Bagikan
Anak-anak ini menyeberang jalan sambil matanya tertuju pada ponsel mereka. Foto: Ilustrasi

Oleh Gracella Christine

GLOBALISASI merupakan tatanan kehidupan yang secara global melibatkan seluruh umat manusia dan merasuki bidang-bidang penting kehidupan yaitu sosial-politik-ekonomi-budaya. Bisnis dan teknologi merupakan tulang punggungnya.

Perkembangan ini melahirkan internet sebagai revolusi akses dan budaya informasi. Awalnya, orang menggunakan alat komunikasi telepon ketika ingin menyampaikan informasi kepada orang lain, tetapi terkendala jarak. Smartphone kemudian menandai perkembangan teknologi informasi terkini yang memanjakan komunikasi antarmanusia.

Telepon pintar ini berfungsi sama dengan komputer. Tidak hanya bermenu telepon, tetapi juga dilengkapi dengan fasilitas internet. Orang pun seperti menggenggam dunia ketika memegangnya.

Smartphone mentransformasi kebiasan manual menjadi otomatis (online). Dengan fitur video call kita dapat face to face melalui layar ponsel dengan kerabat yang berjauhan. Juga memberikan ruang akses informasi dari semua belahan dunia. Makin banyak medium berekreasi seperti online game, dapat memesan tiket pesawat, hotel, dan belanja secara digital, serta berinteraksi melalui media sosial.

Kita pun tidak perlu susah-susah membawa laptop/ komputer untuk mendapatkan informasi. Semua kegiatan dapat kita pantau melalui telepon pibadi, dapat mengirimkan dokumen penting, dapat pula bertukar foto dalam hitungan menit.

Perilaku “Phubbing”

Di antara aneka kemudahan itu, tanpa disadari, smartphone menciptakan perilaku phubbing, singkatan dari phone dan snubbing, yaitu fenomena ketika seseorang mencueki orang sekitar karena terlalu asyik dengan ponselnya. Pelakunya disebut phubber.

Perilaku tersebut terindikasi menyakiti orang lain. Penelitian juga menemukan, banyak menghabiskan waktu dalam mengakses internet sama saja memotong waktu untuk berinteraksi dengan orang lain di dunia  nyata.

Phubber menggunakan ponsel sebagai pelarian untuk menghindari awkward silent. Seperti saat sedang antre, kita sibuk dengan telepon masing-masing tanpa mempedulikan orang sekitar. Banyak orang di sekitar adalah teman sendiri, namun kita lebih memilih memperhatikan benda mati daripada berinteraksi dengan mereka.

Perilaku ini bisa menjauhkan relasi, bahkan tanpa kita sadari sampai memutuskan komunikasi. Orang akan menjadi individualistis, bertolak belakang dengan budaya guyub mayarakat kita, yang saling membutuhkan dan bahu membahu.

Kecenderungannya, hampir semua golongan umur adalah phubbers. Ada fenomena kecanduan, yang bermula dari anggapan kegiatan di dunia maya lebih penting daripada dunia nyata, yang mengakibatkan orang sulit berkonsentrasi dalam bekerja dan bersosialisasi.

Jika perilaku ini tidak dibatasi, berpotensi menjadikan orang bersikap antisosial. Dia akan merasa kebutuhan sosialnya sudah terpenuhi oleh gadget dan media sosial.

Media sosial mulanya diciptakan sebagai inovasi agar penggunanya dapat membuat halaman situs pribadi dan dapat memuat hal apa pun tanpa mengeluarkan banyak uang dan tenaga. Namun perkembangannya, fungsi itu terhambat. Banyak yang menjadikan laman ini sebagai ajang pamer kelas sosial. Individu per individu unjuk kemewahan fasilitas di tempat kediaman mereka, juga berkembang berita bohong, lalu bully.

Cukup banyak konten kontroverial di media sosial, dan kita selalu memantau layanan-layanan tersebut. Tanpa disadari, banyak terpapar konten palsu. Yang terlihat adalah kesempurnaan orang lain, yang membuat kita insecure atau tidak percaya diri sendiri, kemudian mengubah perilaku sesuai dengan tren saat itu. Akhirnya, akan terlihat orang-orang seperti ini dengan moral yang rendah.

Media sosial sekarang menjadi controller bagi hampir semua orang. Kita pun menjadi kehilangan arah dari nilai-nilai yang kita percayai dari awal. Kondisi merasa terkontrol ini menyuburkan phubbing.

Durasi penggunaan ponsel mulai dari lima jam sampai hampir 24 jam. Keinginan agar tetap update, pamer pencapaian diri, hiburan, juga pengaruh lingkungan dan tuntutan akademik mendorong menggunakannya setiap saat. Hal ini menyebabkan seseorang mengalami kelelahan fisik (lelah, pusing, mual, mata pedih), juga menimbulkan gangguan kesehatan mental (tiba-tiba merasa sedih, depresi, bahkan tidak percaya diri).

Biang Kerok

Phubbing dapat menjadi “biang kerok” kerenggangan hubungan. Interaksi berubah tumpul, karena komunikasi tidak akan berjalan lancar jika salah satu lawan bicara kita selalu terfokus di ponsel mereka.

Orang yang punya masalah sosial dari awal, yang seharusnya melatih diri untuk lebih banyak bergaul, akhirnya akan makin menutup diri karena merasa hanya bisa bergaul di dunia maya.

Untuk mengurangi phubbing, terutama bagi yang kecanduan akut hingga merasa tertekan, dapat melakukan terapi kognitif perilaku. Terapi ini biasanya membantu orang yang terkena gangguan mental berupa stress atau depresi, sehingga dapat mengganti pikiran yang terdistrosi menjadi rasional, dan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut.

Phubbing dapat dicegah dengan membuat komitmen untuk tidak mendahulukan gadget ketimbang interaksi sosial. Jika masyarakat kita aware dalam melihat kebiasaan simpel yang merusak diri ini, kita dapat membangun tatanan masyarakat yang lebih berguna bagi sesama.

(Sumber: https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/jek/article/view/1060, Perilaku_Phubbing_Sebagai_Karakter_Remaja_Generasi.pdf; https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170714134144-277-227920/phubbing-fenomena-sosial-yang-merusak-hubungan).

— Gracella, Christine, mahasiswa, Fiskom, UKSW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here