup.

Pentas ini memang memberikan pesan, agar kita tidak selalu langsung percaya pada informasi yang belum jelas. Tetapi justru informasi yang tidak jelas itulah yang setiap hari kita terima, dan itulah yang kemudian menjadikan orang bingung, bahkan yang salah pun kemudian dipercaya sebagai kebenaran.

Inilah sebuah persembahan Susilo Nugroho yang memang tidak pernah berhenti berkarya, di usia yang semakin bertambah tua.

Bersambung ke tulisan ketiga  

Monolog Pageblug Den Baguse Ngarsa; Jangan ‘Mesakke’ pada Pelaku Seni

Widiyartono R