Bagikan
Trance, ilustrasi.

FENOMENA trance atau keadaan terputus kesadaran dengan sekelilingnya itu unik dan belum mampu dijabarkan secara keseluruhan. Walaupun kesenian tradisional yang ada di negeri ini sering melibatkan atau bahkan mengeksploitasi trance sebagai daya tariknya.  Misalnya, permainan kuda lumping, barongan, akrobat, debus, dsb, itu identik dengan kekuatan supranatural.

Bukan hanya kalangan tradisional, dulu para santri secara sembunyi-sembunyi, terutama disaat kiainya sedang keluar atau ada uzur tidak mengajar, mereka lalu mereka bermain “setruman”. Yaitu permainan berbau mistis, melalui bacaan-bacaan tertentu disertai gerakan menempelkan kedua telapak tangan dan kedua ujung ibu jari menekan lobang hidup disertai bacaan tertentu, lalu  memutar badan berlawanan arah jarum jam.

Ketika pelaku setruman itu sudah melakukan beberapa putaran, mereka pun mengalami trance. Dan pada saat itu dia sangat sugestif dengan suara atau sugesti yang didengarkan. Misalnya, saat teman-temannya berkata: macan,  monyet, maka pelaku setruman itu pun melakukan gerakan seperti macan atau monyet.

Bahkan dalam tradisi setruman itu, jika ada yang mengatakan dua huruf tertentu, maka si pelaku itu bisa melakukan tindakan di luar kendali hingga berujung pada tindakan kalap yang membahayakan dirinya atau orang-orang yang ada di sekitarnya.

Yang masih saya ingat hingga kini, saat bermain setruman itu, ketika ada teman yang dalam kondisi trance bisa diperintah untuk menirukan penjaga gawang Persijap (Jepara) saat menangkap bola. Teman itu dengan gesitnya meloncot ke samping kanan.

Akibatnya, kepalanya menghantam tembok mushala lalu dia terjatuh ke lantai. Herannya, dia langsung berdiri dan dalam posisi siaga layaknya penjaga gawang profesional sambil (seolah) memegang bola.

Gerakannya di luar batas skill yang dimiliki anak seusianya.  Dan anehnya walau kepalanya barusan beradu dengan tembok, tiada ekspresi dan gerakan yang menunjukkan dia merasa kesakitan. Kasus lain, ketika ada santri kehilangan sandal di Masjid, ketika terjadi saling tuduh, anak yang paling peka lalu “disetrum” teman-temannya pada lokasi dimana sandal itu hilang. Dia disuruh menirukan gerakan yang mencuri sandal.

Dalam kondisi trance, dia bergerak mengambil sandal lalu berjalan ke arah selatan lalu diikuti teman-teman lain hingga akhirnya dia masuk rumah seseorang. Dan ketika rumah itu dimasuki bersama-sama, di situ ditemukan sandal yang hilang.

Sebenarnya, permainan yang menduplikasi gerakan-gerakan itu pada tahun 70-an di pedesaan sudah banyak dimainkan oleh anak-anak gembala. Disebutnya sebagai Pulik-Pulikan, sedangkan permainan serupa yang dimainkan kalangan para santri disebut setruman, kemudian pada era 90-an ketika olah pernapasan tenaga dalam mulai bermunculan, istilahnya berubah menjadi karomah.

Permainan yang dilakukan anak-anak desa itu tidak ada istilah mantra atau baca-bacaan khusus. Mereka cukup melakukan kesepakatan khusus dengan para “penunggu” tempat-tempat disekitar mereka bermain, biasanya pada tempat wingit.

Bagi anak gembala, prosesi yang dilakukan cukup dengan menanam kaki pemain sebatas lutut, dan setelah itu “pemain” disabet cambuk, dan setelah itu dia bertingkah semau-maunya. Dan puncak dari trance itu ditandai ketika mata sudah memerah atau saat terpejam total.

Sering kali  permainan ini ada yang sampai kebablasan. Ada anak gembala bernama Sakipan yang dalam kondisi trance (“kesurupan”), lalu berlari dan dia baru tersadar setelah sampai desa Pakis, Pati atau 20 km dari desanya, tempat dia semula bermain.

Pada era modern fenomena semacam tranche ala Santri maupun anak gembala itu  menjadi kelas pelatihan khusus. Di Indonesia, pelopornya adalah Kang Fadli Nur Haq (Tasikmalaya).  Salah satu kata kunci dalam keilmuan yang dinamakan Ngemat itu adalah “Semua Saling Terhubung”. Yaitu, ada keterhubungan yang disadari dan ada keterhubungan yang belum atau tidak disadari.

Ada yang sudah diberdayakan, dan ada yang belum diberdayakan, seperti halnya pikiran sadar dan bawah sadar. Dan untuk menjangkau keterhubungan yang belum atau tidak disadari itu perlu mengakses pikiran bawah sadar atau “trance”. Fenomena ini memang belum terpecahkan, namun layaknya menambang, semakin dalam semakin banyak sumber daya ditemukan. Pengalaman Kang Dedi, Lampung, yang mengaku tidak pernah belajar secara khusus keilmuan yang disebut Setruman atau Ngemat, namun pernah dalam kondisi “terdesak” pernah mengalami kejadian yang menurutnya dianggap sebagai keajaiban.

Yaitu, saat mau presentasi, dia bingung belum menemukan power point, dan kebetulan dia memang gaptek seputar masalah komputer, laptop , dsb. Karena pria kelahiran Jawa – Barat itu tidak begitu paham soal komputer karena urusan itu biasanya ditangani oleh tim yang saat itu sedang sakit.

Pada saat ia perlu persentasi dakwah menggunakan proyektor. Disaat kebingungan dia melakukan attention (pengamatan) terhadap keponakannya yang ahli dibidang komputer dari jarak jauh. Dan sesat kemudian dia mendapatkan ide atau pemahaman untuk membuat power point di laptop dengan hasil sempurna. Padahal aslinya Pak Ustad itu gaptek.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here