Pandemi Covid-19,

Kartini: Jangan Mengeluh 

Oleh:

Ira Alia Maerani

21 APRIL diperingati sebagai Hari Kartini. Penunjukan RA Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 108 Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964. Keputusan Presiden Ir. Soekarno ini juga menetapkan hari kelahiran RA Kartini, 21 April, sebagai Hari Kartini. Tonggak lahirnya emansipasi perempuan Indonesia.

“Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia,”bunyi salah satu bait lagu Ibu Kita Kartini karya W.R. Supratman. Di samping serentetan lirik lagu pujian untuk perempuan kelahiran Jepara, 21 April 1879. Julukan disematkan untuknya seperti: putri sejati, harum namanya, pendekar bangsa, pendekar kaumnya, putri yang mulia, putri jauhari, putri yang berjasa, putri yang suci, putri yang merdeka, putri yang mulia, pendekar kaum ibu, penyuluh budi, penyuluh bangsanya karena cintanya.

Kisah sang inspirator, RA Kartini, pun berkat mengaji dengan Kyai Sholeh Darat. Hingga Sang Santriwati menelorkan gagasan pada Sang Kyai yang dianggapnya mumpuni untuk menerjemahkan Al Qur’an dalam Bahasa Jawa agar mudah dipahami. Sehingga Kyai Sholeh Darat  menerjemahkan Al-Qur’an dalam huruf Arab pegon agar tidak dicurigai oleh penjajah Belanda yang masih mencengkeram jajahannya di  bumi pertiwi.

Tafsir terjemah Al-Qur’an berbahasa Jawa jilid 1 yang berisi surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim ini diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an dihadiahkan sebagai kado pernikahan RA Kartini dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang.

Melalui tafsir inilah menuntun nurani RA Kartini dan memperjalankan kepada Al Qur’an surat Al Baqoroh Ayat 257 yang mencamtumkan bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur). Kartini merasakan perubahan spiritual pada dirinya. “Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman).”

“Habis Gelap Terbitlah Cahaya” menjadi kalimat yang melegenda yang diulang-ulang oleh Kartini kepada sahabat-sahabat penanya di Belanda. Kemudian menginspirasi judul buku yang berisi surat-surat Kartini kepada mereka. Sebuah kalimat yang penuh nilai filosofi di dalamnya. Sebuah kalimat yang disinari oleh Nur Ilahi. Berabad-abad lamanya masih membekas dalam sanubari.

Termasuk yang melegenda yang kemudian viral di dunia maya saat ini adalah kata-kata bijak yang berasal dari RA Kartini dalam 30 quotes. Bahkan kata-kata bijak beliau sangat tepat sasaran di kala wabah pandemi covid-19 membayang. Sebuah kata-kata mutiara penuh pesan mendalam. Apakah itu?

Jangan Mengeluh

“Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang,”tulis sebuah media online diantara 30 quotes RA Kartini yang viral tersebut.

Seakan  RA Kartini ingin berpesan untuk kondisi saat ini, jangan mengeluh ketika pandemi belum kunjung usai.  Meski sudah  1 bulan lebih pandemi covid-19 mewabah di Indonesia. Dampak perekonomian begitu terasa. Ketika para ibu mulai mengeluh saat suami “dirumahkan” alias Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Terutama yang bekerja di sektor swasta. Sementara beberapa kebutuhan pokok mengalami kenaikan meski tidak signifikan. Kebutuhan logistik rumah tangga tak tergantikan. Ditambah  kenaikan beberapa sektor pengeluaran. Sementara pos pendapatan menurun drastis. Mau cari sambilan, aktivitas di luar dibatasi. Dengan berbagai istilah social distancing, physical distancing, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), lockdown, isolasi terbatas, isolasi wilayah dan lain-lain yang memiliki spesifikasi tertentu.

Kondisi ini membuat kita berpikir dengan kalimat RA Kartini berikutnya yang menyebut bahwa Tuhan tidak memberikan hal-hal buruk, akan tetapi kita sendirilah yang membuatnya datang. Kondisi dimana ada makhluk super kecil bernama virus corona hanya sekitar 150 nano, tidak bisa dilihat oleh mata langsung alias tidak terlihat bin ghaib, telah mampu memporakporandakan tatanan kehidupan manusia secara global. Menjadi pandemi yang begitu cepatnya. Membunuh jutaan manusia dalam waktu singkat. Apakah kondisi ini merupakan jawaban terhadap “kesombongan” segelintir manusia yang tidak percaya dengan hal-hal yang ghaib? Termasuk Tuhan dianggapnya ghaib. Karena tidak bisa ditangkap oleh panca indera. Maka Tuhan pun dianggap telah mati atau tidak ada. Kemudian isme (sekulerisme) ini didoktrin ke seluruh pelosok dunia sebagai yang paling benar? Dengan ditopang oleh kekuatan militer, ilmu dan teknologi, regulasi, dan perangkat pendukung lainnya. Termasuk bersekutu dengan negara-negara lain untuk menggolkan keinginannya. Bahkan melalui jalan kolonialisasi.

Di satu sisi, saat ini dunia juga sedang menikmati sesuatu yang juga ghaib yang bernama sinyal. Sinyal tak bisa dilihat, tidak ada aromanya, sulit dipegang, akan tetapi manfaatnya sangat dirasakan. Apa jadinya penerbangan jika tidak ada sinyal? Bisa terjadi traffic bahkan kecelakaan pesawat di angkasa.

Kuliah online (daring) yang saat ini getol digalakkan pun memanfaatkan sinyal. Menghubungi seseorang via telepon, video call, teleconference pasti membutuhkan sinyal. Hingga perang nuklir  pun menggunakan sinyal. Dari hal yang positif hingga negatif memanfaatkan sinyal yang tidak terlihat alias ghaib bagi  mereka penganut materialisme. Inikah jawaban terbantahkannya aliran mereka?   Dibuka tabir ini satu per satu dengan perantaraan teknologi. Guna menjawab ayat,”Nikmat Allah mana yang kalian ingkari,”

Bagi manusia yang beriman dan berpikir, kondisi ini bukanlah tanpa sepengetahuan Allah SWT. Jatuhnya daun kering dari pohonnya pun Allah SWT pasti mengetahuinya.  Meski berbagai teori konspirasi berseliweran di media sosial yang mengatakan bahwa virus merupakan rekayasa dan seterusnya.

Keyakinan bahwa semua makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian membuat kita tenang dan tidak panik dalam menghadapi keadaan. Terus bergantung dan memohon pertolongan pada Sang Khalik, Allah SWT, merupakan jalan terbaik. Di samping berikhtiar untuk menemukan “obat terbaik” bagi seluruh alam. Kehidupan akan terus berlangsung dengan izin Allah SWT dengan tetap sabar, ikhlas dan bertawakal pada-Nya. Wallahu a’lam bishowab. (Dr. Ira Alia Maerani, M.H., Dosen Fakultas Hukum UNISSULA, Semarang)

SUARABARU.ID

-->