Bagikan
Ilmu kebal. Sebagian orang, terutama laki-laki, memang banyak yang menginginkannya. Terlebih jika orang tersebut hidup di lingkungan yang keras.


Kajian tentang ilmu perlindungan diri (“Ilmu Kebal”) selalu menarik sepanjang zaman. Itu karena setiap makhluk hidup memiliki kecenderungan berkompetisi atau berkonflik. Karena itulah, rasa aman selalu diperlukan.

Semakin bertambahnya penghuni bumi, menimbulkan berbagai problem sosial. Persaingan hidup semakin keras, kesenjangan sosial semakin lebar, dan itu berdampak meningkatnya persentase orang-orang yang gelap mata akibat kecemburuan sosial atau keterdesakan agar mampu bertahan hidup.

Tindakan kriminal sering menggoda kelompok yang tidak tahan uji hingga sebagian dari mereka memilih jalur kriminal, karena itu teknik melindungi diri secara riil perlu diketahui, baik melalui jalur fisik atau metafisik.

Awal Keajaiban

Awal kali saya melihat lalu tertarik pada “keajaiban diluar logika” itu pada usia SLTP saat melihat pentas musik dang-dut. Di lokasi tersebut terjadi keributan. Aparat yang bertugas menjaga keamanan dijadikan sansak hidup oleh sekelompok penonton yang mabuk.

Kejadian itu berawal ketika MC memukul penonton yang naik panggung dengan botol yang menyebabkan penonton yang lain marah dan memburu MC itu. MC berusaha menyelamatkan diri masuk rumah yang punya hajatan. Polisi berusaha mencegah penonton yang akan masuk rumah, tetapi penonton yang sudah kalap mengancam, jika MC tidak dikeluarkan, rumah akan dibakar.

Mempertimbangkan risiko yang lebih besar, MC itu dibawa keluar. Seperti sudah diduga, MC langsung disergap masa. Beberapa petugas yang mencoba melindungi menjadi lemparan benda keras : kursi, batu, kayu hingga beberapa terluka dan pilih mundur.

Dalam kondisi mencekam itu ada satu petugas yang bertahan. MC diminta jongkok memegangi kedua kakinya dan polisi melindungi sambil memeluk tubuhnya. Akibatnya, Ppolisi itu menjadi sasaran lemparan kursi, kayu, botol, sepatu, dan sebagainya. Namun demikian, tidak ada luka memar atau berdarah.

Pertemuan Tak Sengaja

Dua puluh tahun kemudian, saat mencari narasumber untuk penulisan buku, saya bertemu Pak Polisi yang pernah menjadi sansak hidup dalam peristiwa kerusuhan pentas musik sebagaimana saya tulis didepan. Saat saya tanya apakah saat itu merasakan sakit? “Tidak.. seperti dilempar bola karet saja,” jawabnya.

Mungkin ada pertanyaan, apakah keajaiban “Ilmu kebal” itu ada garansi berhasil? Jawabnya, tidak tentu! Sebagai orang yang lama bergelut di bidang itu, saya pernah merasakan saat-saat “hoki” dan saat naas” dalam uji coba atau dalam kondisi terpaksa bela diri di luar gelanggang latihan.

Intinya, hal-hal yang bersifat metafisik itu tidak ada rumus pasti : 1 + 1 = 2. Terkadang hasilnya bisa 3 (tiga), 7 (tujuh) bahkan lebih, melampaui batas norma, namun terkadang hasilnya bisa 0 (nol) alias gagal.

Kenapa? Jangankan manusia, Nabi pun suatu saat pernah mengalami sakit dan luka. Dalam sebuah pertempuran, beliau pernah giginya tanggal, namun lain waktu tubuh beliau dapat memancarkan petir ketika akan dibunuh Syaibah bin ‘Utsman pada Perang Hunain.

Suatu saat Nabi mampu menghancurkan batu besar dengan tiga kali pukulan dalam perang khandaq. Padahal saat itu perut beliau belum terisi makanan selama tiga hari. Dalam kisah lain, beliau juga dapat “menghilang” saat akan dibunuh utusan Bani Amr, termasuk juga mampu menidurkan 10 pemuda yang ditugaskan untuk membunuhnya.

Asmak Malaikat

Di daerah saya berkembang ilmu kebal “Asmak Malaikat” yang diajarkan almarhum Mbah Ansori. Ilmu ini dikenal kalangan luas ketika beberapa siswanya yang mengekspos melalui dunia maya hingga ilmu ini dipelajari orang dari berbagai negara.

Mantra-mantra yang diajarkan sesepuh dari kalangan tradisional itu sebagian diyakini sebagai penjabaran dan atau arti dari rangkuman doa-doa perlindungan semacam hizib yang awalnya dirangkum oleh para Imam. Misalnya, Hizb Bahr dirangkum oleh Imam Bukhari, Hizb Nawawi oleh Imam Nawawi, dan sebagainya.

Orang Jawa (Baca: Indonesia) tentu tidak bisa meresapi maknanya jika mengamalkan bait–bait hizib yang berbahasa Arab, (kecuali kalangan pesantren). Karena itu, dari kalangan awam muncul pendapat lugu bahwa mantra berbahasa ibu (daerah) itu lebih ampuh. Pendapat ini bisa diterima karena saat mantra itu dibaca, bisa seirama antara lisan dengan hati.

Karena itu, orang Sunda lebih mudah memahami mantra yang kalimatnya mudah dimengerti maknanya, misalnya Hulu aing batu wulung, tarang aing batu karang… orang Jawa lebih familiar dengan mantra, … kulitku mustika argopatiwaja, kekuwatane ragaku mustika argopatiwaja, sedangkan para santri lebih merasa mantap membaca amalan berbahasa Arab, Allahummaj’al kullama ashaabani minalhadiidi maa’an saiilan, (Ya Allah, jadikanlah setiap yang menyetuh diriku dari besi, seperti air yang mengalir… ) dan seterusnya.

Secara umum, sekarang, para pengamal ilmu metafiska tidak mempermasalahkan proses dan bahasanya. Mereka lebih meyakini ilmu itu bagian dari ilmu Tuhan yang amat luas, diibaratkan, “Andaikan ditulis dengan tinta air lautan dan seluruh kayu digunakan sebagai pena, maka ilmu Tuhan itu tidak akan pernah habis.”

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here