DIKISAHKAN, suatu hari ada santri dikeroyok dua pemuda teler. Santri itu tidak pernah “nglakoni” (tirakat, puasa, mutih) dsb, dia hanya mengamalkan wirid atau bacaan doa-doa tertentu secara rutin. Dalam kejadian itu beberapa kali  hunjaman pisau tidak membuat santri itu terluka.

Seorang agamawan yang dikenal ahli hikmah -dan pernah jadi narasumber dan penulis kata  pengantar pada buku saya, saat saya tanya fenomena kebal yang dialami santri itu, beliau menjawab bahwa pada kejadian itu ada peran khodim atau biasa dikenal dengan istilah khodam.

Yaitu keberadaan makhluk metafisis yang disebut sebagai “sang penjaga” huruf-huruf dari suatu amalan yang terdapat pada amalan (wirid) atau mantra yang diamalkan para pelaku spiritual.

Peristiwa yang dialami santri yang terlindung dari bahaya itu menurut beliau  karena dijaga khadim dari wiridnya. Itu  berdasarkan implikasi dari QS. 41 : 30, 31. Dalam kandungan ayat itu difahami, seseorang yang membaca “RABBUNAALLAH” (saja) dengan istiqamah, maka pembacanya akan selalu dikawal atau dijaga oleh para Malaikat di dunia dan akhirat.

Apalagi jika yang dibaca lebih dari kalimat yang pendek itu. Karenanya, tidaklah mustahil jika para ahli wirid itu kemudian terkenal “jadug” dan atau sakti.

Menurut beliau, dari banyak literatur rujukan (ma-hidz muroja’ah seperti “Syamsul Ma’a-rif’, “Manba’u Ushuulil hikmah”, “Bughyatul Musytaaq”, masing-masing oleh Al-Imam Abul’Abbaas Ahmad bin ‘Ally Al-buuniy, “Tashiilul Manaafi” oleh : Abu ‘Abdillah ‘Utsman Adz-dzahabiy, “Aththibbu wal hikmah” oleh Jalaluddin As-suyuuthiy dan lain-lain, diketahui setiap huruf dari ayat-ayat Alquran, kalimah zikir, bahkan japa mantera, itu ada khadamnya, bisa berupa Malaikat atau Jin yang mereka itu ikut mendorong “manfaat” dari bacaan tersebut.

Karakter Huruf

Al-Imam Abul ‘Abbaas Al-Buuniy menerangkan dalam sebuah kitab tentang karakter pada huruf – huruf hija’iyyah, yaitu : Huruf yang memiliki karakter “kering dan panas” adalah : “Alif, haa, tha, syin, dzal.” Yang memiliki karakter “kering dan dingin” : “baa, zal, kaaf, nun, shad, taa, dhod.

Huruf yang memiliki karakter “basah dan panas” : “haa, zal, kaaf, siin, qof, tsaa, dha.” Sedangkan huruf  yang memiliki karakter “basah dan dingin” adalah “dal, jim, lam, ‘ain, ra, kha dan ghin.” Keempat karakter huruf-huruf  tersebut itu disesuaikan dengan watak – watak : Api, bumi/tanah, angin/udara dan air kemudian membuat “jimat”.

Apa yang dialami para pelaku spiritual menunjukkan betapa tak terbilang batasnya  ilmu Allah, bahkan Allah berfirman, “Qul lau kaanal bahru midaadan likalimaati rabbi lau ji-naa bimitslihii madada” QS. XIX : 109 (Katakan, andaikan samudra itu dawat (tinta) bagi menuliskan kalimat-kalimat (ilmu) Tuhanku, pasti habis air samudra itu sebelum tuntas kalimat-kalimat Tuhanku tertuliskan dan mesti ditambah semisal samudra yang sama seperti itu lagi.

Konsep Menabung

Selain pendapat di atas  yang mengaitkan adanya energi “Khadim” dari huruf-huruf,  ada keajaiban yang sengaja diupayakan dengan cara memprogram melalui olah batin dengan konsep “menabung energi” melalui amal kebajikan, berdoa disaat lapang atau aman yang sudah saya tulis pada seriual lain sebelumnya dengan menagih janji-Nya, “Siapa yang banyak mengingat (berdoa, zikir) disaat suka atau aman, maka disaat bahaya akan diingat atau dilindungi-Nya.

Karena itu, ada suatu kelompok yang dalam upayanya agar selalu mendapatkan perlindungan dari Allah, mereka tidak terpaku dengan bacaan atau amalan tertentu, karena kuncinya adalah ingat atau zikir yang  menyebabkan ia selalu ingat-Nya.

Tentu saja bukan sekedar ucapan nama-Nya, karena ingat yang sesungguhnya adalah ingat terhadap aturan dan hukum-hukum-Nya. Karena maunah atau pertolongan, perlindungan dari Tuhan itu lebih diperuntukkan bagi hamba yang yang memiliki timbangan amal baik lebih berat (banyak) dibanding dosa-dosanya.

Disebutkan, tenaga cadangan manusia yang bersifat insani bisa bangkit ketika seseorang dalam kondisi tertentu. Misalnya, orang mampu melompat pagar tinggi saat dikejar anjing, atau mampu mendobrak pintu yang terkunci ketika terperosok api kebakaran.

Bahkan ada pada zaman Bani Israil tentang anak muda penjaja kue bernama Meir. Dia pemuda miskin namun saleh. Ketika dia menjajakan kue ada putri bangsawan menjebaknya. Meir disuruh masuk rumah dan setelah di dalam,  pintu rumah dikunci. Meir diancam jika tidak mau melayani nafsu seks tuan  putri maka ia akan berteriak mengaku akan diperkosa.

Meir setuju, tetapi ia minta syarat agar diberi kesempatan mengambil air wudu. Permintaan itu diluluskan tuan putri, namun oleh Meir dimanfaatkan untuk naik ke loteng, untuk meloloskan diri. Sesampai di atas loteng Meir berdoa “Ya Allah, aku memilih terjun dari atas loteng daripada berbuat maksiat. Dan ketika ia meloncat ke tanah, Allah mengirim Malaikat untuk menyelamatkannya. Dan selamatlah penjaja roti itu.

Cekak Aos

Mungkin timbul pertanyaan. Kenapa para Guru sering kali mengajarkan doa atau wirid-wirid tertentu yang disertai dengan ketentuan jumlah hitungan. Misalnya, tiga, tujuh, 11, 21, 33, dan sebagainya.

Jika sekedar mengingat Allah (zikir) mengapa  amalan itu dibakukan bentuk dan caranya? Jawabnya, tugas guru itu membimbing siswanya. Sebab  jika tanpa diatur, “dosis” dan aturannya, jika pemula dibebaskan menetukan jumlah sendiri, selain bisa muncul kebimbangan, bisa jadi mereka akan memilih bilangan yang ringan.  Berbeda jika yang menentukan itu sosok panutan yang diyakininya.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here