Bagikan
Poster edukasi tentang wabah virus Corona dalam beberapa bahasa daerah, versi Jepelidi. Foto: dok/ist

Oleh: Made Dwi Adnjani

SAAT ini dunia sedang diguncang dengan Wabah virus Corona, yang menyebabkan banyak sekali kebingungan dan kepanikan. Beredarnya informasi tentang virus Covid-19 ini, menyebabkan keresahan dan kecemasan yang tinggi, khususnya di Indonesia.

Salah satu penyebab keresahan adalah, karena seringnya mengonsumsi informasi hoaks. Dalam kondisi krisis sekarang ini, penyebaran informasi yang belum tentu benar, menyebabkan masyarakat berada dalam situasi yang tidak menentu, padahal kebenaran dan keakuratan informasi menjadi acuan bagi masyarakat dalam bertindak.

Sumber informasi yang paling mudah diakses adalah media sosial. Namun kebiasaaan masyarakat yang jarang melakukan cek dan ricek terhadap kebenaran informasi, menyebabkan informasi hoaks terus berkembang.

Pemerintah melalui kementerian komunikasi dan informatika, selalu berupaya menginformasikan mengenai beberapa berita dan informasi yang masuk dalam kategori hoaks, namun massifnya peredaran informasi melalui media sosial ini, menyebabkan masyarakat selalu terpapar informasi hoaks secara berulang-ulang.

Di sisi lain, ternyata masih banyak yang justru kekurangan informasi seputar Covid-19, sehingga mereka belum menyadari cara untuk mencegah penyebaran virus ini. Belum lagi dengan adanya istilah-istilah baru, terkait virus Corona yang bermunculan dalam pandemic Covid-19 seperti lockdown, social distancing, ODP, PDP dan pandemik, yang sangat membingungkan bagi masyarakat awam.

Berbagai kegiatan pun dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut, dan salah satu kegiatan kolaborasi akademisi dari berbagai kota di Indonesia melalui Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi), yang menggelar kampanye sosial bertajuk Japelidi vs Hoaks Covid-19, dan mulai dilaksanakan pada 19 Maret 2020 lalu, memberikan warna baru dalam mengedukasi masyarakat melalui literasi digital.

Kolaborasi Akademisi dan masyarakat
Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) adalah Komunitas beranggotakan dosen, peneliti dan pegiat yang sangat peduli pada isu-isu literasi digital. Didirikan sejak tahun 2017, saat ini Japelidi beranggotakan 168 pegiat dari 78 Universitas atau Lembaga yang tersebar di 30 Kota, baik di dalam maupun luar negeri, karena saat ini ada beberapa anggota yang sedang menempuh pendidikan doctoral di Penang, London dan juga Australia.

Kekuatan Japelidi adalah pada keaktifan anggota-anggotanya yang tersebar di 30 kota di Indonesia, ketika berdiskusi untuk melakukan Kegiatan. Diawali dengan kegiatan penelitian kolaborasi di tahun 2017, dengan pemetaan gerakan literasi digital di institusi masing-masing. Kemudian di tahun 2018 dengan menerbitkan serial buku panduan literasi digital, dan di tahun 2019 kembali dilakukan penelitian, untuk mengetahui tingkat literasi digital masyarakat di Indonesia.

Untuk merespon permasalahan penyebaran informasi hoaks di Indonesia, dilakukan lah kolaborasi bersama secara internal maupun eksternal, dan kegiatan-kegiatan inilah yang menyebabkan Japelidi menjadi komunitas yang bertumbuh dan berkembang.

Tidak ada struktur organisasi, dan dalam setiap kegiatan selalu ada yang bertugas sebagi leader atau penanggung jawab. Siapa pun boleh berpastisipasi dan terlibat, sehingga koordinasi yang dilakukan selalu cair dan penuh kekeluargaan.

Melalui diskusi yang serius tapi santai inilah, dalam beberapa hari saja kegiatan pembuatan konten untuk poster sudah menjangkau beberapa daerah, dengan melakukan kerja sama dengan warga, mahasiswa, kegiatan ibu-ibu dan pemerintah daerah.

Dalam proses pembuatan konten dibagi dalam beberapa tim, yang bertugas mengumpulkan isi poster, dan menyaring isi serta membuat konten yang bernuansa positif, dengan bahasa yang mudah dipahami.

Ada tim yang bertugas membuat desain, tim kampanye untuk menyebarluaskan poster melalui online di twitter, insatgram dan WhatsApp maupun offline, melalui pembagian poster, hand sanitizer, sabun cuci tangan dan juga ada yang mengombinasikan dengan pembagian sembako. Tidak kalah pentingnya adalah, tim yang bertugas melakukan pendataan dan pengumpulan data, terkait semua perkembangan kegiatan kampanye ini.

Berawal dari masukan netizen yang membutuhkan konten jaga diri dan keluarga dari virus Covid-19 untuk menggunakan bahasa daerahnya, maka inisiatif untuk membuat bermacam-macam bahasa dari anggota Japelidi pun bermunculan. Poster dengan Bahasa daerah ini dibuat dengan pertimbangan, bahwa dengan menggunakan bahasa daerah akan menyentuh masyarakat yang lebih luas lagi.

Disamping itu juga, akan mempermudah pemahaman masyarakat untuk hal-hal apa yang harus dilakukan dalam menghadapi pandemic Covid-19 saat ini. Hingga tanggal 25 maret kemarin, poster dalam 42 bahasa daerah sudah disebarkan dan satu poster dengan Bahasa Indonesia serta satu poster dengan Bahasa Mandarin untuk konten Jaga diri dan jaga keluarga dari virus Corona.

