Bagikan
Jadon Sancho. Foto: Ist

Oleh Amir Machmud NS

LAGA perdana musim 1995-1996 itu sungguh menyakitkan bagi Manchester United. Di Villa Park, Roy Keane dkk kalah 1-3 dari Aston Villa. Pandit sepak bola BBC, Alan Hansen memperparah keadaan dengan sentilan “nyelekit”. Legenda Liverpool itu mengolok-olok Alex Ferguson, “You can’t win anything with kids…”

Fergie dinilai terlalu berani menurunkan sederet pemain akademi, mulai dari dua bersaudara Gary dan Philipe Neville, Ryan Giggs, David Beckham, Paul Scholes, hingga Nicky Butt.

MU, yang mulai bangkit pada 1990 dalam masa kepelatihan Fergie sejak 1986, meremajakan tim secara ekstrem. Pelatih asal Skotlandia itu memang mendatangkan sejumlah bintang yang sudah matang, namun mata elangnya menangkap, young guns yang dipromosikan ke tim utama merupakan anak-anak masa depan MU.

Terbuktilah, Alan Hansen yang harus menanggung malu. MU menjuarai Liga Primer musim itu. Kalimatnya yang satiris pun kemudian populer dan laris sebagai pernik aksesoris merchandise MU.

Dengan konteks waktu dan rivalitas yang berbeda, kini Ole Gunnar Solskjaer juga menghadapi cibiran serupa. Keberaniannya mengusung “new kids on the block” ke tim utama dikritik tidak akan mendatangkan gelar bagi Setan Merah.

Pelatih asal Norwegia itu melakukan peremajaan tim dengan langgamnya sendiri. Mirip dengan gaya sang mentor Alex Ferguson, yakni mengoptimalkan mayoritas produk Akademi MU, di samping mendatangkan beberapa dari luar.

Inilah sederet pemain remaja di tim Solskjaer, yang beberapa di antaranya merupakan warisan dari pelatih sebelumnya. Marcus Rashford (22), Daniel James (22), Tahith Chong (20), Aaron Wan-Bissaka (22), Brandon Williams (19), Diogo Dolot (21), Nathan Bishop (20), Timothy Fosu-Mensah (22), Axel Tuanzebe (22), James Garner (19), Luca Ercolani (22), Di’shon Bernard (19), Max Taylor (20), Teden Mengi (17), Ethan Laird (18), Arnau Pigmal (19), Ethan Galbraith (18), Angel Gomes (19), Dylan Levitt (19), Aidan Barlow (20),  Mason Greenwood (18), Largie Ramazani (19), dan D’mani Mellor (19).

Solskjaer masih melengkapi taburan anak-anak itu dengan Noam Emeran (18), dan Hannibal Mejbri (16). Manajemen MU juga memproyeksikan Isaac Lihadji (17), Jude Bellingham (16), dan wonderkid Inggris Jadon Sancho (19). Untuk penyeimbang proyek peremajaannya, Solskjaer meminati kapten Aston Villa Jack Grealish (24), melengkapi produk rekrutmen matang Bruno Fernandes (25) dan Odion Ighalo (30).

Secara reguler, young gun yang sudah mengecap jam terbang bersama tim utama adalah Rashford, Wan-Bissaka, James, Dolot, Tuanzebe, Fosu-Mensah, Garner, dan Greenwood. Mereka ibarat “bunga” di tengah para senior seperti Harry Maguire, Victor Lindeloff, Eric Baillay, McTominay, Fernandes, Nemanja Matic, Anthony Martial, Fred, Jesse Lingard, atau Paul Pogba, andai gelandang yang semula menjadi harapan utama MU ini tidak bertahan di Old Trafford.

*  *  *

DI TENGAH mekar bunga-bunga segar itu, kini skema taktik Solskjaer bertumpu pada pilar-pilar David de Gea, Maguire, Matic, Fernandes, Rashford/ Martial. Keniscayaan memberi tempat penuh kepada sejumlah pemain muda lebih terbuka, sehingga pada musim depan mereka sudah menjadi mayoritas.

