Perayaan Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid-19 

Oleh:

Ira Alia Maerani

KETIKA Mudik Tak Tergantikan (Suara Baru, 9/6/2019) menjadi judul tulisan saya saat perayaan Idul Fitri 1440 H. Perayaan Idul Fitri tahun lalu, bandara udara, stasiun kereta api, terminal bus overload dengan jumlah penumpang. Antrian tiket terjadi dimana-mana.  Bahkan jalan tol pun terjadi antrian panjang. Berkilo-kilo meter. Harapan melewati jalan tol yang bebas hambatan hanyalah isapan jempol belaka. Kemacetan di jalan tol ketika itu, sulit teruraikan. Alhasil ketika keluar jalan tol, segera yang diburu adalah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) guna mengisi tanki kendaraan yang tersedot saat terjebak macet di tol. Maka terjadi antrian panjang pula di SPBU.

Serupa, tampak pula antrian panjang di toilet umum. Beberapa toilet umum bahkan kehabisan stok air bersih. Sehingga penjual minuman air minum dalam kemasan pun laris menjajakan dagangannya. Air minum dalam kemasan yang sejatinya diminum, beralih fungsi untuk dibawa serta bersih-bersih di toilet umum yang kehabisan air bersih. Itulah cerita mudik tahun lalu. Bagaimana tahun ini?

Pandemi Covid-19 mewabah seantero dunia. Jutaan manusia menjadi korban. Sejak akhir tahun 2019 hingga perayaan Idul Fitri 1441 H ini. Pandemi Covid-19 tak pernah terbayangkan oleh semua manusia di bumi. Terjadi perubahan pola hidup manusia secara dramatis. Termasuk tradisi silaturohim khas nusantara, mudik.

Khawatir terpapar virus corona, tradisi mudik  khas nusantara yang semula banyak pihak meragukan akan terkikis dari budaya rakyat pribumi, saat ini perlu berpikir bijak beribu kali. Ditambah beberapa kebijakan dengan berbagai istilah seperti Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM), isolasi wilayah, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), lockdown, isolasi terbatas dan seterusnya. Bahkan ancaman PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) bagi para pekerja/buruh yang ngeyel mudik juga.

Alhasil, perayaan lebaran tahun 2020 Masehi atau 1441 Hijriah ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tak terjadi penumpukan jumlah kendaraan di ruas-ruas jalan, minim kerumunan massa di area publik. Termasuk budaya bersalam-salaman pun sekarang tergantikan dengan fasilitas digital. 1 Syawal 1441 H adalah hari panen bagi perusahaan operator selular. Mengingat peran  mudik tatap muka diambil alih oleh mudik era digital. Saling sungkem, bertutur kata dan bersenda gurau via video call. Bagi anak muda alias anak zaman now bin mileneal bukan suatu hal baru video call ini.

Akan tetapi bagi sesepuh pinisepuh yang sudah lanjut usia, sedih bukan kepalang ketika anak kesayangan tak mudik ke kampung halaman. Sementara kepahaman mereka akan ilmu dan informasi soal virus corona terbatas.  Kangen akan dekapan sang buah hati yang mengadu nasib di rantau. Keinginan membelai kepala anak, menantu, cucu tak tertunaikan. Maka yang dapat dilakukan hanyalah menangis dalam deraian air mata. Dalam kasus ini, mudik tak tergantikan. Sehingga kebesaran jiwa pun dilakukan. Teriring do’a untuk senantiasa sabar dan berharap musibah segera berlalu. Seiring niat untuk tetap mewujudkan silaturohim sebagaimana Allah perintahkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa Ayat 1 untuk, ”…Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu meminta dan peliharalah hubungan silaturohim (kekeluargaan).”

Tampak yang berbeda juga pada saat sholat Idul Fitri. Tahun lalu selalu semarak. Jama’ah berdesak-desakan. Meski datang lebih awal ke masjid atau tanah lapang agar mendapat barisan dalam sholat (saf) terbaik. Jama’ah hadir dalam balutan baju terbaik. Keceriaan penuh senda gurau. Beramai-ramai berjalan  bersama seluruh anggota keluarga yang pulang ke kampung halaman. Saling bertegur sapa dan bersalam-salaman.

Tapi kini? Sebelum 1 Syawal beredar berbagai surat edaran, ajakan hingga tata cara melaksanakan Sholat Idul Fitri di rumah. Alhasil masjid tak seramai dulu. Masjid yang menjalankan sholat Idul Fitri pun menjalankan serangkaian protokol kesehatan. Seruan untuk menggunakan masker, tidak saling berjabat tangan, saf yang tidak berdekat-dekatan (berjarak sekitar 1 meter atau lebih), membawa sajadah (alas sholat) dan peralatan sholat dari rumah, hingga jamaah diminta melintasi bilik disinfektan.

Balutan masker membuat “jarak” tersendiri antar sesama jamaah. Tak ada lagi senyum kehangatan. Semua dalam kebisuan terbungkus masker. Masker membuat jamaah tak saling mengenali. Pun tidak saling berjabat tangan. Sangat dramatis. Dramatisnya kehidupan manusia dengan berbagai perubahan pola hidup di bumi teriring kesadaran bersama untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona, seiring do’a agar Sang Khalik mengangkat virus corona dari bumi ini. (Dr. Ira Alia Maerani, dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang)

Suarabaru.id