Masih ada beberapa konten lain, seperti sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya, tips menemani anak belajar di rumah, UU Keterbukaan Informasi Publik terkait data pasien, tips belanja di pasar tradisional maupun pasar modern, dan masih banyak konten yang akan diproduksi setiap minggunya.

Antusias para anggota Japelidi ini ternyata mendapat respon positif dari warga, bahkan ada yang meminta untuk dibuat dalam bentuk spanduk dan dipasang di wilayah mereka tinggal. Japelidi juga mempersilakan masyarakat untuk memanfaatkan deain yang dibuat dalam berbagai bentuk, sehingga kolaborasi yang dilakukan menjadi lebih besar lagi.

Permintaan untuk beberapa bahasa daerah terus bermunculan, ditambah dengan publikasi di beberapa media Nasional, maupun media lokal, yang menyebabkan kegiatan kampanye ini menjadi massif, dan diketahui oleh berbagai pihak.

Liputan media dalam tiga hari mencapai 42 media lokal dan Nasional ini, menjadi pencapaian tersendiri dalam publikasi kegiatan Japelidi. Berbagai kerja sama dan kolaborasi pun terus dilakukan dengan banyak komunitas.

Salah satunya adalah jaringan Radio Komunitas Indonesia, yang memproduksi dalam bentuk audio. Kolaborasi dengan Siberkreasi Indonesia dan pemerintah seperti Kominfo dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga dilakukan. Semangat kolaborasi dan gotong royong sebagai jatidiri bangsa, nampak dalam kegiatan kampanye yang dilakukan ini.

Literasi Digital dan Komunikasi Islam
Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan media digital, membuat informasi dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat dan patuh hukum, dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Ada juga yang mendefinisikan literasi digital sebagai kemampuan menggunakan teknologi informasi untuk mengomunikasikan konten atau informasi dengan kecakapan kognitif dan teknikal.

Literasi Digital menurut Potter (2004, 2014), memiliki tiga elemen penting. Yang pertama yaitu kompetensi atau kecakapan yang harus dimiliki oleh individu ketika mengakses media baru. Elemen kedua adalah lokus personal yaitu individu yang berinteraksi dengan individu lain. Dalam hal ini konsekuensi sosial dari literasi digital menjadi penting. Literasi digital berguna ketika individu memerlukannya.

Dalam kondisi pandemic Covid-19, literasi tentang komunikasi bencana menjadi berguna untuk masyarakat yang tidak tahu tentang apa yang harus dilakukan dalam kondisi panik dan krisis, seperti sekarang ini. Dengan demikian, lokus personal juga memiliki konsekuensi sosial. Karena menurut Potter, tidak hanya berkaitan dengan diri individu, tetapi juga dengan individu ketika berinteraksi dengan individu lain dan komunitas.

Ketika berhadapan dengan media baru, individu dapat memiliki tiga posisi, yaitu indvidu yang termediasi, individu yang virtual dan individu yang berjaringan. Ini artinya, individu yang berbagi dan berkolaborasi dengan individu lain melalui media baru. (Bolter & Grusin, 1999).

Elemen ketiga menurut Porter yang tidak kalah pentingnya adalah, struktur pengetahuan. Karena literasi digital pada akhirnya akan menjadikan individu memiliki pengetahuan yang baik, mengenai informasi dan dunia sosial yang dijalaninya.

Kompetensi sebagai elemen penting dalam literasi digital oleh Japelidi, dipetakan menjadi sepuluh kompetensi, yang menjadi kekhasan Japelidi. Yaitu mengakses, menyeleksi, memahami, menganalisis, memverifikasi, mengevaluasi, mendistribusikan, memroduksi, berpartisipasi, dan berkolaborasi.

Kompetensi kolaborasi ini mengacu pada kemampuan untuk membuat konten di media baru, terutama berkaitan dengan pemahaman kritis dan mengacu pada nilai-nilai sosial budaya dan masalah ideologi. Kompetensi berpartisipasi dan berkolaborasi inilah yang menjadi ciri khas Japelidi, dan memiliki nilai yang tidak hanya bagi individu saja, tetapi juga berguna secara sosial.

Bila dikaitkan dengan komunikasi Islam, maka apa yang dilakukan oleh Japelidi sebagai sebuah komunitas dalam pembuatan poster jaga diri dan jaga keluarga menghadapi Covid-19 dalam ragam bahasa daerah ini adalah, perwujudan dari Qaulan Baligha, yang dilandasi oleh Quran Surat An-Nisa ayat 63.

Qaulan Baligha yang bisa diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi efektif. Qaulan Baligha juga dapat dipahami sebagai perkataaan yang dapat menyentuh dan berpengaruh pada hati sanubari yang diajak bicara. Artinya, bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi akan mempengaruhi tindakan dan perilakunya.

Para pakar juga menekankan, bahwa sebuah pesan bisa dinamakan Baligha ketika kalimatnya tidak bertele-tele. Kosakata pembentuk kalimat tidak asing bagi pendengaran, serta tidak berat ketika terdengar dan terdapat kesesuaian kandungan kalimat dan gaya bahasa, serta kesesuaian ucapan dengan tata bahasa yang berlaku.

Kiranya kolaborasi akademisi ini bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dalam upaya menguatkan kompetensi literasi digital masyarakat Indonesia.

Made Dwi Adnjani, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula dan Anggota Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here