LIMA BELAS tahun lalu, dalam sebuah acara, seorang motivator Indonesia,  mengatakan untuk melakukan terapi pada klien ketergantungan merokok, dia pasang tarif Rp 35.000.000. Semahal itukah? Ya. Dia menjelaskan, orang mau membayar sejumlah itu berarti dia punya motivasi yang sangat kuat untuk sembuh, karena itu setelah diterapi, hampir dipastikan sembuh.

Trainer lain mengatakan, peserta pelatihannya yang minta diskon, saat pelatihan banyak bicara dan setelah pelatihan, dia kurang memahami materi yang diajarkan. Rekan lain, tahun 2005 mengiklankan ramuan kewanitaan dengan tarif Rp 30.000 dan sepi membeli. Ketika tarifnya ditambah angka nol, menjadi Rp 300.000,  produknya justru banyak peminat.  Ternyata, banyak yang lebih mantap saat berurusan dengan tarif mahal.

Ranah Tradisonal 

Pada lingkup keilmuan tradisional, kita mengenal istilah mahar atau mas kawin. Menurut para guru, mahar itu diterapkan untuk kepentingan kedua  pihak: Guru perlu hidup, dan mahar itu sebagai seleksi kesungguhan dalam belajar.

Bentuk “pengorbanan” murid, dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Zaman dulu orang belajar ilmu walau tidak ada ketentuan membayar sejumlah uang, kesungguhannya terseleksi secara alami. Misalnya, untuk mendatangi kediaman guru, dia berjalan kaki berhari-hari.

Sampai kediaman guru, dia menghambakan diri sebagai cantrik : menyangkul di sawah, menimba air, mencari rumput untuk sapi, kuda  milik gurunya, dan setelah beberapa bulan, baru dipanggil guru dan diberi sepenggal mantra, wirid yang harus diamalkan, atau benda (jimat) sebagai piandel. Artinya, apa yang didapat itu melalui pengorbanan panjang.

Kini, zaman sudah berubah. Seleksi kesungguhan melalui  pengorbanan seperti nyantrik atau menghamba di rumah Guru itu sudah tak zamannya  lagi. Bentuk pengorbanan yang praktis ya melalui tarif resmi atau suka rela.

Apakah tradisi zaman itu bentuk dari komersialisasi ilmu? Penilaiannya kembali ke pribadi masing-masing, karena tradisi “mahal” itu sesungguhnya  ada pada setiap zaman. Bentuknya saja yang berbeda atau istilahnya dikemas dalam bentuk lain, misalnya jer basuki mawa bea, atau man jadda wa jada, menurut kalangan santri.

Mereka yang sepakat adanya tarif resmi itu punya argumen. Perumpamaannya, saat makan di rumah makan, calon pembeli lebih nyaman jika disitu ada tarif  resminya, sehingga mereka dapat  mengukur kemampuan saku sesuai menu yang dipilihnya. Justru ketika tidak ada tarif resmi, itu saat makan jadi “gelisah” khawatir nanti ada ongkos tambahan atau uangnya tidak cukup.

Analogi Bengkel

Dalam pepatah Jawa jer basuki mawa beya  artinya semua keberhasilan membutuhkan biaya. Begitu halnya dalam menuntut ilmu, karena dengan ilmu itu seseorang dimudahkan urusannya.

Ada kisah menarik berkaitan dengan luar biasanya suatu ilmu. Saat perang dunia ke-II ada satu mobil berisi tentara sekutu dikejar lawan. Pada saat genting, tiba-tiba mesin mobilnya mogok.

Untung dalam kondisi kritis itu ada pemuda desa yang ahli mekanik  membantu dan mengetahui penyebabnya, yaitu kran bensin itu kurang sempurna membukanya, dan ketika kran itu diputar sedikit menyebabkan mesin mobil itu hidup dan selamatlah mereka dari kejaran lawan.

Pada masa sudah aman, serombongan pasukan itu mencari pemuda desa yang pernah menolongnya. Setelah ketemu, mereka mengucapkan terima kasih. Dan sebagai hadiah, para serdadu itu memberikan uang pensiun mereka. Karena ilmunya, mereka selamat.

Karena itu, menerapkan tarif itu pun baik. Teman saya punya  pengalaman berharga.  Karena dia ingin  memagari rumah agar tidak diganggu pencuri, dia datang ke orang pintar. Olehnya, dia diminta kembali minggu depan. Pada pertemuan pertama itu dia bertanya berapa maharnya? Dan dijawab, “Sudahlah, nanti saja. Itu,  gampanglah.”

Minggu berikutnya saat dia datang, tuan rumah itu ternyata menyebut jumlah mahar yang lumayan tinggi untuk kalangan pedesaan hingga dia  merasa dipermalukan di hadapan tamu-tamu lain.

Karena itu, lebih baik jika yang berkaitan mahar, atau apalah istilahnya, itu dibahas di depan. Karena hakikatnya kita itu tidak membayar harga sebuah ilmu atau jasa. Karena ilmu itu tidak ada nilainya untuk diperbandingkan.

Yang dibayar itu ungkapan terima kasih atas jerih-payah guru dalam mengorbankan waktu, tenaga, dan ketulusan hati.

Masruri, praktisi dan konsultn  metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati.