Keluarga Soekarno M Noor nipak labet menjadi artis dan pekerja film seperrti Rano Karno dan Suti KArno. Foto: Dok-wied

Menurut keyakinan lama,  termasuk salah satu sumber keberkahan rezeki anak, itu jika dia memilih pekerjaan yang  mengikuti -atau setidaknya tidak jauh- dari profesi orangtuanya. Tradisi itu disebut nipak labet.

Saya termasuk yang melakukan tradisi ini. Awal tahun 80-an pertama kali saya merantau di Jakarta, saya bekerja sebagai pelukis dan desain grafis. 11 Tahun profesi itu saya jalani, namun duitnya menguap entah kemana. Dan ketika saya pilih pulang kampung dan alih profesi sebagai penulis, rezeki saya mulai mengumpul.

Awal tahun 90-an, saya pulang kampung dan alih profesi yang mendekati profesi ayah, yaitu menulis secara freelance. Aktivitas menulis itu  mendekati  profesi orang tua  yang pada tahun 1956 atau  setamat SMPP di Pati kota, Ayah yang saat itu berusia 20 tahun menjabat sebagai carik atau sekretaris desa.

Keberuntungan pun mendekat. Berawal dari menulis secara lepas, karena saat itu tenaga dalam sedang booming, kemudian menjadi kolom atau rubrik. Dua tahun kemudian isi rubrik itu kemudian menjadi buku yang terus berlanjut judul yang lain.

Nipak Labet

Dalam tradisi Jawa, apa yang saya alami ini disebut nipak labet atau mengikuti jejak orangtua.  Ayahnya sebagai “juru tulis” kemudian anaknya menjadi penulis. Ada kesamaan namun ada  peningkatan. Karena tulisan Ayah saat itu hanya untuk lingkup desa, sedangkan tulisan anaknya lebih luas cakupannya.

Fenomena ini pernah kami diskusikan dengan teman-teman dalam bentuk status di media sosial. Tentu ada pro – kontra. Ada teman menulis (komentar) dia mewarisi profesi Simbahnya di bidang pertanian, dan ilmu pijat dari Buyut. Diakui, profesi itu cepat berkembang karena ada tempat diskusi ketika ada masalah berkaitan dengan keilmuannya.

Ada juga pengakuan jenaka dari teman di dunia maya yang berprofesi jual beli mobil. Dia menulis (komentar): “Dulu,  Ayah saya jualan keliling mainan anak-anak ketika ada keramaian di desa – desa, misalnya  saat ada pentas wayang kulit, kethoprak, ludruk, dsb. Ada juga pengakuan kocak dari teman yang berprofesi sebagai hakim. Saat aku tanya apa profesi Ayahnya, dia menjawab, “ Ayahku dulu ahli membuat jok atau kursi mobil.”

Terkesan profesi itu tidak nyambung dengan profesi anaknya, namun setelah dianalisis ternyata ada keterkaitannya juga. Bedanya, Ayahnya pakai palu kecil dari besi, dan anaknya pakai palu yang lebih besar dari kayu saat mengetuk suatu keputusan hukum. Ada teman yang putra dari “Abdi Dalem” khususnya bagian mengurus lampu penerangan, dan anaknya kini menjadi pejabat di PLN.

Apa yang tertulis di atas ini adalah bagian dari nipak labet yang diyakini sebagai penarik energi berkah, terlebih lagi jika itu ditandai adanya peningkatan. Misalnya, Simbah dulu berprofesi  dukun suwuk, anaknya jadi mantri, cucunya jadi dokter dan cicitnya nanti menjadi dokter spesialis, dan seterusnya.

Tentang tradisi niapak labet ini, pernah dijadikan selingan (humor) dalam sebuah halaqah. Oleh penceramah dikisahkan santri yang setiap tanya kepada Ibunya tentang profesi almarhum Ayahnya, Sang Ibu selalu menangis dan tidak mau menjawab. Dan karena terus didesak, akhirnya Ibu itu mengatakan, Ayah dari santri itu dulunya pencuri.

Santri yang pernah mendengar keberkahan rezeki ketika seseorang melakukan nipak labet atau mengikuti profesi ayahnya kemudian ingin meniru ayahnya. Yaitu, suatu malam dia masuk rumah orang terkaya di desa yang dikenal bakhil.

Setelah berhasil membuka brankas uang, dia tidak ambil semua uang. Dia hanya niat mengambil 2,5 persen untuk nanti dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Karena menghitungnya lama dan hati-hati, menghitungnya baru selesai matahari terbit.

Aksi itu pun dipergoki tuan rumah. Ketika ditanya kenapa mencuri dan ada uang yang disisihkan, dia mengaku mau sedang menjalankan tradisi nipak labet ayahnya. Mendengan kejujuran anak muda itu, orang kaya yang bahil pun tersadar, bahkan dia minta santri itu mau dijadikan menantu untuk mengelola hartanya. (Catatan: Kisah ini tentu fiktif, hanya selingan ceramah agar hadirin tidak mengantuk)

Logis Bukan Pemaksaan

Jika diamati, konsep nipak labet itu termasuk cara terbaik dilihat dari sudut pandang seorang pengusaha karena ketika masih kecil, anak- anaknya sudah terbiasa terlibat dengan usaha orangtuanya, dan itu membuat si anak jadi lebih paham mengenai usaha itu.

Dan ketika waktu berlalu, minimal sudah ada orang yang mampu melanjutkan usaha tersebut, syukur lagi jika anak tersebut belajar lebih jauh tentang usaha orangtuanya dan atau malah mengembangkannya lebih jauh.

Seperti kita ketahui, membuat branding dan memiliki market yang stabil itu memerlukan waktu dan upaya yang tidak sedikit, selain itu kedekatan anak dan orangtua jadi lebih terjaga,  dan ini tentunya mengurangi banyak urusan yang saat ini justru lebih sering meribetkan manusia modern.

Misalnya perasaan stres karena tahu tidak ada yang membantu melanjutkan usaha yang sudah dirintis puluhan tahun, perasaan ditinggalkan sendiri karena anak-anak sibuk dengan usaha dan profesi sendiri, juga terjadi miskomunikasi ketika perbincangan orang tua dan anak terdapat perbedaan dasar dan sudut pandang yang jauh.

Selain itu, ada perasaan lebih senang orang tua karena tahu bahwa dia juga bisa membantu anak-anaknya disaat menghadapi kesulitan, karena dia punya pengalaman di bidang yang sama. Tradisi Nipak Labet itu ada sisi positifnya. Jika dia memilih atau meneruskan  profesi orangtua, berarti mentalnya sudah dipersiapkan sejak dini.

Seperti yang saya alami sendiri. Tahun 70-an ketika di desa belum ada anak-anak bisa mengetik, dalam usia 10 tahun saya sudah terampil mengetik. Hal itu karena saya sering membantu pekerjaan Ayah. Bukan hanya itu,  saat usia Madrasah saya sudah biasa membantu tetangga membuatkan surat undangan, membantu pekerjaan Ayah, mulai dari surat izin jual-beli hewan, termasuk order dari teman-teman sekolah yang ingin dituliskan surat cinta.

Klimaksnya, ketika saya mulai menulis buku,  saya merasakan manfaat dari tradisi “nipak labet” itu, karena saat menulis -dengan mesin ketik- pada zaman  itu sudah menjadi aktivitas keseharian saya.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwwak, Pati