Bagikan

SUATU hari, saya kedatangan pembaca buku asal luar provinsi yang ingin pasang susuk. Dia minta saya mencarikan pakar yang ahli dibidang itu. Dia lalu saya ajak ke desa di pinggiran hutan jati. Informasi dari warga, para pemain sepak bola dari Club Divisi Utama juga memanfaatkan jasa orang tua itu.

Saat kami datang, tak ada tamu lain. Kami diterima di ruang praktik. Dan ketika prosesi pemasangan susuk akan dimulai, saya keluar menunggu di ruang tamu sambil mengamati gerak – gerik tuan rumah saat memasang susuk.

Ada yang mengundang kecurigaan. Ketika tuan rumah memegang dan memperlihatkan susuk kepada tamunya, sebelum dia berdiri memasang susuk, saya melihat ada gerakan tangan mencurigakan yang saya yakini itu gerakan menjatuhkan susuk ke kolong meja praktiknya.

Kecurigaan itu saya simpan, karena tidak enak jika teman yang saya ajak itu menjadi ragu atau kecewa. Untuk memastikan kecurigaan itu, setelah tamunya keluar, saya minta izin masuk ruang praktik dengan dalih ada yang ingin saya sampaikan.

Kepada tuan rumah, saya mengaku ada pejabat yang membutuhkan jimat : Pusaka, akik atau bentuk ageman lain yang bagus. Saya pancing dengan cara itu, tuan rumah tampak semangat. Dia lalu keluar ruangan menuju ruang dalam untuk mengambil beberapa koleksi berbagai benda magisnya.

Kesempatan itu saya manfaatkan untuk memotret kolong meja praktiknya. Ternyata? Saat saya lihat hasil fotonya, di bawah meja itu ada beberapa susuk berserakan. Dugaan saya benar bahwa susuk yang mestinya dimasukkan kulit itu dijatuhkan ke lantai.

Untuk sementara saya pilih diam. Sebab jika saya langsung buka rahasia saat itu, dampaknya kurang baik bagi tuan rumah dan juga tamu yang saya antar.

Tidak Kapok

Lain hari anak muda itu saya beri informasi adanya kemungkinan pengisian susuk yang kemarin itu hanya trik. Karena dia tipe petualangan, kegagalan itu tidak membuatnya kapok. Bahkan dia minta saya mencari info orang yang benar-benar pakar susuk.

Lain hari, ketika saya informasikan adanya ahli susuk yang lain, anak muda itu datang lagi. Agar kasus trik susuk dijatuhkan ke lantai tak terulang lagi, sebelum pemasangan, saya minta izin untuk mendokumentasikannya, dan permintaan itu diizinkan.

Untuk yang kedua kalinya,  pemasangan susuk mengalami kegagalan. Namun kali kedua itu penyebabnya beda. Yaitu, saat susuknya ditekan, tidak mampu menembus kulit anak muda itu. Bahkan ketika   menggunakan alat bantu tusuk konde, susuknya tetap tidak mampu masuk, bahkan bengkok.

Kenapa? Anak muda asal lereng Merapi yang kini teman Facebook itu tidak menyadari bahwa bagian akhir dari Surat At-Taubah yang rutin diamalkan sebagai wirid rutin, apalagi jika pengamalannya dengan jumlah yang “over dosis” jika energinya sedang aktif bisa menyebabkan benda tajam menjadi tumpul.

Susuk Sugesti

Susuk, dalam satu sisi bisa menjadi media sugesti yang mudah dipahami kalangan awam. Karena susuk itu berbentuk benda, dan itu diyakini menempel di dalam tubuh pemakainya, maka energinya diyakini selalu ada. Ini berbeda dengan doa atau mantra, karena sifatnya metafisik, jika orangnya sudah tidak lagi rutin membaca wirid atau mantranya, maka keyakinan terhadap energinya juga diyakini sudah hilang atau menipis.

Terlepas dari faktor metafisik, keberadaan susuk, pada zaman ini menurut pengamatan saya lebih dominan faktor sugesti dari pihak yang memakai. Kesimpulan itu berdasarkan pengamatan saya terhadap orang-orang yang pernah memasang susuk, namun oleh yang memasang, susuk itu dijatuhkan di bawah meja,  namun saat yang memakai itu saya tanya, testimoninya pun luar biasa ampuhnya.

Artinya, faktor sugesti pribadi lebih dominan, dan itu bisa dipahami dari sisi supranatural melalui  pendekatan ilmu yakin, Ana ‘inda dzonni abdi bi. “Sesungguhnya Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku.”

Karena itu, untuk menjaga “prasangka” atau keyakinan, sebagian para guru memberi pantangan pada orang yang diisinya. Misalnya, tidak boleh makan bagian dari buah pepaya, tidak boleh menerobos pagar, makan sate langsung dengan mulut, dan sebagainya. Tujuan pantangan itu agar orang yang pasang susuk itu tetap “merawat” susuknya, karena menjaga keyakinan berarti menjaga energi dari piandelnya.

Walau saya meyakini keampuhan susuk saat lebih identik dengan pendekatan keyakinan pihak yang memakainya, namun sesekali masih saya temui yang murni metafisik.

Misalnya, tahun 1980 dalam sebuah duel antaranak muda, saya melihat ada yang saat dihajar lawannya namun dia tetap berdiri, tanpa menghindar atau menangkis, dan saat tubuhnya dijadikan sansak hidup, setiap benturan tangan lawan dengan tubuhnya terdengar suara mirip benturan dengan benda keras. Tiada luka memar sedikit pun pada tubuhnya.

Namun ketika pihak penyerang berhenti sejenak, mengatur pernafasan dan melakukan gerakan jurus  mirip tenaga dalam lalu dia menyerang lagi, pukulannya masuk telak dan yang semula tahan pukul itu pun terjatuh.

 

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here