Seniman dalang wayang kulit, Ki Eko Sunarsono.

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Ada yang menyebutkan, wabah virus corona identik dengan ganasnya Aji Candabirawa di perang Bratayuda versi kesenian wayang. Di Padang Kurukasetra, tempat perang besar itu berlangsung, banyak kematian yang disebabkan oleh ganasnya Aji Candabirawa milik Prabu Salya.

Demikian halnya dengan keganasan virus corona yang sekarang tengah melanda dunia, termasuk di Indonesia. Jumlah kematian manusia akibat serangan corona, makin hari makin bertambah banyak jumlahnya. Penyakit infeksi mematikan Corona Virus Disease (Covid)-19 yang disebabkan oleh Severe Acute Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) kini menjelma menjadi pembunuh ganas.

Seniman Dalang Ki Eko Sunarsono SSn, menyatakan, kalau ada yang mengidentikkan keganasan virus corona dengan Aji Candabirawa, kiranya itu memiliki kemiripan walau tidak sama. Eko, yang menjabat Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Wonogiri, menyebutkan, Candabirawa merupakan ajian milik Begawan Bagaspati yang diwariskan kepada menantunya, Narasoma, setelah berjanji setia memperistri putri tunggalnya, yakni Dewi Setyawati atau Dewi Pujawati.

Batara Antaboga
Itu terjadi, sebelum Narasoma menjadi Raja Mandraka bergelar Prabu Salyapati. Candabirawa, awalnya adalah selongsong kulit Batara Antaboga, yang nglungsungi (berganti kulit) setiap seribu tahun sekali. Oleh Batara Guru, selongsong tersebut dicipta menjadi naga yang mengerikan, dan diperintahkan untuk menyerang Begawan Bagaspati.

Namun oleh Bagaspati, pendeta berujud raksasa, Candabirawa dapat dikalahkan dan akhirnya berbalik setia mengabdi pada dirinya, dengan mengubah wujud maya menjadi raksasa kerdil. Ketika diminta bantuannya, raksasa kerdil yang maya ini, berubah menjadi nyata, dan sigap melakukan penyerangan dengan ganas.

Bila mendapatkan perlawanan, Candabirawa akan membelah dirinya dari satu menjadi dua, dari dua menjadi empat, dari empat menjadi delapan dan seterusnya seperti dalam kelipatan pada deret ukur ilmu matematika.

Senapati Astina
Saat Prabu Salya maju menjadi senapati Astina di perang Baratayuda, Aji Candabirawa menyerang dengan ganas kepada siapa saja yang dijumpainya. Menyikapi ganasnya amukan makhluk yang jumlahnya menjadi berlipat-lipat tersebut, Prabu Kresna sebagai titisan Batara Wisnu, memerintahkan Yudistira maju berperang untuk dapat mengalahkannya.

KRA Pranoto Adiningrat, budayawan Jawa penerima anugegrah bintang budaya.

”Mengapa harus aku yang maju ? ” ujar Yudhistira, yang melihat kemunculan berjuta-juta raksasa kerdil sedang menewaskan banyak prajurit di Kurukasetra. Yudhistira dibekali pusaka panah Cakra Bagaskara bermata cahaya oleh Kresna, untuk maju ke medan perang.

”Mengapa yang maju engkau, hai anakku Yudhistira ? Aku menginginkan yang melawanku adalah adikmu si Bima yang gagah perkasa, atau Arjuna yang mahir memanah,” kata Salya sembari meremehkan kemampuan perang si Yudistira.

Cakra Bagaskara
Senjata Cakra Bagaskara, dilesatkan tanpa semangat. Ajaib, panah itu justru melesat secepat kilat ketika terantuk tanah dan menghujam ke dada dan Prabu Salya, yang meremehkan kemampuan perang Yudhistira. Gugurlah Prabu Salya, bersamaan itu pasukan raksasa kredil pun menghentikan penyerangan dan musnah.

Budayawan Jawa, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, Aji Candabirawa tersebut memberikan makna filosofi yang mendalam bila dikaitkan dengan wabah corona saat ini. Pranoto, penerima anugerah Bintang Budaya, menyebutkan, untuk melawan wabah corona, jangan dilakukan dengan tindakan asal berani.

Tapi diperlukan tampilnya orang bijak bestari yang mampu memberikan solusi memakai akal, ilmu dan strategi. Di sisi lain, Pranoto, yang Abdi Dalem Keraton Surakarta ini, menyatakan, juga diperlukan hadirnya tokoh yang ahli, untuk merancang langkah cermat dan tindakan yang tepat.
Bambang Pur