TAHUN 1996 teman saya membuka usaha warung sate dan gule di Surabaya. Awalnya laris, namun ketika dia sedang puyeng karena mengejar target mendapatkan uang untuk biaya pendaftaran sekolah kedua anaknya, justru saat itu omset warungnya tambah drop.

Karena dianggap darurat, dia ingin menyewakan kiosnya. Rencananya, sebagian uangnya untuk sewa kios baru di Kuta-Bali, dan sebagian lagi dimanfaatkan untuk keperluan pendaftaran sekolah kedua anaknya. Kios itu lalu diiklankan di sebuah harian, dan dua hari kemudian ada optik yang berminat menyewa dan langsung dibayar untuk masa kontrak dua tahun.

Karena optik baru akan menempati awal bulan depan, atau dua minggu kemudian, warung pun tetap buka seperti biasa. Anehnya, ketika dia berjualan dengan kondisi batin tenang, tanpa target,  justru omset warung itu melejit mendekati dua kali lipat dari pendapatan semula.

Kesimpulannya? Tenang dan tawakal adalah sarana mengundang rezeki yang tidak disangka-sangka. Dan uniknya, para pelanggan warung yang sudah lama tidak jajan disitu pada berdatangan, bahkan sebagian dari mereka bertanya, “Cak, apa sampeyan pakai dukun ya, kok tiba-tiba saya jadi ingat warung ini dan ingin jajan kesini lagi.

Aja Kemrungsung

Yang menjadi pertanyaan, kenapa disaat batin sedang kemrungsung mengejar target untuk mendapatkan uang yang lebih banyak, justru warungnya menjadi sepi sehingga dia kesulitan memenuhi target yang dikejar?

Untuk diketahui, saat kondisi batin sedang gugup, waswas, mengejar target, wajarlah jika aura, nur atau cahaya hoki itu menjadi meredup hingga omset warung pun menjadi kurang maksimal.

Sedangkan saat dia sudah mendapatkan uang untuk biaya pendidikan anak-anaknya, muncul kebahagiaan dan rasa syukur kepada-Nya, inilah yang mengubah keadaan. Karena apa yang terjadi di dalam diri, akan termanifestasi di luar juga.

Apa yang dilakukan pemilik warung untuk mengatasi problem yang dihadapi itu sudah benar. Dalam keterdesakan dia cepat bertindak, mengiklankan warungnya dan hasil sewa itu untuk kebutuhan yang mendesak dengan tetap menyelamatkan usahanya.

Kewajiban kita itu berniat baik, berpikir baik, berusaha baik dan belajar yang baik. Dan semuanya ini akan menciptakan indikator energi yang baik juga. Jika hasilnya baik, kita bersyukur, bila kebetulan kurang baik, kita perlu belajar lagi.

Karena itu, apakah nantinya berhasil baik atau kurang berhasil atau bahkan tidak baik, semuanya merupakan pelajaran dan pembelajaran, dan selalu ada hikmah dibalik semuanya itu, karena energi adalah indikator apa yang ada dalam jiwa kita.

Tenang, Ikhtiar, dan Tawakal

Dari sudut pandang spiritual, berkah itu kuncinya ada pada sabar yang disertai berusaha mewujudkan impian secara nyata, apapun hasil dan kemajuan yang diperoleh. Jadi, idealnya kedua konsep  menjemput atau “memburu” rezeki ala jabariyah dan muktazilah, itu sama-sama dijalani dan diyakini.

Disebutkan, Malaikat Mikail itu bekerja pada level energi. Dia membagikan rezeki secara adil dan merata pada alam semesta, dan itu akan ditangkap oleh manusia dengan kadar yang sesuai dengan suasana batin yang ditebarkan masing-masing hati dan pikirannya.

Dalam hal ini, pendekatan kalangan jabariyah terkesan “naif”, tidak melihat kesempatan dan peluang untuk bertindak dan kita tinggal menjalani, sedangkan qadariyah semua tergantung usaha kita. Jadi, tinggal pilih yang mana atau kita bisa berada di antara keduanya.

Karena saat terlampau cepat kita berlari, Malaikat keberuntungan pun tak sanggup mengejar kita. Namun demikian, Malaikat pembagi rezeki itu teramat baik, tidak pilih-pilih orang yang akan dibagi rezeki. Ibarat, walau zina dilarang, pelacur pun tetap dibagi rezeki.

Seribu Dinar

Karena itu, para ahli hikmah mengajarkan doa atau amalan yang berkaitan dengan kemudahan dan sekaligus keberkahan rezeki itu bukan dengan password yang memaksa, melainkan melalui amalan ritual yang menuju kepada tawakal kepada-Nya.

Di antaranya doa yang dimanfaatkan untuk “menarik” rezeki itu disebut Doa Seribu Dinar: Wa man yattaqillaaha yaj’al lahuu makhrojan, wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasibu, wa man yatawakkal’alallaahi fahuwa hasbuhuu, innallaaha baalighu amrihii, qad ja’alallaahu likulli syai in qadra.” (At-Talaq : 2-3)

Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

Selain “Doa Seribu Dinar” juag diajarkan doa pengusir resah. Nabi SAW bersabda “Perbanyaklah  membaca kalimat hauqalah: laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil adhiim, yaitu kalimat simpanan para ahli surga, dan di dalamnya terdapat  penyembuh dari 99 penyakit, dan yang paling ringan adalah penyakit resah”.

Karena dari batin yang damai itu menyebabkan berbagai keajaiban mudah mendekat. Hingga sesuatu yang tidak mungkin pun bisa terjadi karena kehendak-Nya.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati