Drs. Susilo Nugroho yang dulu dikenal sebagai Den Baguse Ngarsa dalam monolog pageblug yang ditayangkan secara online lewat youtube. Foto: Wied

MALAM itu, saya sedang rapat di gereja. Tiba-tiba ada pesan melalui whatsapp masuk. Sempat kaget juga, dan tidak terbayangkan, bahwa pesan tersebut dikirim oleh Mas Susilo Nugroho, yang pada tahun 80-an moncer dengan perannya sebagai Den Baguse Ngarsa.

Drs. Susilo Nugroho

Rupanya, Mas Susilo masih menyimpan nomor saya. Kala itu dia pentas di gedung Grhadhika Bhakti Praja Gubernuran Jateng dalam acara natalan. Saya sempat berbincang kemudian minta nomor kontaknya, untuk bisa mengirim tulisan tentang pentas dan wawancara dengannya.

Pesan yang masuk, tidak ada kalimat atau pernyataan apa pun. Hanya sebuah link youtube dengan tajuk #pentasdaringseni Monolog Pageblug oleh Drs. Susilo Nugroho. Bagi saya ini kehormatan, ingatase saya kok ya masih dikontak oleh Mas Susilo, seniman senior yang sudah kondang dan tetap kreatif di masa sekarang.

BACA JUGA

Monolog Den Baguse Ngarsa Nyentil Kuliah Online

Saya jawab kiriman itu dengan tulisan, “Matur nuwun, Mas”. Kemudian dia menulis balasan, “Timbang mboten wonten kegiyatan”. Bagi saya, kiriman ini bukan sekadar hiburan yang harus dinikmati, sebab ada pesan-pesan yang disampaikan oleh Mas Susilo, terkait masa pandemi atau pageblug covid-19 saat ini.

Dan, inilah catatan dari monolog Mas Susilo yang dibantu dua temannya, seniman asal Yogya Wisben Antoro dan Herdina Anna Lutfiani. Saya tahu kalau salah satu pemainnya Wis Ben, pesulap yang juga pernah ikut audisi stand up comedy di teve nasional.

Sudah sekitar empat hampir lima bulan, kita tercekam oleh suasana pandemi akibat virus corona. Dan itu mengubah banyak hal. Dan, inilah yang menjadi ide Susilo Nugroho untuk membuat pentas secara daring (online) lewat youtube, yang didukung oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Wahing Tempiling

Dalam setting rumah Jawa, dengan kurungan burung perkutut tergantung, Simbah (Susilo Nugroho) menyeruput kopi. Dia mengawali monolognya dengan menuturkan, bahwa aturan di kampungnya kini sangat ketat. Ada spanduk dipasang dengan tulisan “wahing tempiling, watuk sadhuk, idu tinju” (bersin ditempeleng, batuk ditendang, meludah ditinju).

Kegelisahan tidak hanya ada di kampung, di luar rumah. Di dalam rumah sendiri, aturan juga tidak kalah ketat. Keluar tidak pakai amsker, ditegur oleh Satpol PP secara sopan, bahkan bsia diberi. “Kalau di rumah saya nggak pakai pakai masker, cucu saya … weee Simbah. Pingin cepet mati ya Mbah. Mati dulu ya nggak papa, tapi jangan merepotkan anak cucu,” ujar Susilo.

Sebagai orang tua, tentu saja dia merasa mak jleb. Apalagi sebagai kakek atau simbah, dalam tradisi budaya Jawa simbah itu sarwi disembah, dihormati. Tetapi oleh cucunya bahwa dibilang pingin cepet mati.

Dalam kondisi pageblug yang mencekam ini, Simbah memang tidak punya pembelaan. Anak, cucu, mantu, istri semuanya menekan, selalu menyalahkan. Maka, curhat pun mengalir. Ketika kecil dulu, Simbah Cuma dapat ceker kalau keluarga menyembelih ayam, sedangkan paha dan dhadha menthok untuk bapak. Alasannya, biar anak bisa ceker-ceker, berusaha untu mencari penghasilan dan penghidupan.

Ternyata setelah menikah, jatahnya masih ceker juga, karena sang istri bilang, paha dan dhadha menthok untuk anak-anak, biar perkembangan otaknya bagus dan jadi anak cerdas. Kini setelah menjadi kakek, kembali ke ceker juga, sarapan bubur dengan kaldu ceker.

Simbah adalah generasi ceker, tugas mengair=s rezeki, kerja keras, selalu di paling bawah, bodoh, dan penghasilan rendah.

Simpang-siur Informasi

Simbah merasa bahagia walaupun hanya sekadar generasi ceker, karena bisa punya rumah yang bisa digunkaan untuk berkeumpul bercengkerama, dan bersuka ria bersama istri, anak, mantu, cucu. Tetapi, rumah itu sekarang menjadi tidak nyaman, karena ada ketentuan jaga jarak, social distancing, physical distancing. Belum lagi aturan-aturan yang simpang siru membingungkan. Misalnya soal harus berjemur untuk menghindari corona. Banyak informasi yang menyebut berjemur bagus pukul delapan, sembilan, atau sepuluh. Sehingga dia harus berjemur selama tiga jam gara-gara informasi yang simpang siur itu.

Juga ketika Simbah pulang jalan pagi, pulang langsung dijemput istri, anak, mantu, cucu dengan APD (alat pelindung diri) lengkap yang siap memandikan Simbah. Ini gambaran ketakutan masyarakat yang sangat akut. Khawatir tertular virus dari jalanan.

Maka keluarga pun memborong sabun, hand sanitizer, empon-empon diborong memenuhi isi rumah. Ini juga sebuah gambaran kepanikan yang terjadi di dalam masyarakat kita. Lalu muncul lagi rumor bahwa virus bisa terbang, kemudian bisa hidup di burung. Maka burung perkutut kesayangannya pun dijual oleh mantunya. Padahal virus menular lewat droplet bukan airborne. (Bersambung di tulisan kedua)

Widiyartono R.

Tonton tayangannya di #pentasdaringseni Monolog Pageblug oleh Drs. Susilo Nugroho | Dinas Kebudayaan DIY