Bagikan

Suatu hari di tahun 1999 ada dua orang mengendarai motor mencari alamat seseorang yang dikenal sebagai orang pintar di sebuah desa kecil di daerah pesisir. Setelah sempat nyasar ke dukuh lain, akhirnya mereka menemukan rumah yang dicari, yaitu rumah sosok orang pintar. Kedua tamu itu, yang seorang berprofesi tukang ojek, dan penumpangnya seorang rentenir.

Setelah kesulitan menemukan alamat yang dituju, akhirnya mereka bertemu sosok guru spiritual yang dikenal memiliki pandangan mata batin sangat tajam. Dan bukti dari kesaktiannya, kedua tamu saat datang itu langsung disuruh ambil air wudhu, dan setelah diterima di ruang tamu, tukang ojek yang mengantarnya disuruh menunggu di luar, karena tuan rumah hanya ingin berbicara empat mata dengan tamunya.

Apa yang kemudian terjadi? Tamu itu benar-benar di-“kumbah” (cuci) bersih. Tuan rumah mampu menerawang siapa tamu yang baru pertama kali bertemu itu, dan bahkan hanya itu, dia juga mengetahui bagaimana cara tamunya mencari nafkah, yaitu memberi pinjaman uang kepada warga, dan bagi kalangan tenaga kerja yang akan ke luar negeri, perjanjian mengembalikan dua kali lipat. Istilahnya, “Nyilih pedhet, balik sapi.” (Pinjam anakan sapi, mengembalikan sapi dewasa).

Tamu yang berprofesi sebagai rentenir itu dinasihati tuan rumah untuk menghentikan praktek rentenirnya, sebab menurut pandangan mata batin tuan rumah, jika hal itu tidak dihentikan,  bukan hanya tamu itu saja yang akan kena musibah, keluarga yang ikut menikmati hasil kerja suaminya sebagai rentenir itu juga akan menerima imbasnya.

Menerima nasihat itu, tamunya ketakutan. Itu disebabkan tuan rumah yang tidak pernah melihat rumahnya itu ternyata  mengetahui siapa dirinya, bahkan mampu mengetahui hal-hal terkecil yang ada pada keluarganya. Mulai dari rumahnya menghadap arah mana, depan rumah ada tanaman apa, jumlah keluarganya, dsb.

Sepulang dari kediaman orang tua itu, praktik rentenirnya pun ditutup. Namun demikian dia masih tetap meminjami keluarga, atau warga tanpa imbalan bunga. Istilahnya, menolong. Karena dia memang mampu untuk melakukan itu.

Ilmu Sanjang

Di sebagain “orang pintar” teknik  menasihati atau menerawang orang seperti itu disebut “Ilmu Sanjang”. Sanjang dalam bahasa Jawa, artinya : berkata, berbicara, memberi info. Dan kasus rentenir yang diantar tukang ojek yang kemudian dinasihati dan diintimidasi, dan jika tidak bertobat, nanti biasa kualat.

Membaca sekilas, siapapun akan takjub, ternyata pada zaman ini masih ada orang yang memiliki indera keenam seperti itu. Namun Anda jangan heran. Otak dari bertemunya rentenir dengan “orang pintar” itu adalah saya (penulis). Pengojek itu sudah saya training bagaimana cara mainnya.

Teknik komunikasi macam itu dalam kondisi darurat, dapat dilakukan karena pada zaman akhir ini nasihat melalui pendekatan halal – haram, oleh sebagian orang kurang didengar, sedangkan melalui pendekatan budaya yang sesuai “minat dan bakat” -nya,  nasihat itu justru lebih mudah masuk.

Kejadian itu mengingatkan saat saya bertamu ke kediaman tetangga desa yang banyak didatangi orang-orang  dari luar kota untuk urusan supranatural. Saya sempat nguping pembicaraan mereka, untuk menangani pasien yang konsultasi itu, tamunya disarankan mencari kambing kendhit.

Ketika tamunya sudah pulang, tuan rumah saya tanya kenapa musti dengan syarat itu? Dijawabnya simpel, “ Saya mengikuti kecenderungan tamu yang datang itu senangnya model yang mana.”  Karena itu, teknik seperti “Ilmu Sanjang” pun suatu saat menjadi efektif  agar sugesti lebih mudah masuk. Karena tujuan dari tamu yang mendatangi orang pintar itu bukan hanya memburu keajaiban saja. Mereka juga perlu sarana yang  dapat menghiburnya dan  sekaligus membangkitkan sugestinya.

Selain dengan teknik “Ilmu Sanjang” ada juga teknik komunikasi ala nggampleng atau melempar (dalam kegelapan). Ibarat malam hari melempar buah mangga yang sedang berbuah, kadang jika beruntung bisa mengenai sasaran lalu buahnya jatuh, namun terkadang lemparannya tidak mengenai sasaran.

Teknik komunikasi menggunakan “bahasa umum” ini juga efektif untuk membangkitkan keyakinan tamu atau klien yang datang. Misalnya, ada tamu pebisnis. Ketika tamu belum mengutarakan problemnya, tuan rumah sudah mendahului. ”Ada seseorang yang sedang kurang berkenan sama sampeyan, kelihatannya berkaitan dengan urusan bisnis yang belum beres.”

Atau tebakan,”Kelihatannya dulu ada hubungan khusus sama seseorang, (lawan jenis) yang kini tidak berlanjut,  hingga ada pihak yang merasa kecewa dan sakit hati.” Dan kalau tamunya anak muda, nasihatnya biasanya :”Anda itu kalau dinasihati orangtua jangan suka membantah.”

Dulu, sebelum tahu teknik-teknik semacam itu, saya pernah mengidolakan seseorang yang saya anggap punya pandangan mata batin tajam. Bagaimana tidak? Awal kali bertemu, dia berkata,”Mas, sampeyan ini masih ada darah Lurah (Kepala Desa) ya?”  Saya pun membenarkan karena Simbah saya adalah lurah pertama pada zaman kemerdekaan.

Setelah saya amati, teknik komunikasi ala “setengah bertanya – setengah menebak” itu lumayan efektif untuk meyakinkan orang lain. Positifnya mudah untuk mengarahkan orang agar berbuat baik, negatifnya menimbulkan kultus, bahkan bisa mengarah kepada hal-hal yang tidak atau kurang terpuji. Misalnya,  ketika seseorang yang sangat mempercapai kewaskitaan seseorang, maka apapun yang dikatakan selalu dibenarkan, dan perintahnya pun diturutinya.

Intinya, ilmu, pengetahuan itu ibarat pisau yang dapat memberikan manfaat atau mudharat tergantung tangan siapa yang memegangnya. Pisau, ditangan juru masak bermanfaat untuk memotong (sayur, daging) dan ketika ditangan penjahat bisa menjadi alat untuk menodong.

Tinggal pilih yang mana? Silakan. Yang pasti semua perbuatan itu akan dipertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat nanti.

Masruri adalah pengamat dan konsultan metafisika, tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here