Andai Solskjaer sukses mendatangkan Jadon Sancho dari Borussia Dortmund — yang berarti memenangi persaingan transfer dengan Liverpool, Barcelona, Real Madrid, dan Chelsea –, komposisi solid MU akan lebih kaya alternatif.

Pada era Ferguson, kekuatan Setan Merah antara lain tereksplorasi lewat sektor sayap. Sejarah MU mencatat kontribusi pemain asal Ukraina Andre Kanchelskis, winger Swedia Jesper Blomqvist, sayap stylish Inggris Lee Sharpe, juga “Kereta Api Cepat” Karel Poborsky dari Ceko yang kurang bersinar.

Karakter bermain dengan menguak lebar lapangan ini didukung oleh bek-bek sayap hiperaktif. Secara regeneratif MU punya Paul Parker, Claytone Blackmore, Denis Irwin, Gary dan Philipe Neville, si kembar Rafael dan Fabio. Sementara itu, umpan-umpan silang David Beckham, dan tusukan sayap Cristiano Ronaldo juga menjadi bagian dari album kejayaan The Red Devils.

Mengapa Solskjaer ngotot mendapatkan Jadon Sancho, tentu karena dia butuh pilar dalam skema bermain yang berbasis kekuatan sayap. Wonderkid Inggris paling menonjol — di samping Tren Alexander-Arnold, Phil Foden, Mason Greenwood, dan Billy Gilmour — ini, tengah diperebutkan klub-klub besar.

Dari 90 laga bersama Dortmund, dia membukukan 31 gol dan 42 assist. Sepanjang musim yang tertunda karena pandemi virus Crona ini dia telah mencetak 17 gol dan 19 assist. Sancho produktif bukan hanya dalam eksekusi peluang, tetapi juga sebagai pengumpan jitu.

Produk Akademi Watford itu mendapat julukan “Neymar dari Inggris”. Gaya permainannya lebih mirip “sepak bola jalanan” yang instinktif. Sama dengan Neymar, gerakan-gerakan Sancho yang sulit ditebak sangat efektif dalam membuka pertahanan lawan.

Dalam satu dasawarsa ini, Inggris melahirkan penyerang sayap hebat. Salah satunya, yang menonjol tentu saja Raheem Sterling, eks Liverpool yang kini menjadi tulang punggung Manchester City.

Andai operasi transfer ini sukses, Sancho akan menjadi pembelian MU paling berprospek di samping Bruno Fernandes yang telah mampu menghidupkan lini tengah Pasukan Theater of Dream. Sektor sayap bakal lebih hidup. Rashford/ Martial bisa berkonsentrasi menjadi eksekutor, dan Greenwood serbaguna sebagai false nine.

Dalam proses pematangan, pelatih punya pertimbangan untuk “menjaga” agar para bintang muda itu tidak “matang sebentar lalu padam” karena faktor cedera, psikologi selebritas, atau pendekatan penahapan yang keliru. Sudah banyak kisah rising star yang terbenam karena “salah kelola”.

Jadi mengapa Phil Foden belum diberi jam terbang reguler oleh Pep Guardiola di Manchester City, Billy Gilmour dan Reece James masih sering dicadangkan oleh Frank Lampard di Chelsea, atau Gabriel Martinelli dijaga betul oleh Mikel Arteta di Arsenal, itu lantaran proses pematangan yang membutuhkan seni tersendiri. Sama seperti ketika Luis Cesar Menotti berhati-hati mempromosikan Diego Maradona ke tim utama, atau Carlos Alberto Parreira tidak serta merta menurunkan Ronado Luis Nazario ke skema inti Selecao.

Kalau pada 1995 Alan Hansen mengejek Alex Ferguson dengan para pemain remajanya, kini proses regenerasi di banyak klub justru menjadi tuntutan. Para wonderkid jadi rebutan. Pelatih seperti Solskjaer dan Lampard punya sikap tersendiri, bahwa kejayaan pada masa depan harus diraih dengan menyiapkan young guns.

Saat-saat sekarang Solskjaer dan Lampard seperti menjalankan konsep “proyek sunyi”, membangun kekuatan masa depan yang tak bisa langsung dinikmati hasilnya, namun mereka meyakini berada di jalur pikiran yang tepat.

Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru, kolumnis olahraga, Ketua PWI Jateng

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here